:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: Poem's, Lyric & Story: pembaca

.......

JAngan Pernah Melupakanku

~.~

My Blog

Tempat Share orang2 yang suka nulis n membaca, Tapi maaf ga bisa di Copy...

Ramalan Jodoh

Tampilkan postingan dengan label pembaca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembaca. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juni 2011

Yang Penting Jangan Bohong

Pengen dipercaya sama orang banyak,
Pengen gampang punya temen,
Pengen jalin suatu hubungan yang harmonis,
Pengen bahagia dunia akherat,

Kuncinya cuma satu, hilangkan budaya bohong..

Bohong awalnya terjadi hanya disaat keadaan tidak memungkinkan, yah keadaan terdesak dimana seseorang harus keluar dari jalur nyata keadaan sebenarnya dengan tujuan membela diri, tetapi bohong juga bisa menjadi suatu penyakit mendasar pada seseorang yang sulit untuk dihilangkan bila sudah menjadi kebiasaan.
Berbohong merupakan perbuatan yang paling mudah untuk dilakukan, sangat-sangat mudah, bahkan ini bisa jadikan suatu hobby bagi seseorang, orang yang sering berbohong termasuk kedalam kategori manusia-manusia yang berpikiran picik, otak yang kerdil, bukan seorang yang cakap.

Hidupnya hanya akan merasa tenang beberapa saat, yah beberapa saat setelah ia berhasil berbohong, namun penyesalannya akan terasa seumur hidup, bukankah sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai pasti baunya kecium juga.

Apa susahnya untuk berkata yang sebenarnya, toh, berkata jujur itu tidak susah juga tanpa tuntutan nantinya, ingat saat kita berbohong, sejuta kepercayaan hadir menghampiri, namun saat kejujuran terungkap, seluruh kepercayaan itu akan hilang tak berbekas, bahkan hanya cemooh dan cibiran yang tersisa.

Betapa merananya hidup seorang pembohong, setiap harinya hanya akan dibaluti rasa was-was, setiap tidurnya hanya ditemani rasa gelisah, setiap yang keluar dari mulutnya sampah tak ada guna lagi bahkan tak akan didengar orang.

Mulailah menjadi orang yang jujur, karena kejujuran itu akan memudahkan segalanya...
kalau tak percaya, coba buktikan sendiri... !!

Senin, 30 Mei 2011

Pengalaman Mengamalkan Surah Al-Jinn

Kejadian ini memang bukan baru-baru ini terjadi, kejadian ini dialami penulis sekitar kurang lebih dua tahun an yang lalu, malam ini penulis sengaja ingin berbagi pengalaman astral yang pernah dialami langsung oleh penulis.

Senin, 16 Mei 2011

7 Hari tanpa Facebook

Gara-gara ngikut Spam yang ga jelas, Facebook Ane ke blokir 7 hari.. (sabar-sabar)
Udah 2 kali ane ke blokir gini, halah nyesel dah ga bakal ngikut2 lagi spam yang ga jelas, tapi kayanya bakal ga seru hari-hari yang bakal dilewatin tanpa Facebook.
Tapi kalo ke blokirnya ga bisa dibuka lagi, halah ciloko ini namanya, orang-orang penting ane disono semua halllahhh gimana nih?

7 hari berarti seminggu, lama bener ya..
ngapa ga sehari aja,
musti selametin Notes di FB nih, pencegahan sebelum bener2 ga bisa dibuka lagi.

pesen ane, buat yang Facebook nya masih aman, jangan coba iseng2 sama pesan spam, bisa2 gawat akibatnya, ya kaya ane ini hehe (masih bisa nyengir juga)

hindari tips2 tipuan, inbox jadi2an dan sejenisnya.

oce segini dulu curhatan Ane..
semoga bisa dipetik pelajaran dari ini semua.


WASPADALAH !! WASPADALAH



Sabtu, 14 Mei 2011

MAKALAH PEMANFAATAN LIMBAH


         MAKALAH
     PEMANFAATAN LIMBAH








                                                                                           SAMPLE




             Disusun Oleh :
             …………………………………
             G. Bidang Studi :
             ……………………………………….
             B. Studi :
             ……………………………………………

   NAMA SEKOLAH DIISI DEWE’ YO 
             JL. LAGI DICETAK BELUM DIKASIH NAMA
                                Tahun 2011 

Senin, 18 April 2011

Buku "SUMPAH !! GUE SAYANG LO.

kabar-kabar
setelah tulisan-tulisan sebelumnya bisa diterima dipasaran, coba-coba untuk cari peruntungan ditulisan selanjutnya, harap tunggu tulisan terbaru siap dicetak dan Insyaallah akan segera terbit... mungkin awal Juni baru edar, sekarang dalam tahap perampungan, sabar yah :)(Njaluk Pandungane)

Sinopsis :

"Kehidupan Ferdi (20 tahun) pemuda rantau pkerja freelance juga pada sebuah tabloid remaja yang bertemu Ucok orang medan (21 tahun) yang rantau juga, akhirnya berdua menjadi sahabat, satu kost an. menjalani kehidupan di kota kembang Bandung, Ucok yang kurang beruntung karena nilai mata kuliah jeblok sampai-sampai diusir ibu kost nya sebab tidak bisa lunasi kost an selama 3 bulan, karena uangnya dipakai bayar mata kuliahnya yang di her.

lalu hadir Mona, perempuan muda cantik kira-kira 19 tahun, yang baik hati, diam-diam mempunyai rasa pada Ferdi, namun Ferdi tidak menganggap rasa yang telah Mona tunjukkan, Ferdi lebih memilih berteman.

dan Ani perempuan sintal teman satu kantor dengan Ferdi yang malu-malu menunjukkan rasa sukanya pada Ferdi, namun lagi-lagi Ferdi tidak menggubris dan menganggap biasa, kenangan pahit masa lalu Ferdi tentang percintaan membuatnya dingin terhadap wanita.
hingga suatu ketika Ferdi mengenal seorang perempuan lewat akun FB nya, perempuan itu bernama Vita, gadis maya itu telah membuat hati Ferdi sedikit terbuka tentang perlunya cinta dan pun mulai membuka hati kembali untuk merajut cinta, walau maya tetapi Ferdi menikmati setiap pertemuan-pertemuannya, Vita tidak menolak saat Ferdi menyatakan cintanya.

“Lay, kau masih dalam keadaan sadar kan? Mana mungkin kau bisa suka, dia itu cuma maya Lay, alamak kacau ini masalah.” Ucok menimpali jawaban Ferdi.

"Awas Kau, bisa-bisa Gila." Kata Ucok lagi.

“Nothing is impossible bukan?

Ferdi sebenarnya tidak yakin tentang perasaannya pada Vita, karena Vita gadis yang cantik dan pastinya banyak laki-laki yang kagum bahkan mencintainya, tetapi hari demi hari terus Ferdi lalui, hingga akhirnya Ferdi harus menerima kenyataan bahwa dugaannya benar Vita banyak yang mengagumi dan dirinya bukanlah apa-apa, Ferdi sangat kecewa saat Vita menyatakan maafnya bahwa dirinya telah mempunyai pacar.

sejak itu Ferdi menjadi pemurung dan teman-temannya menjadi khawatir, tetapi Ferdi tidak menceritakan hal itu pada teman-temannya, Ferdi hanya menuliskan isi hatinya di laptop, dan rahasia itu terungkap setelah Ferdi meninggal akibat kecelakaan yang dialaminya dalam suatu perjalan pulang kerja, Ucok lah yang pertama kali mengetahui rahasia besar yang selama ini Ferdi pendam, Ferdi ternyata menyimpan rasa sakit yang begitu dalam sehingga membuat nyawanya melayang.
bait terakhir dalam catatan Ferdi "Sumpah !! Gue Sayang Lo"

Penasaran cerita lengkapnya... tunggu aja,

Judul Buku : SUMPAH !! GUE SAYANG LO.
Tebal Buku : 102 Halaman


By :

Sabtu, 16 April 2011

Menulis Itu Menyenangkan (Modal Nekat)

“Saya sudah banyak menulis di buku harian, juga di blog. Tetapi, hingga kini masih saja saya nggak pede menulis untuk koran atau majalah. Bagaimana mengatasinya?”

Ada sahabat yang merasa tak percaya diri, masih ragu-ragu, masih merasa belum pantas menulis ke media cetak seperti ke koran atau majalah. Perasaan seperti itu menyebabkan ia tidak berani mengirim artikelnya. Ia khawatir, jangan-jangan tulisan itu menjadi bahan tertawaan, ditolak, dan sebagainya, sehingga jadi malu. Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan?

nah Om Ketut dalam tulisannya Menulis Nekat - I Ketut Suweca , memberi beberapa tips...

cekidot Gan...

Menulis itu memerlukan kepercayaan diri yang besar, termasuk untuk mengirimkannya ke media cetak. Pertama, yang diperlukan adalah meningkatkan pengetahuan. Caranya, antara lain dengan secara berkesinambungan menambah pengetahuan melalui buku-buku dan sumber lainnya yang berguna. Kedua, berlatih dan berlatih menulis terus-menerus. Contoh saja balita yang belajar berdiri, ia berusaha berdiri, jatuh, berdiri lagi, jatuh lagi, berdiri lagi dan begitu seterusnya hingga pada akhir ia bisa berdiri, bahkan kemudian berjalan. Mungkin kita perlu menghayati peran seperti seorang bayi yang belajar berdiri dan berjalan tatkala tengah mengembangkan kemampuan menulis. Menulis lagi, kirim, ditolak, menulis lagi, kirim, begitu seterusnya hingga suatu saat redaksi mengalah dan memuat karya kita. Redaksi mengalah, bukan karena dia bosan atau kasihan sehingga menerima kiriman naskah kita, melainkan lantaran dia mulai melihat betapa berbobot naskah yang kita kirim kepadanya. Nah, kalau sudah seperti ini, siapa yang tidak mau?

Rasa tidak percaya diri itu adalah faktor psikologis yang dapat mengganggu perjalanan karier kita. Dia menjadi faktor penghambat/penghalang kemajuan di dalam bidang apa pun. Oleh karena itu, penting sekali mendongkrak rasa percaya diri dengan mengasah kemampuan di bidang yang diminati, bertekun di dalamnya, dan berkarya. Tidak ada pilihan lain. Tidak akan ada hasil apa-apa kalau kita tidak berkarya nyata. Mimpi menjadi penulis pun akan tinggal mimpi saja kalau kita tidak membuatnya menjadi realita. Belakangan baru akan muncul penyesalan dengan menyalahkan diri sendiri, mengapa telah menyia-nyiakan waktu hanya untuk mengkhayal menjadi penulis sukses tanpa dibarengi tindakan nyata sama sekali. Bermimpi itu penting sekali, bertindak juga penting. Mimpi memberikan arah, tindakan mewujudkannya.

Ketika pertama kali menulis untuk media cetak tahun 2006, saya tidak berpikir macam-macam. Saya tulis saja sebisa saya, lalu saya kirim. Saya tidak merasa malu kalau misalnya tulisan itu tidak dimuat. Saya juga tidak akan tersinggung kalau naskah saya ditolak. Enjoy saja, tulis saja, kirim saja. Persoalan dimuat atau tidak itu melulu urusan redaksi, bukan urusan saya. Urusan saya sebagai penulis hanya menulis dan menulis.

Saya menyadari, bagi sahabat yang belum pernah menulis untuk media cetak seperti koran, majalah, tabloid, tentu ini akan terasa berat, seperti orang yang dipaksa melewati sebuah kuburan sepi di tengah malam. Tetapi, setelah dilakukan kendati dalam kekhawatiran yang sangat, dan ternyata tak kenapa-kenapa, maka langkah selanjutnya menjadi lebih mudah, bahkan jauh lebih mudah. Pekerjaan itu, dalam banyak hal, ternyata lebih berat dipikirkan daripada dikerjakan. Yang pertama terasa berat, selanjutnya menjadi mudah, bahkan mengasyikkan, he he he.

Kalau dengan begini belum juga berani menulis, maka pakai modal nekat. Nekat? Ya, nekat menulis sebaik mungkin. Nekat mengirimkan tulisan itu ke media cetak. Nekat menulis lagi tanpa henti. Nah, senjata nekat itu dapat dipakai oleh sahabat para calon penulis atau penulis pemula. Tulis dan kirim saja. Redaksi juga manusia, kan? Jadi, tidak perlu ada yang ditakutkan.

“Suatu saat kamu perlu untuk tidak memikirkan kesuksesan atau kegagalan. Jangan biarkan hal tersebut mengganggu dirimu. Yang harus kamu kerjakan adalah menulis dan menulis hari demi hari. Kamu harus siap mental menghadapi kesalahan dalam tulisanmu yang sulit dihindari, dan siap menerima kegagalan,” nasehat Anton Chekov kepada para calon penulis.

Selamat menulis. Kabarkan kepada saya kalau Anda sudah berani mengirimkan naskah ke media, dimuat atau tidak, bukan masalah.

Semoga Bermanfaat..

Kamis, 14 April 2011

Jumat, 18 Maret 2011



di Jatinangor Bareng kawan2 SMA doeloe...



Numpang Mejeng ni...



Photo Bareng KM, Ceu Ety Markety hhehehe...

Rabu, 02 Maret 2011

NEGERI VAN ORANJE

Prolog

Di Rotterdam
“TITUIT!” bunyi SMS masuk. Banjar meliriknya. Duh, kenapa SMS ini mesti lo kirim sekarang, siiiiiih ? tanpa pikir panjang, Banjar langsung mematikan rokok kretek yang baru dihisapnya empat kali, perbuatan yang biasanya diharamkan ditengah kelangkaan stok kretek. Iapun loncat meninggalkan meja kafe yang di atasnya masih terdapat secangkir koffe verkeerd yang mengepul, menggoda, memikat, minta diseruput! Digamitnya lengan pelayan terdekat, sambil mengeluarkan selembar uang berhiaskan angka lima dari dompet.
“Mijn, excuse, dame! This is for table three. Keep the change!”
Banjar menyodorkan lembaran itu dengan terburu-buru sambil berjalan cepat menuju pintu.
“Maar, Meneer!Sir! Come back! What is this??”
Tapi BAnjar sudah tak lagi dapat mendengar. Pelayan itu memandang dengan bingung pemuda yang berlari tunggang langgang meninggalkan kafe. Dengan umpatan halus, sang waiter mengantongi selembar lima puluh ribu rupiah dalam genggamannya.

Di Utrecht
Minuman keras, MIRAS! Apa pun namam….uuuu… tak akan kusentuh lagi dan tak akan …
“Oops, sorry!” bergegas Daus mengangkat Hp polifonik sumbang miliknya berusaha menghentikan lolongan keras Rhoma Irama yang memecah keheningan romantis dalam kafe.
Saking terburu-burunya, Daus sampai menumpahkan segelas chardonnay ke atas meja. Note to self : cepat ganti nada dering dangdut ini !
“Halo?” Daus menerima telepon sembari terheran-heran.
“Gue udah o-te-we! Lo dah sampe mana?” terdengar suara Banjar terengah-engah, bersaing keras dengan backing vocal lolongan angin yang menderu. Pasti sambil naik sepesa.
“Dijalan mau kemana ?”
“Oncol-oncol bego! Udah baca SMS belum, lo?”
“SMS apaan? Buru-buru mau ke mana, sih ?”
“Cek hape lo, Col! Kita nunggu disana. Buruan!”
Dan sambungan itu terputus.
Daus mengumpat pelan. Sudah telepon merusak kencan, pakai acara marah-marah pula!
“What’s that all about, Daus ? Something wrong?” Tanya Selisha, gadis manis asal Amerika sambil me-reffil kembali gelas anggur yang td tumpah.
“No, nothing’s wrong,” balas Daus sambil membuka inbox SMS. “Everything fi-…”
“…”
Masya Allaaah! Pigimane, nih?
Daus berdiri tergesa.
Damn. Wine tumpah kembali.
Emang nasib gue ga boleh minum alkohooooool!
“Selisha, I have to go.”
“What? What’s wrong?’
“I can’t explain it now. I’m really sorry, I gotta run!”
Daus cepat-cepat berlari menuju parkiran sepeda. Bahkan sampai lupa cupika-cupiki tiga kali seperti yang biasa ia lakukan dengan teman-teman wanitanya di Belanda.

Di Wageningen
Wicak tersentak. Agak bingung kalau menerima SMS dalam situasi ini.
Saat itu nia berada diperpustakaan. Sedang beramah-tamah dengan seorang professor yang berpapasan dengannya saat ia mengurus administrasi pengembalian buku. Mau dibaca ribet, bisa dianggap tidak sopan; engga dibaca, penasaran!
Akhirnya curiosity killed the cat, meski membunuh kucing diharamkan oleh agama. Wicak membuka inbox, saat sang professor menoleh menyapa rekannya yang lewat dan…
“KUNYIT!! Kunaon si eneng the?”
“Wat zeg je, Wicak? Koo nyee?” sahut sang professor.
“Er, ehm… kunyit is errr… turmeric sir. Ehmm … a rare specimen from Indonesia! You know, for biodiversity research. I …uh … received a package of ehm … kunyit. I have to pick it up now at the … uh …. Post office.”professor berambut gondrong sebahu itu mengangguk dengan penuh empati.
“Oh yes, yes, anything for science! Go ahead!”
Tanpa basa-basi lagi, Wicak langsung balik kanan ngeloyor keluar gedung. Anything for science and si Eneng! Pikir Wicak seraya bergegas membuka gembok sepeda.
Perjalanan masih panjang ke stasiun kereta. Untungnya dimusim panas seperti ini, angina sudah tak lagi bertiup kencang menghambat perjalanan. Dimusim gugur, seringkali sepeda fongers ten speed super-ringan milik Wicak berubah jadi seberat becak berpenumpangn beruang kutub.
Namun hari ini, ditengah siang bolong hari yang cerah di Wageningen, Wicak menggenjot sepedanya sekuat tenaga, berburu dengan waktu.

Di Den Haag.
Delivered. Delivered. Delivered.
SMS S.O.S telah dilayangkan kepada tiga orang yang paling ia percaya ditanah kompeni ini. Ia tak berani menelepon, takut membuang pulsa sia-sia, sementara yang terdengar di seberang sana hanyalah sesenggukan incoherent seorang perempuan patah hati.
Lintang menatap langit di atas garis Pantai Scheveningen yang bersemu merah, jingga, ungu. Sunset sempurna dengan suasana hati yang sangat tidak sempurna. Seumur hidupnya, Lintang bukan termasuk golongan yang religius. Tetapi dalam gundah, kali ini Lintang mengiba dengan tulus”Ya Tuhan,” Bisiknya pada langit.
“Tuhan Yang Maha Pedmurah, Tuhan Yang Maha Mengerti.”
“Lintang tah, akhir-akhir ini Lintang masih nakal. Shalat bolong-bolong. Jarang berbagi rejeki. Cuma traktir teman-teman sekali waktu dapat gaji pertama, itu juga habisnya buat beli Witte Wickse. ( Oh ya, dan masih bandel coba-coba minum! Catat Lintang dalam hati ). Lintang juga anak durhaka, udah beli pulsa telepon pake VOIP, NELEPON Mama-Papa di Indonesia Cuma kalo ada perlunya.”
“Tapi Tuhan, kalau Engkau memang Maha Pemaaf dan Maha Penyayang, tolong percepat langkah ketiga sahabat Lintang ke sini. I’ve never needed them more than I do now …
Lintang kembali tertunduk, dan pasrah membiarkan hujan air matanya mengalir.

Amersfort

“Dames en heren.” Sebuah pengumuman berbahasa Belanda membahana mengisi stasiun kereta.
“Akibat cuaca buruk, semua kereta ditunda keberangkatannya sampai pemberitahuan lebih lanjut. Harap menghubungi meja informasi untuk keterangan lebih lanjut. Onze excuse voor uw ongemak.”
Monyet, bekantan, orang utan, beruk! Gagal deh gue dapet kerjaan di Utrecht!
Ditengah badai seperti ini, Banjar kerap jadi melankolis dan nama kawan-kawannya tanpa sadar bermunculan.
Banjar menekuk mukanya dengan kesal. Baginya, falsafah “time is money” sudah mendarah daging. Jadi kehilangan kesempatan wawancara kerja hanya karena sebuah badai angina topan yang membuat badai Katrina setenang hembusan AC memang menyebalkan. Namun, yang membuat muka berteukuk lebih ruwet dari origami bukan karena hilang waktu. Tapi karena…
“Huaaaaah … kretek gue abiiiiiiiiiiis!”
Ia menatap kotak kretek itu penuh harap, seolah sinar mata dan tetesan air liur bisa memunculkan kembali sebatang rokok dengan ajaib bagaikan jin dalam botol. Banjar kembali mengutuk keputusannya telah mengambil rute Amersfort.
Coba tadi gue ganti kereta di Bandara Schiphol aaja, kan nggak bakal begini jadinya! Paling sial gue kejebak di Schiphol atau Amsterdam Centraal yang besar, nyaman, dan banyak tokonya! Gerutu Banjar dalam hati.
Laah di Amersfort Cuma ada satu stan penjual kopi yang antreannya mirip pembagian jatah qurban di Istiqlal. Mana gue curiga si penjaga stan itu pake kumis tempelan!
Hmm. Oke, mungkin itu sedikit hiperbol.
Kumisnya boleh jadi asli, tapi gue yakin belahan rambut itu gak wajar. Jangan-jangan dia pakai wig! Wig-nya pasti buatan Purbalingga!
“Gue butuh kretek nih, kalo nggak bisa gilaaaa! Teriak alam bawah sadar Banjar yang , kok ya, kompak dengan mulutnya.
Dari kerumunan orang yang berambut blonde, brunette, dan redhead, tiba-tiba muncul seorang pemuda berkulit gelap, berambut hitam kriwil, berperawakan tinggi cungkring, dan berwajah melayu.
“Teriak-teriak malu-maluin bangsa, Kang. Abdi aya tingwe kalo mau,” seru pemuda yang tiba-tiba muncul bagai malaikat, sembari menyodorkan bungkusan kecil berwarna biru berisi tembakau dan kertas lintingan.
“Wah, makasih! Dari Indonesia juga?” Tanya Banjar sambil memungut segepok besar tembakau, lalu mulai melinting seukuran cerutu.
“Enggak, gue mah orang Islandia yang kebetulan tinggal lama di Bogor.”
“???”
“Ya, iyalah orang Indonesia! Emangnya tampang gue kurang Indonesia, apah? Eh, jangan-jangan gue punya tampang kayak orang Viking, yah? Emnag sih, dari dulu udah ngerasa kalo hidung ini mancungnya emang beda. Kayak bule, gitu.”
“ …..”
“Oh ya, belum kenalan. Wicak. Ngomong-ngomong, enggak salah tuh, Kang? bikin lintingan gede pisan?” sembari mengulurkan tangannya dengan ramah.
“Banjar,” sambil menarik jari keluar dari hidung, tak kalah ramah.
Kedua insan itu bersiap menikmati rokok linting mereka, hingga tersadarkan akan sebuah detail esensial.
“Pinjam lighter, dong.”
“ …..”
“ … .”
“Waduh, map … nggak punya, euy!”
“Yah, sama, dong …”
Kedua mulai clingak-clinguk mencari cewek pemilik lighter yang kira-kira nggak rugi buat sekalian diajak kenalan. Bagi mereka, nggak punya korek justru handicap positif untuk berkenalan dengan perempuan!

Out of the blue, muncul sebuah tenor.atu mungkin Alto. Yang jelas, cempreng.
“Alhamdulillaaaaaaah … ada juga orang Indonesia yang pas lagi blangsak begini! Lidah gue dah pegel linu ngoceh bahasa Enggris sedari tadi!”
Kedua pemuda itu saling berpandangan dan nyengir bareng. Setelah berbasa – basi sebentar, serentak keduanya menerima lebar ucapan perkenalan dari si pemilik suara, yang dengan hebatnya memiliki dua korek api gas dalam tasnya, tanpa sedikitpun tembakau di situ. Tak lama ketiganya pun bersam-sama menyalakan rokok linting hasil gibah dari Wicak.
“Makasih ya, Mas…”
“Daus, kagak usah pake mas-masan segala. Kagak pantes.”
“Oke. Thanks, Daus.”
Mereka menikmati rokok dalam diam.
Ditengah kekhusyukan merokok, terdengar sebuah suara bas. Dari nadanya seperti orang bertengkar. Suaranya terdengar memohon dan sedikit tegang. At least, kedengarannya begitu, karena mereka bertiga belum mampu memahami Nederlands yang fasih meluncur dari mulutnya. Mereka mencuri pandang kea rah si cowok misterius, terpancing rasa penasaran.
Sambil mengamati, ketiganya kegantengan si cowok misterius. Nurunin pasaran cowok-cowok disini aja, pikir mereka dalam hati. Seolah setiap perempuan single yang terjebak di tengah badai di stasiun kereta secara otomatis akan mencari cowok p-aling ganteng untuk menyegarkan pemandangan (padahal emang). Kayaknya orang Belanda blasteran ya ? dari warna rambut dan matanya yang gelap tersirat imbas gen Asia. Terdengar cowok itu sedang memohon melalui telepon selulernya.
“schaatje, alsjeblief!... Wat zeg je? Nee, lie verd. Ik kan niet … Halo? Halo?”
Pembicaraan itu terputus, dan cowok itupun mengumpat. “Verdomme!”
Ia menutup HP, kemudian terlihat sibuk merogoh tas ransel miliknya. Tampaknya ia sedamng mencari sesuatu.
Cres.
Terdengar suara gemeretak diikuti aroma yang khas yang baunya acap dibenci mayoritas kaum bule. Bau yang berasal dari rempah harum bernama kruidnagel. Rempah yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi clove, dan dalam bahasa pergaulan sehari-harian taipan Putera Sampoerna menjdai cengkih.
“Hmmmmm ….”
“Waaah itu kan bau …”
“KRETEK!!”
Tanpa disangka, si cowok misterius menoleh kea rah sumber suara-suara mupeng, alias muka pengamat.
“Kretek, Mas? Sebenarnya saja nggak ngerokok, tapi berhubung badai begini … lumayanlah buat bikin badan anget.”
Cowok itu dengan ramah menyodorkan sekotak rokok kretek yang masih penuh.
“Silakan, lho.”
Banjar, Wicak dan Daus hamper berlutut bahagia, tapi dalam hati mereka mengutuki nasib.
Yah, orang Indonesia juga.
Sialan, ganteng amat, sih jadi orang Indonesia. Makin turun deh pasaran gue.
Tapi, kalau cowok perokok kretek diberi pilihan antara gengsi dan menelan gengsi demi kesempatan mendapat rokok kretek ditengah hujan badai, tentunya itu bukan pilihan sulit.
“Makasih yah … sorry.. siapa tadi namanya?”
“Geri. Ambil lagi aja juga gak papa. Ini baru aja dibawain teman dari Indonesia.
“Wah, Ger. Thanks banget!” seru Banjar sumri8ngah.
Rokok linting segera pension diganti dengan rokok kretek pemberian Geri.
“Sialan…”
“Sedep euy…”
“Subhanallah…”
Keempatnya pun tenggelam dalam kenikamtan duniawai tiba-tiba..
“Waaaaaaaaaaaaaaaa dari Indonesia yaaa?”
Keempat cowok itu terkejut dan menoleh mencari sumber suara feminin nan ceria yang tiba-tiba muncul.
Seorang perempuan tinggi semampai, wajah cantik, rambut dikuncir dan suara ceria tanpa tedeng aling-aling langsung datang menghampiri sambil menyodorkan tangannya.
”Halo! Aku Lintang, tinggal di Leiden. Seneng banget bisa ketemu orang Indonesia di tengah badai kayak begini! Mas semua dari mana?”
Banjar yang paling cepat tanggap kalau ada “Barang bagus’ jadi orang pertama yang menyambut tangan Lintang.
“Iskandar. Gue di Rotterdam.”
“….”
“Lah, katanya nama ente banjar?” celetuk Daus.
“Oh, hehe …iya. Panggilan sih banjar. Tapi nama asli gue Iskandar.”
Yee giliran kenalan sama cewek cakep aja namanya jadi bagus, pikir Daus dalam hati.
Lintang hanya mengulum senyum.
“Daus, dari Utrecht.” Daus gentian mengulurkan tangan.
“Geri. Den Haag.”
“Wicak. Wagengingen.”
“Abis pada jalan dari mana kok bisa terdampar di Amersfort?” Tanya Lintang sambil mematikan iPod-nya. Dalam situasi gawat darurat lagi pula garing seperti ini, seasyik-asyiknya mendengar musik, jauh lebih menyenangkan punya temen ngobrol.
“Hmm. Jangankan tahu kenapa ada disni, Gue aja masih heran kenapa gue bisa terdampar di Belanda,” sahut BAnjar kalem sambil terbatuk-batuk tersedak asap.
Lintang menyengir kuda.
“Looks like we’ge got time to kill.”
Dan terjadilah sudah. Sebuah pertemuan tak disengaja yang tanpa disadari akan membelokkan jalan hidup mereka. Berkat badai, kretek dan takdir.

next : Bagian 2 ( Sabar ya )

Jumat, 14 Januari 2011

Pesta akbar di Senayan



Hanya 1 tujuan untuk Merah Putih...



Bersatu dalam indahnya kebersamaan...



Garuda didadaku...



Apapun hasil akhirnya, kami tetap mendukungmu...



Pesta akbar di Senayan

Kamis, 02 Desember 2010

Dari Penulis

setelah sekian lama berselancar di dunia maya, alangkah baiknya jika kita, penulis dan pembaca bisa saling mengenal satu sama lain, menjalin tali persaudaraan dan menjadi ajang bertukar pikiran, sharing untuk sesuatu yang bermanfaat.
karena disini juga kita masih sama-sama belajar,untuk saling mengingatkan dan memberi masukan demi kebaikan dimasa yang akan datang.

untuk temen-temen readers yang berkenan berteman di akun facebook saya, bisa klik disini saja..

klik ya klo mo liat FB ku