:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: Poem's, Lyric & Story: Cerita Bersambung Karya Okky

.......

JAngan Pernah Melupakanku

~.~

My Blog

Tempat Share orang2 yang suka nulis n membaca, Tapi maaf ga bisa di Copy...

Ramalan Jodoh

Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung Karya Okky. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung Karya Okky. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Mei 2011

Serial : SUMPAH, GUE SAYANG LO !! Bag. 6

 Cerita Sebelumnya :

“ihhh.. Mas, ayo dong.” Ani setengah merengek, “apa?” Ferdi melongo, merasa tidak direspon Ani membalikkan badannya memunggung, bibirnya yang tipis itu ditekuknya, Ferdi manggut-manggut seperti sudah mengerti apa maksud Ani, “ya udah sini, maaf tadi gue engga tau, ayo jangan ditekuk lagi mukanya.” Ferdi berkata lembut.
Ani yang masih sedikit kesal, memutarkan badannya menghadap Ferdi, “lhoo mau difoto ko bibirnya ditekuk gitu sih,  smile dong.” Ferdi berkata sambil  mencontohkan senyum dibibirnya, dan tangannya mencoba membenarkan bentuk bibir Ani, “eh.. maaf Mbak.” Ferdi merah mukanya saat tangannya secara tidak secara menyentuh bibir Ani, Ani hanya tersenyum malu-malu menjawab Ferdi, “tidak apa-apa Mas.”
“ayo, senyum. yang manis ya, satu… dua… ti..” belum selesai Ferdi memoto, dari belakang terdengar suara memanggil dirinya,

Serial : SUMPAH, GUE SAYANG LO !! Bag. 5

Cerita Sebelumnya :

“nah gitulah Lay, senang aku mendengarnya, akhirnya seorang pujangga telah menemukan jati dirinya.” Ucok berkata sambil bergaya seolah sedang  membaca puisi, Ferdi tersenyum-senyum melihat Ucok yang begitu.
“siapa itu Lay, Mona kah, atau..?” Ucok tidak melanjutkan kembali ucapannya.
Ferdi menggelengkan kepalanya, “cewek Fb gue sob.” Ferdi menjawab singkat.
“Apa?” sedikit keras suara Ucok penasaran.
“temen Fb gue, ngapain sih lo pake teriak-teriak, udah malem ni, pengen orang-orang pada bangun terus nyangka lo diperkosa gue.” Ferdi sedikit terkejut.
“alamak, kau ini apa-apan Lay. Dia itu kan maya Lay, masih banyak yang bisa kau punya yang nyata, masih kurang?” Ucok bertanya serius setengah tidak percaya apa yang Ferdi ucapkan barusan.
“gue serius sob, gue nyaman ama dia, gue jadi penasaran ama dia dan suatu saat gue pengen dan pasti samperin dia.” Ferdi berkata pada Ucok dengan wajah berseri seri.

Serial : SUMPAH, GUE SAYANG LO !! Bag. 4

Cerita Sebelumnya :

“Lay, kau ini aku lihat-lihat semakin akrab saja dengan cewek yang ada di Facebook itu.” Tanya Ucok suatu siang, Ferdi hanya menjawab singkat, “ya, gitulah.” Dirinya lalu melanjutkan kembali membersihkan motornya, hari ini tanggal merah Ferdi hanya dirumah saja dan Ucok libur kuliah

‘Ihh.. tuh kan Mona diketawain, sebel.. sebel..sebel, ya abisnya Mas Ferdi itu ga pernah bisa serius, becanda ajah, Mona itu sayang banget sama Mas Ferdi, Mona pengen Mas Ferdi jadi pendamping Mona, Mas Ferdi napa sih ga mau sama Mona, Mona jelek ya?’ Ferdi terbengong mendengar pengakuan Mona yang lugu, takut salah bicara ,jadinya lama juga dirinya terdiam, ‘Mas.. Mas Ferdi.., ko diem, jawab dong Mas. 

Jumat, 29 April 2011

Serial : SUMPAH, GUE SAYANG LO !! Bag. 3

Cerita Sebelumnya :
“tadinya, mau langsung kerumah, tapi sekarang mau ke karang setra dulu.” Jawab Ani, masih senyam senyum. “mbak Ani itu murah senyum ya, dari tadi senyum terus, pasta gigi mahal lhoo.” Melihat tingkah Ani yang begitu Ferdi menggoda, Ani hanya senyum lalu mencubit pinggang Ferdi, Ferdi hanya nyegir-nyengir kesakitan. “aduh, sakit tau.” Ferdi manyun-manyun, yang diajak dimarahin malah nyengir-nyengir, “kirain langsung kerumah, kalo langsung barengan gue aja, mumpung sejalur.” Lanjut Ferdi, “kapan-kapan aja Mas, makasih buat tawarannya, eh Mas mau pulang kapan, daritadi ngobrol aja, itu motor tinggal punya situ sendiri lho.” Ferdi seakan terjaga dari mimpinya, ternyata lama juga mereka mengobrol diruang parkir sehingga tanpa sadar tinggal mereka berdua dan seorang tukang sapu yang tersisa diruang parkir, Ferdi lalu berlari mendekati sepeda motornya, dimasukan kunci, tapi dia tidak menaikinya, dituntun motornya perlahan-lahan dan ternyata Ani masih berdiri ditempat mengobrol tadi, “kok, dituntun Mas, abis bensin ya?” Ani bertanya heran, ketika melihat Ferdi yang menuntun motornya, “hehe, engga, lha Mbak napa masih bediri disini, merangkap jadi satpam ya? Ferdi lalu tertawa.

Serial : SUMPAH, GUE SAYANG LO !! Bag. 2

Cerita Sebelumnya :

Sudah dari tadi Ferdi laki-laki umuran 20 tahun, tersenyum-senyum sendiri sambil lincah jemarinya memainkan tuts keyboard di laptopnya, sampai-sampai suara ketukan pintu kamar kos nya tidak terdengar,
“Lay.. buka, aku mau masuk ini.”
“tok… tok…” pintu kamar terketuk, dan terdengar teriakan khas Batak dari luar kamar untuk yang kesekian kalinya, akhirnya Ferdi pun dengan setengah malas berdiri dari kursinya dan membukakan pintu kamarnya.
“Gimana Sob, menurut lo, ni cewe bagus engga? Jujur gue naksir.” Ferdi lalu memutar kursinya menghadap pada Ucok,
“Aku, tak tau Lay, kalau soal begini, aku tak berpengalaman.” Ucok menjawab dengan muka polosnya sambil menggaruk-garuk kan tangan dikepala.
“Ah, lo ini sob, gue kan nanya, ini cewe bagus engga? Sapa juga yang pengen denger pengalaman lo, makanya buka mata ama buka telinga bae-bae biar omongan gue jelas, paham.” Ferdi pun menepuk bahu Ucok.
“Yalah, aku paham kalau yang satu ini, ehh cantik juga Lay, senyumnya bagaikan pinang dibelah lima, tapi..” Ucok menghentikan ucapannya.
“Tapi, apa?” Ferdi penasaran
“Tapi Lay, tak cocok kalau harus untuk kau ini, kalau orang Medan bilang, bagaikan Punguk merindukan bidadari.” Ucok meneruskan ucapannya dan hendak berlari, tapi tangannya segera ditarik oleh Ferdi, “Ahhh… sialan.

Serial : SUMPAH, GUE SAYANG LO !! Bag. 1


Jika ada kemiripan atau kesamaan dalam cerita ini, itu tidak sengaja karena cerita ini hanyalah cerita fiktif belaka

Senin, 18 April 2011

Buku "SUMPAH !! GUE SAYANG LO.

kabar-kabar
setelah tulisan-tulisan sebelumnya bisa diterima dipasaran, coba-coba untuk cari peruntungan ditulisan selanjutnya, harap tunggu tulisan terbaru siap dicetak dan Insyaallah akan segera terbit... mungkin awal Juni baru edar, sekarang dalam tahap perampungan, sabar yah :)(Njaluk Pandungane)

Sinopsis :

"Kehidupan Ferdi (20 tahun) pemuda rantau pkerja freelance juga pada sebuah tabloid remaja yang bertemu Ucok orang medan (21 tahun) yang rantau juga, akhirnya berdua menjadi sahabat, satu kost an. menjalani kehidupan di kota kembang Bandung, Ucok yang kurang beruntung karena nilai mata kuliah jeblok sampai-sampai diusir ibu kost nya sebab tidak bisa lunasi kost an selama 3 bulan, karena uangnya dipakai bayar mata kuliahnya yang di her.

lalu hadir Mona, perempuan muda cantik kira-kira 19 tahun, yang baik hati, diam-diam mempunyai rasa pada Ferdi, namun Ferdi tidak menganggap rasa yang telah Mona tunjukkan, Ferdi lebih memilih berteman.

dan Ani perempuan sintal teman satu kantor dengan Ferdi yang malu-malu menunjukkan rasa sukanya pada Ferdi, namun lagi-lagi Ferdi tidak menggubris dan menganggap biasa, kenangan pahit masa lalu Ferdi tentang percintaan membuatnya dingin terhadap wanita.
hingga suatu ketika Ferdi mengenal seorang perempuan lewat akun FB nya, perempuan itu bernama Vita, gadis maya itu telah membuat hati Ferdi sedikit terbuka tentang perlunya cinta dan pun mulai membuka hati kembali untuk merajut cinta, walau maya tetapi Ferdi menikmati setiap pertemuan-pertemuannya, Vita tidak menolak saat Ferdi menyatakan cintanya.

“Lay, kau masih dalam keadaan sadar kan? Mana mungkin kau bisa suka, dia itu cuma maya Lay, alamak kacau ini masalah.” Ucok menimpali jawaban Ferdi.

"Awas Kau, bisa-bisa Gila." Kata Ucok lagi.

“Nothing is impossible bukan?

Ferdi sebenarnya tidak yakin tentang perasaannya pada Vita, karena Vita gadis yang cantik dan pastinya banyak laki-laki yang kagum bahkan mencintainya, tetapi hari demi hari terus Ferdi lalui, hingga akhirnya Ferdi harus menerima kenyataan bahwa dugaannya benar Vita banyak yang mengagumi dan dirinya bukanlah apa-apa, Ferdi sangat kecewa saat Vita menyatakan maafnya bahwa dirinya telah mempunyai pacar.

sejak itu Ferdi menjadi pemurung dan teman-temannya menjadi khawatir, tetapi Ferdi tidak menceritakan hal itu pada teman-temannya, Ferdi hanya menuliskan isi hatinya di laptop, dan rahasia itu terungkap setelah Ferdi meninggal akibat kecelakaan yang dialaminya dalam suatu perjalan pulang kerja, Ucok lah yang pertama kali mengetahui rahasia besar yang selama ini Ferdi pendam, Ferdi ternyata menyimpan rasa sakit yang begitu dalam sehingga membuat nyawanya melayang.
bait terakhir dalam catatan Ferdi "Sumpah !! Gue Sayang Lo"

Penasaran cerita lengkapnya... tunggu aja,

Judul Buku : SUMPAH !! GUE SAYANG LO.
Tebal Buku : 102 Halaman


By :

Sabtu, 27 Februari 2010

HILANGNYA PEREMPUAN BERKERUDUNG HITAM ITU….

Perempuan berkerudung hitam itu, tak pernah aku melihat sehelai rambut nampak darinya, tak pernah sekalipun aku melihat kerah bajunya terbuka, celana panjang nya yang selalu menghindarkannya dari tampak indah lekuk tubuhnya, lesung pipit diantara kedua pipinya, indah bola matanya dan senyum yang ramah selalu nampak padanya.

Setiap sore hari nampak ia pergi ke surau membawa kitab suci, membaca, mendalami dan menghayati setiap kata, setiap nada dan setiap makna yang terkandung didalamnya. Kerudung hitam itu tak pernah lepas dari dirinya.

Ia sudah tidak berbapak, hidup berdua dengan seorang ibu yang sudah renta, sungguh pilu melihat kehidupannya. Namun tak sekalipun ku dengar keluh kesahnya, tak sekalipun kulihat seraut kesusahan dalam hidupnya. Ia selalu tersenyum dan seakan hidup selalu bahagia.

Tak pernah kulihat ia bermain sebagaimana wanita-wanita sebayanya, tak pernah kulihat ia berbicara segenit dan semanja wanita seusianya, yang mana para sebayanya sedang terbuai dan terlena oleh kata cinta, yang sedang berbunga-bunga bila dipuji dan dimanja. Namun ia tidak, halus tuturnya, baik tingkahnya selalu senyum bila ada yang menyapa, dan selalu ringan tangan pada sesama.

Perempuan berkerudung hitam itu, harta yang sungguh sangat berharga dibanding dengan intan, berlian, emas dan permata. Dapat memilikinya adalah suatu anugerah dari yang maha kuasa yang tak ternilai harganya.

Satu minggu sudah ku tak melihatnya, ku tak mendengar lagi langkah kakinya setiap akan pergi ke surau, seminggu sudah ku tak melihat senyum dan indah bola matanya, kemana engkau pergi perempuan berkerudung hitam itu....

Rasa penasaran yang ada didada, mengetuk hatiku untuk menemuinya. Walau ku tak tahu dimana ia asalnya, tanya dan terus bertanya. Akhirnya aku dapat menemui rumahnya, subhanallah maha besar allah, sesampainya disana kukira aku salah tujuan. Karena yang ada dihadapanku bukanlah sebuah rumah. Namun lebih tepat sebuah gubuk bambu beratapkan tembikar dan berlantaikan tanah. Dalam hati yang galau ku ketuk daun pintu rumah itu. Ku ucap salam dan masih aku menunggu, akhirnya ku dengar ada yang menjawab salam ku, sungguh merdu sekali suaranya. Pintu pun terbuka...

Perempuan muda dengan rambut panjang sepinggang menyambut kedatanganku dengan senyum lesung nya. Subhanallah Maha Besar Allah di dalam rumah yang tak seberapa megah terdapat harta yang tak ternilai harganya. Aku takjub, mulut ini terasa terkunci badanpun bergetar maha dahsyat, terlihat dari dekat wajah nya bagaikan bercahaya yang dapat membuat ku hanya bisa terpaku.

”Bang... bang.... abang baik-baik saja...” terdengar suara halus menelusuk telinga, sampai satu tepukan menghantam bahuku. Astagfirullah.. ku ucap istigfar, ada apa ini. Setelah keadaan agak tenang akupun mulai dapat menguasai suasana, ia pun mempersilahkan ku masuk kedalam rumahnya.

Subhannallah.. hanya kebesaran Allah yang dapat membuatnya dapat bertahan di tempat yang menurutku sangat tidak layak untuk ditempati. Betapa gelap dan pengapnya ruangan ini, tak ku jumpai lampu didalam ruangan ini. Yang ada hanyalah cempor, yang membuat dinding dan atap menjadi hitam. Hanya cahaya matahari yang dapat menerangi rumah itu melalui celah-celah atap rumbia.

Disuguhinya aku segelas air putih lantas dirinya mengambil kursi dan duduk antara jarak dua meter dariku, tak lantas kuambil minuman itu. Aku hanya bisa memandangi keadaan ruangan rumah itu, ku mulai pembicaraan.

”Perkenalkan nama ku Imron, aku datang dari kampung sebelah.” ku berbicara pada perempuan itu. Sambil kepala tertunduk ia menjawab pertanyaanku. ”nama saya Aisyah”. Belum sempat aku menjawab ia sudah membuka kembali pembicaraan, ”sekiranya ada perlu apa abang sudi berkunjung ke gubuk Aisyah.” Kutarik napas dalam-dalam, ku tak ingin salah dalam menjawab ku tak ingin lidah ini tergelincir dan membuatnya tersinggung.

”Begini Aisyah, sebenarnya maksud kedatangan saya kemari hanya untuk mempererat tali silaturahmi serta menjalin ukhuwah islamiyah supaya tidak terputus, dan juga saya perhatikan sudah bebrapa hari ini Aisyah tak pernah lagi pergi ke surau ?” sengaja aku menjawab sedikit panjang agar aku bisa lebih lama melihat kecantikan sebuah nyawa.

Aisyah perempuan berkerudung hitam itu tak lantas menjawab pertanyaanku, ia hanya tersenyum. Senyumnya begitu hampa, ”Apa abang pun tahu aku mengaji di kampung sebelah?”
”ya, saya sering melihat mu membawa kitab suci pada sore hari” hanya itu jawabanku padanya. Aisyah lantas berdiri lalu hendak berlalu, aku bingung apakah aku salah menjawab pertanyaannya. Aisyah menuju sebuah kamar lantas membuka pintu kamar itu lebar-lebar, ”Inilah bang yang membuat saya selama ini tidak pergi ke surau, ibu sakit dan tak ada yang menemani.” aku pun beranjak dari tempat duduk ku dan mendekat ke pintu kamar. ”Aku turut berduka cita, atas apa yang telah menimpa ibumu Aisyah, tetaplah tabah. Apa ibumu sudah diobati ?”
”Terima kasih bang, ada atas perhatian yang abang berikan. Sampai saat ini ibu belum sekalipun diobati.

Bersambung......

Kamis, 21 Januari 2010

PEREMPUAN ANEH ITU..??

“wuussss…” angin berhembus terasa panas ketika kaki ini turun dari bis kota, dalam hati aku berseru… “akan kumulai dunia baru”. Hari ini adalah hari pertamaku menginjakkan kaki di Jatinangor sebuah daerah yang berada di antara Bandung – Sumedang, kawasan yang lebih dikenal sebagai kawasan Pendidikan. Kini telah ku jejakkan kaki disini untuk melanjutkan study.

Ku lanjutkan langkah kaki lebih cepat lagi, sekali lagi ku naik sebuah angkot untuk sampai ketempat yang aku tuju, yaitu rumah nenek, ya aku akan tinggal disana selama menempuh pendidikan. Tanjung sari itulah tempat yang aku kan tuju sekarang, Tanjung sari masih merupakan bagian dari kota Sumedang. Tak tersa esok adalah hari pertama ku mengenakan seragam putih – abu-abu. Dalam angan ku telah berkhayal sereibu satu macam kejadian yang akan kulalui, ku akan mendapat teman yang mungkin akan sangat berlawan latar belakang, bahasa dan kepribadian. Ya, aku yang dapat dikatakan berasal dari suku jawa harus bisa beradaptasi dengan kawan-kawan yang yang berbeda suku.

Tak terasa pagipun menyapa, tok… tok…tok…. “Ade.. Bangun nak, sudah siang ..” samara-samar terdengar suara nenk membangunkan. Aku pun dengan nada sedikit malas menjawab “ iya…”. Kulipat selimut dan kubereskan tempat tidur, lantas aku bergegas menuju kamar mandi, “uuhhhhh…” betapa dinginnya air ini menusuk kedalam tubuhku. Aku pun lantas bergegas mengerinkan tubuh dan berseragam. Hari ini adalah hari pertama OSPEK atau lebih dikenal MOS.

“ Ade, sarapan dulu nak…. Nenek sudah sediakannya diatas meja makan”. Dengan ramah nenek berbicara, lalu berlalu ke dapur. Setelah selesai berseragam kulirik arloji ku, waktu di arloji sudah menunjukkan pukul… 06.45 WIB. Padahal hari ini jadwal ku masuk adalah pukul 07.00. tanpa sepengetahuan nenek aku pun bergegas bersepatu lalu berangkat ke sekolah..

Oh betapa aku bingung hari pertama ku injakkan kaki disekolah aku seperti anak ayam kehilangan induknya, tanpa tujuan dan tanpa arah yang pasti. Aku pun berusaha untuk tidak kaku, aku merasa kesepian ditengah ramainya suasana. Ku coba mulai mencari teman, kumelihat ada seorang lelaki sedang duduk sendiri, di tangga sekolah. Aku pun mendekatinya. Lalu kami pun berkenalan, benar kata orang tak kenal maka tak sayang. Begitulah setelah kami berkenalan rupanya ia seorang yang humoris juga aku pun mulai tak merasa segan untuk bertanya, ia bernama Romy, dia berasal dari Jatinangor. Dia pun mengajakku melihat-lihat gedung sekolah. “TRING….TELOLELOLET… “. Bel berbunyi kami pun lantas berkumpul berbaris dilapangan upacara, karena Bapak Kepsek akan mengumumkan pembagian Gugus, setelah sekian lama aku menanti akhirnya namaku pun disebut juga, sayangnya aku tak satu gugus dengan Romy ia mendapat Gugus “A” sedangkan aku mendapatkan Gugus “G”.

Dengan langkah yang ragu, akupun mulai melangkahkan kaki menuju kelas baruku, oh suasana hatiku yang tadi pagi terasa kembali, andai aku satu gugus dengan Romy mungkin aku tidak akan segugup ini, ada teman untuk mengobrol sekedar menghangatkan suasana. Akhirnya kuambil keputusan duduk dibangku barisan paling pojok belakang, tak lama kemudian kelas ini sudah dipenuhi siwa-siswi baru seperti juga aku, namun mereka selalu menampakkan raut muka yang ceria, saling bercanda ria dengan yang lainnya.

Dalam suasana yang begini aku hanya bisa tersenyum ketika teman-teman baru memandang, entah senyumku seperti apa ku tak tahu karena sepertinya senyum pun terasa hambar, sampai begitu lama aku duduk belum juga aku mendapatkan pasangan, tiba-tiba suasana yang bgegitu ramai menjadi sepi senyap. Ketika seseorang masuk yang ternyata ia adalah kakak kelas yang akan membimbing kami selama MOS, kakak kelas pun memulai materi MOS dengan Perkenalan, Rupanya ia bernama James. Konyolnya lagi aku yang emang berdasar suka nyeleneh, lantas berkata “ 007 dong..”. karuan saja teman-teman menatap kearahku, aku hanya bisa diam.

Sudah kuduga apa yang akan terjadi, pasti kakak kelas akan membuat perhitungan denganku, benar saja ia pun melangkahkan kakinya menuju tempat aku duduk. Lantas ia memandangku dan tersenyum lalu berkata. “ Bagus, Bagus…. Rupanya begitu yah cara kamu mengakrabkan diri dengan Seniormu…”

Aku bingung harus menjawab apa, lantas ku jawab “maaf, kak… saya tidak bermaksud apa-apa saya hanya berbicara secara spontan…”. Begitu gugupnya aku berbicara…

Tanpa aku duga teman-teman satu kelas menjawab bersamaan “Spontan…u…huuuy”. Aku pun mendapatkan hukuman, hukuman yang aku dapatkan adalah bernyajnyi menggunakan berbagai macam Vocal, kujalani hukuman itu. Dari depan kelas ternyata aku dapat dengan jelas melihat satu-persatu wajah-wajah teman baru. Oh…. Manis-manis sekali, akupun bernyanyi dengan santai, akhirnya… bel istirahat berbunyi…

Hukuman pun berhenti… entah apakah akan berlanjut apa tidak aku tidak terlalu memikirkan itu. Akupun lantas memberanikan diri berkenalan dengan teman-teman baru, oh.. rupanya teman-teman begitu ramah, begitu hangat dan dapat emnerima keberadaanku ditengah-tengah mereka, “ edun, maneh… euy, kocak abis”. Agung, temanku membesarkan hatiku. Aku hanya tersenyum “iyah…”. Istirahat pun berakhir, akupun kembali duduk dibangku menanti hukuman apalagi yang akan terjadi, namun tiba-tiba seseorang dengan setengah berlari masuk kedalam kelas ia masih menggendong tasnya. Lalu ia menghampiriku dan berkata. “punten a, abdi Sahdan gugus “G”, Panginten aya keneh tempat kangge abdi calik”. Aku pun tersenyum dan menjawab.. “silahkan, mangga…”. Sekarang aku duduk tidak sendirian lagi. MOS hari ini telah kulewati dengan bermacam kejadian.

Siang ini pulang sekolah aku langsung kerumah, belum juga aku membuka pagar rumah nenek… dari belakang ku sudah ada suara menegur… “ Ade, kenapa Sarapannya tidak dimakan…? Oh, rupanya nenek yang menegurku, “maaf nek, tadi pagi saya buru-buru dan takut terlambat ke sekolah”. Hanya itu yang bisa kujawab. “ya sudah, segera ganti pakaianmu cepat makan siang, makan siang sudah nenek simpan di Lemari, nenek mau pergi mengaji dahulu ke Masjid Baik-baik dirumah..” pesan nenek, sambil berlalu.

Segera kulepas sepatu dan berganti seragam serta melepas lelah dan penat, kuhabiskan satu piring nasi goring yang sudah nenek hidangkan. Setelah makan siang, lantas kunyalakan televisi “ah… menjemukan tidak ada acara yang bagus” batin ku mengeluh. Televisi pun kumatikan, aku pun beranjak dari tempat duduk menuju ke teras depan memandang indahnya panorama alam disekitar rumah nenek, rumah nenek berada disekitar bukit-bukit yang indah dipandang mata. Udaranya yang sejuk dan nyanyian kicau burung masih dapat terdengar dengan merdu membuatku seolah terhanyut olerh suasana.

Hari ini adalah hari kedua ku berseragam putih – abu-abu, hari kedua tak seperti hari pertama telah kudapatkan teman-teman baru, ada Sahdan, Agung, Usep, Rizki Bintang dan Irfan yang begitu langsung akrab denganku, merekalah yang mebuatku optimis untuk bisa tetap bertahan di Rantau. Ada satu perempuan yang menarik perhatianku, semnjak kemarin ia terus saja memperhatikanku, senyumnya begitu indah, sejukkan jiwa. Namanya Esti, ku tahu namanya ketika seorang teman memanggilnya, aku memang belum begitu mengenal satu persatu nama dan wajah teman-teman, namun perempuan ini sungguh berbeda, “ah, bagai punuk merindukan bulan pikirku”. Sungguh aku tak menyangka… hari ini materi MOS adalah Permainan dan aku pun mendapat bagian satu kelompok dengannya, memang benar-benar indah wajahnya, dipandang dari dekat memang begitu jelas dsebentuk kesuasaan tuhan.

Aku pun mencoba mengajaknya bicara, “kenalkan, nama saya Ade. Wong Cirebon”. Dengan logat cirebon yang kental saya memperkenalkan diri. “ o… saya Esti, Esti harianty.. dari Jatinangor”. Suaranya begitu halus, bagaikan suara seorang ibu yang sedang menina bobokan bayinya. Ah.. hari ini sungguh menyenangkan bagiku.

Sepulang sekolah, aku tidak kemana-mana. Aku langsung rebahkan tubuh ku dalam-dalam keranjang, sambil membayang seraut wajah yang indah dipandang. Tak terasa akupun tertidur.

ini adalah hari terakhir aku MOS, sekarang kakak-kakak kelas itu sudah tidak begitu menakutkan bagiku, malah kini aku sudah akrab dengan beberapa dari mereka. Ya, ada Teh Indri, Teh Hanny dan dan Teh Eyos yang aku kenal. Mereka begitu ramah kepadaku sehingga akupun tidak segan untuk bertegur-sapa dengan mereka. Materi MOS kali ini ada pengakraban, Kakak-kakak kelas sengaja meninggalkan kami agar bisa lebih mendekatkan diri antara satu dan lainnya. Momen ini tak aku sia-siakan, sifat nyelenehku tiba-tiba muncul, akupun tak canggung lagi untuk iseng kepada teman, Novi, Astri, Murni, Inbdri, Annissa.. meraka adalah yang aku isengi.

“Sep, balik Sakola main yu ah, ka rumah kamu”. Agung membuka obrolan.
“hayu…hayu… saya ingin tahu juga nich rumah kamu”… Rizki dan Bintang menimpali bersamaan.
“ya, saya mah hayu-hayu wae atuh..”. begitu polosnya Usep menjawab.
Kimni Agung memandang ke arahku dan Sahdan, “Maraneh rek ngarilu, moal ?”. Aku dan Sahdan saling pandang dan kami pun menjawab “ya, Boleh”.

Sesuai rencana, sepulang sekolah kamipun menuju rumah Usep. Rumah Usep berada disekitar kawasan Gunung Manglayang, banyak tumbuhan tumbuh dengan subur disana. “Sep, cai Kalapa kayanya enak sech..”. aku berujar sambil memandang kelapa yang bergelayutan dihalaman rumah Usep. “yah, nanti saya ambilkan. Mari masuk kedalam gubuk saya”. Dengan nada merendah Usep berbicara pada kami.

Kamipun masuk kedalam rumah, betapa sejuknya istirahat dirumah Usep. Rumah Usep belum sepenuhnya bangunan gedong permanen, karena rumahnya masih berdinding bilik bambu.. dan masih berbentuk rumah panggung… angin yang terasa begitu sejuk… tanpa ada polusi, tidak seperti dikota yang sudah terkontaminasi keadaan udaranya. Seorang ibu setengah baya pun mengahmpiri kami, sambil membawa makanan dan minuman. Lalu ia berkata “mangga… dileueut”. “ayo… ayo… dimakan, makanan kampung”. Usep pun menawari kami….

“oh… segar sekali minuman ini sep”. Rizki memulai pembicaraan sambil meneguk segelas air yang dihidangkan…

“minum mah, minum ajah… bilang ajah kalo haus….” Agung menimpali.

Kami berempat hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah mereka…

“ De, gimana nih perasaan kamu sekolah di Jatinangor ?” Usep bertanya padaku, kuhanya menjawab “Yah, saya senang disini, disini teman-teman ramah dan ceweknya juga cantik-cantik.

Setelah kami rasa cukup melepas lelah kami berenam pun beranjak menuju kebun jagung milik Usep, jalanan menuju kebun sungguh indah sekali, sepanjang perjalanan kami, di kiri dan kanan menagalir selokan kecil yang berair sangat jernih.

Kami pun lantas mencari jagung yang sudah agak tua, lalu kami berenam membakarrnya.

Hari ini sungguh melelahkan……

Matahri timur menyapa paginya jatinangor, sambil mata sedikit terpejam kubuka horden jendela, sunbgguh silau ketika sinar mentari itu menyapa kedua mataku. Aku pun melangkahkan kakiku kemamar mandi….

“e..e…e… Kumaha ieu teh incu nenek, Kunaoan baru bangun…??tiba-tiba nenek menegur ku. Sambil tersenyum ku jawab pertanyaan nenek “ iya nek, hari ini sudah mulai belajar jadi anak kelas satu sudah mulai berangkat siang “.

“oh… kitu nya… ya udah atuh cepat mandi lalu sarapan “. Nanek berkata sambil mengelus pundakku.

“iyah nek”. Aku pun berlalu menuju kamar mandi. Sungguh aku bersyukur memiliki nenek yang sangat baik dan sayang padaku.

“TRING….TELOLELOLET… “.

Bel berbunyi, seluruh siswa kelas satu pun masuk kedalam kelas masing-masing termasuk juga aku. Aku pun masuk kedalam kelas, dimana didalam kelas begitu riuh. Aku langsung tepuk punggung Agung. “Gung, ada apa ini kok pada rebut ?’ aku bertanya kepadanya.

“oh, itu si Murni Ulang tahun. Udah ngucapin belum ?” Agung balik Tanya padaku, aku hanya menjawab “oh, iya “. Sambil berlalu menuju tempat dudukku.

Seorang Guru perempuan masuk kedalam kelas, Ibu guru itu berbadan sintal, dan masih cukup muda, berkulit putih dan sering sekali tersenyum.

“anak-anak perkenalkan nama ibu, ibu Unay.” Ibu itu memperkenalkan namanya, “mulai sekarang ibu yang akan menjadi wali kelas kalian, ibu mengajar materi Ekonomi”. Lanjutnya.

“bolehkah ibu tahu nama dan asal kalian ?”. lalu ibu guru membuka sebuah buku Absensi, mulai membacakan satu persatu nama siswa dan tibalah saat namaku disebut. “Ade Engkos” saya pun mengacungkan tangan lalu menjawab

“Saya, Bu”.

“Asal sekolah dan alamat ?” ibu guru bertanya lagi. Tanpa berpikir panjang aku pun menjawab “SMPN Cirebon. Bu”. Ibu guru itu sedikit berkerut dahi, lalu berujar “Cirebon, ooo… iya…iya… Terasi yah”. Dalam hati aku menggerutu “Sialan, apakah orang-orang disana hanya tahu Terasi saja jika bicara tentang Cirebon”. Aku pun menjawab “iyah, bu”.

“sekarang tinggal dimana, dan dengan siapa? Lanjut ibu guru.

“saya sekarang tinggal bersama nenek saya di tanjung sari bu”. Ketika ibu itu akan bertanya kembali bel berbunyi, jam pelajaran pertama pun berakhir, akhirnya aku bisa tarik nafasku dalam-dalam.

Bersambung……

Mirna, Itukah Kau......???

sepuluh tahun yang lalu kutinggalkan desaku, sebuah desa kecil yang mungkin tidak semua orang mengetahui, sepuluh tahun yang lalu aku pergi mengadu nasib di Ibukota, meninggalkan sejuta kenangan, sejuta khayalan dan sejuta impian. meninggalkan Mirna gadis desa yang selalu tertunduk tersipu malu ketika kuajak bicara, yang selalu setia mendengar segala keluh-kesah dan tawa bahagiaku.

namun kutelah meninggalkannya sepuluh tahun yang lalu.

***

pagi yang cerah di Ibukota, secerah hatiku hari ini. karena aku akan pulang, oh ibu oh bapa sudah kubayangkan seraut garis pertanda usiamu talah uzur dipelupuk mataku. ku langkahkan kaki dengan penuh harap dapat segera bertemu dengannya.

“oh ibu, oh bapak, aku akan kembali.” dalam hati aku merasa semakin rindu saja terhadap beliau.

“surabaya, surabaya berangkat jam 09.00″.

aku tersentak, seorang kenek bus menghampiriku menawarkan jasa.

Ku segera menuju bus yang sudah dijejali penumpang, “masuk Mas, masih ada yang kosong.” Seru kondektur. Kumelihat masih ada satu bangku kosong dipojok belakang, aku duduk, kusandarkan kepala dalam-dalam ke jok yang terasa keras.

sudah kubayangkan wajah innocent seorang Mirna, gadis desa yang selalu membuat hatiku gerimis setiap kali kumendengarnya. akankah Mirna setia menanti, semenjak pergi putus sudah tiada hubungan kabar darinya. hanya satu yang selalu kuingat darinya, ya… itu adalah ikrar kami berdua sebelum berpisah.

***

kala itu sore hari dipematang sawah, kami duduk berdua. aku cerita semua padanya persoalan yang membuatku harus pergi ke kota. Mirna mendengarkan setiap kata yang aku ucap dengan seksama, lalu ia berucap “Mas apakah Mas merasa sudah yakin dengan keputusan yang mas ambil?”

saya hanya menjawab “demi masa depan kita, saya yakin pilihan ini tidak salah.”

ku elus rambutnya yang halus, dengan setengah manja ia berkata padaku “Mas, mas baik-baik yah disana Mirna akan setia menanti, semoga apa yang dicita dapat tercapai.” pertanyaan darinya hanya aku jawab dengan anggukkan, “tenang saja, mas berjanji tidak akan terlalu lama meninggalkan Mirna, Mirna baik-baik yah disini jaga ibu.”

akhirnya pemtang sawah itu menjadi bukti cinta kita bersemi.

***

kira-kira 1/2 perjalanan lagi aku sampai kerumah, aku sengaja turun dulu hendak membelikan oleh-oleh untuk kedua orangtua dan satu adikku, tidak lupa teruntuk Mirna yang aku sayang. setelah kupilih-pilih akhirnya dapatlah, buah tangan yang tidak terlalu mahal namun layak guna.

matahari sudah hampir tenggelam setelah seharian berganti mobil sampai 4 kali aku harus meneruskan perjalanan kerumah memakai ojek, kampungku kini telah banyak kemajuan sangat berbeda dengan sepuluh tahun silam, sepeda motor sudah bisa dijumpai hilir-mudik.

rasa rinduku telah membuncah-buncah di dada, ku ketuk daun pintu rumah ibu yang sudah lekang dimakan waktu, setelah sekian lama ku ketuk tak ada juga suara yang menyahut, akhirnya kuputuskan untuk lewat pintu belakang saja, namun ketika aku akan melangkahkan kaki terdengar suara ibu memanggil namaku.

***

“ndu, nak itukah kamu…., aduh nak ibu sudah kangen sekali singin berjumpa denganmu nak.” sambil memeluk ku tiada henti ibu berucap.

“mari-mari masuk nak, bapak mu ada didalam sekarang bapakmu sring sakit-sakitan.” aku mengikuti langkah ibu dari belakang dan masuk kedalam rumah.

terlihat bapak sedang terbaring di bale-bale bambu yang agak reot, matanya terpejam. entah tertidur entah sedang apa, aku pun tak tahu. perlahan-lahan aku tepuk bahu bapak, “assalamu’alaikum bapak.” ku ambil tangan bapak lantas kucium dan kupegang erat-erat. terlihat tangan bapak penuh dengan urat-urat yang menonjol keluar, menggambarkan betapa berat beban hidup yang harus dijalani.

“bapak, ini windu pa. bagaimana keadaan bapak, bapak sehat?”

"beginilah ndu keadaan, bapak. bagaimana dengan mu sendiri nak?"

"alhamdulilah, windu baik-baik saja."

begitu haru aku melihat bapak.

“bu, neneng kemana? bagaimana sekolahnya?” aku bertanya pada ibu. neneng adalah adik perempuan ku satu-satu nya terakhir kali kupandang wajahnya sepuluh tahun yang lalu ketika itu ia masih kanak-kanak dan berwajah imut. dan kini aku akan melihat adikku yang sudah menjadi salah satu Kembang desa di kampungku.

“oh Neneng, ia sedang pergi ke surau. biasa mengajar anak-anak mengaji al-quran.” ibuku menjelaskan. “ndu, maghrib sudah hampir habis. Sudah sembahyang kah kamu?” suara halus ibu menyelusup ke dalam kalbuku. Kemudian ibu berlalu kedapur aku pun menyusul dibelakang ibu, hendak mengambil wudhlu.

Betapa sejuk air yang menimpa wajah ini, tak sesejuk air di kota. Lantas aku pun menghadap sang pencipta.

Kicau burung pagi membangunkan aku yang terlelap, baru lagi kali ini aku mendengar merdunya suara burung berkicau, ku buka jendela lebar-lebar, ku hirup udara pagi dalam-dalam. Kulirik arloji yang kusimpan di atas ranjang, masih jam 05.32.

Dahulu ketika masih kanak-kanak jam segini aku telah berkumpul bersama teman-teman di surau untuk bertadarus kepada Wa Encang, Ustadz di kampung ku, mengaji dengan suka cita dengan berjamaah, dengan suara yang kencang dan saling berlomba untuk menyelesaikan juz. Disitu pulalah aku mengenal Mirna, perempuan alim yang selalu tertunduk malu ketika kupandang wajahnya.

Tak terasa lama juga aku melamun sampai-sampai ketukan pintu kamar tak aku dengar, “Mas, ndu sudah siang. Apa mas tidak akan sembahyang?” terdengar suara halus perempuan, tapi itu bukan suara ibuku. Neneng kah itu adikku, oh betapa merdunya ingin segera aku melihat wajahnya.

“Neneng, itu kamu?” penuh harap aku bertanya

“iya Mas, ini Neneng”. Dari luar kamar terdengar suara menjawab.

Segera ku buka pintu kamar. Oh, alangkah aku takjub, Neneng kecilku kini telah menjadi gadis yang cukup menawan. Rambutnya tetap panjang sebagaimana dulu ketika aku meninggalkannya, namun wajahnya semakin manis saja, semakin aku bangga padanya. Neneng langsung mencium tanganku, “mas, apa kabar ndak kangen yah sama adiknya? Lama sekali di kota ndak pulang-pulang.” Sedikit manja ia berkata.

“iya, Neneng adik Mas yang paling cantik. Mas kan banyak kerjaan disana kan buat Bantu Neneng juga, kan Neneng bilang waktu dulu ingin jadi bidan. Gimana sekarang masih minat ndak?”

“yo masih Mas lah, Do’ain Neneng Mas ya sebentar lagi Neneng mau Ujian kelulusan semoga nilainya bagus, dan jadi masuk AKBID ntar kan Neneng bisa bantuin persalinan Ponakan Neneng.” Dengan manja ia berkata sambil berlalu, namun segera aku ambil tangan nya, “Neng, mas mau Tanya nih?”

“Tanya apa toh Mas?” Neneng terbengong.

“Mbak Mirna gimana kabarnya, menurutmu dia kangen ndak yah sama Kang Mas mu?”

“ia baik-baik saja Mas, kalo untuk pertanyaan itu lebih baik tanya ibu saja, saya ndak enak ngomongnya.”

“emang ada apa? Jangan bikin kang Mas mu bingung toh?” aku semakin penasaran dalam hati bertanya-tanya, ada apa.

Diluar sana sang surya sudah jauh berada di poros, bumi pun terasa terbakar dibuatnya. Aku langkahkan kan kaki keluar rumah, sungguh telah banyka berubah kampungku ini. Dulu belum banyak rumah yang di Ploor Lantainya namun kini sudah berkeramik semua, kendaraan bermotor pun bisa terlihat terparkir dihalaman rumah mereka. Sedang asyik aku mengingat memory masa lalu, aku dikejutkan oleh tepukan halus dipundakku. Rupanya itu Ibu.

“Ndu, ada apa toh nak dari tadi Ibu lihat kamu seperti orang bingung?” ibu bertanya padaku. “apa kamu sakit Ndu?”

“tidak Bu, saya baik-baik saja. Hanya hanya memikirkan sesuatu?”

“apa itu Ndu?” ibu bertanya padaku.

“ucapan Neneng tadi pagi, sungguh sampai saat ini aku masih bingung mencari jawabannya.” Suara ku sedikit mengeluh.

“memangnya adikmu ngomong apa toh?”

“Mirna bu.” Hanya itu yang mampu kuucapkan.

“Ndu, apa kau masih mencintai dan mengagumi Mirna?” Tanya ibu padaku.

“Mirna adalah segalanya bagiku bu, ia adalah motivasi dalam hidupku, dia adalah yang pertama dan terakhir bagiku, ia adalah wanita yang membuat hatiku selalu rindu bu.” Jawabku.

“Ndu, tidak ingatkah kamu. Sudah berapa lama kamu pergi dan tak ada kabar kemari. Tidak ingatkah kamu akan hal itu ? Mirna bukan yang dulu lagi, bukan Mirna yang dulu kau cintai, kau sayangi, kau kasihi dan dan bukan pula mirna yang kau kenal dulu. Semua telah berubah nak, seiring perjalanan waktu.” Panjang lebar ibu bercerita padaku.

“memangnya ada apa dengan Mirna, mengapa ibu berbicara begitu bu, tolong bu jelaskan padaku, ada apa saja yang terjadi selama aku pergi.” Dengan rasa penasaran yang membuncah aku bertanya pada ibu.

“Harus bagaimana ibu memulai ini semua nak, memang tak seharusnya ini terjadi. Waktu itu selepas kau pergi, hampir setiap hari Mirna datang kemari bertanya dan terus bertanya, apakah kau telah memberi kabar, bertanya kapan kau akan pulang dan begitulah dan tak pernah lagi ia datang kemari. Sampai suatu saat Ibu Lasti menghadap yang maha kuasa. Tak lama setelah kau pergi Ndu.” Disitu ibu menghentikan ucapannya.

“apa bu, apa saya tidak salah mendengar…” rasa penasaran berkecamuk didalam dada.

“iya nak, dan itu adalah awal dari…, maaf Ndu ibu tak sanggup tuk mengatakan ini.” Bulir air mata mengalir disudut mata ibu.

“apa bu, awal dari apa. Coba ibu jelaskan pada saya bu, jangan ada yang ditutup-tutupi.” Aku semakin penasaran, batinku tak tenang.

“setelah kepergian ibunya, Mirna semakin dilanda kesepian yang amat sangat, ibu sempa menyuruhnya tinggal dirumah ini agar kesedihan tak terlalu membelenggu hidupnya. Dan selama ia dirumah ini, ia selalu bertanya kapan kau datang, kapan kau pulang dan ia selalu bertanya pada ibu, apakah engkau benar mencintai dan menyayanginya. Kira-kira dua minggu ia menginap disini lalu ia meminta izin pada ibu untuk kembali kerumahnya, dan ibu pun mengizinkan karena selama tinggal disini ibu lihat Mirna sudah mulai menemukan semua hidupnya kembali, dan kejadian yang tidak terduga terjadi Ndu.” Ibu berhenti bercerita dan menyeka air matanya. “lanjutkan bu, terjadi apa?” pinta ku pada ibu.

“kejadian itu berawal dari suatu malam, ibu ingat sekali nak. Malam itu adalah malam selasa, ya malam selasa malam dimana esok adalah hari keempat puluh ibu Lasti meninggalkan kita semua. Sore itu Mirna pamit pada ibu untuk pergi mencari kebutuhan yang diperlukan untuk selamatan empat puluh hari ibunya, namun, Ndu sampai Larut malam ibu menunggu belum juga ia kembali, ibu resah, gundah dan sangat gelisah, dan kau tahu Ndu apa yang terjadi, pagi-pagi sekali Mirna datang kerumah dengan kondisi yang sungguh mengharukan".

"sungguh ibu tidak membayangkan ini akan terjadi padanya, sungguh nak ini adalah suatu musibah yang tak pernah terbayangkan." ibu berhenti berbicara dan mengusapa air matanya yang mengalir deras.

"musibah apa bu, apa sebenarnya yang telah terjadi pada Mirna?"

"kau yang sabar ya nak,...." ibu menghentikan ucapannya, "Mirna telah dirampok diperkosa dan dipercaya oleh segerombolan preman pasar."

"apa." bagaikan petir di siang bolong, sungguh keji sekali, siapa yang berani melakukan kebejatan itu kepada gadis sebaik Mirna.

"siapa mereka bu yang berani melakukan perbuatan sekeji itu?" tanyaku pada ibu.

"ibu pun tak tahu nak, sungguh ibu sangat menyesal membiarkan Mirna pergi sendirian, maafkan ibu nak. ibu telah lalai." ibu mengakhiri cerita.

"bukan ibu yang salah tetapi mereka, aku bersumpah bu akan membalaskan sakit dan perih yang dialami Mirna kepada mereka." dengan penuh emosi aku berkata.

"lalu sekarang Mirna dimana bu?"

"semenjak peristiwa itu, ibu tak tahu pasti dimana ia berada sekarang. namun menurut kabar yang ibu dengar ia kini menjual dirinya di jalan besar menuju arah kota".

"hah." sungguh aku hancur mendengarnya, sungguh aku sangat menyesal telah meninggalnya, aku sungguh sangat menyesal telah membiarkannya sendiri, sungguh aku sangat menyesal telah membuatnya merana.
dalam hati tekadku sudah bulat, "aku harus menemukan Mirna dan membawanya pulang, akan kubalaskan apa yang telah dialaminya kepada mereka."





***

bersambung…..