:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: Poem's, Lyric & Story: Serial : SUMPAH, GUE SAYANG LO !! Bag. 3

.......

JAngan Pernah Melupakanku

~.~

My Blog

Tempat Share orang2 yang suka nulis n membaca, Tapi maaf ga bisa di Copy...

Ramalan Jodoh

Jumat, 29 April 2011

Serial : SUMPAH, GUE SAYANG LO !! Bag. 3

Cerita Sebelumnya :
“tadinya, mau langsung kerumah, tapi sekarang mau ke karang setra dulu.” Jawab Ani, masih senyam senyum. “mbak Ani itu murah senyum ya, dari tadi senyum terus, pasta gigi mahal lhoo.” Melihat tingkah Ani yang begitu Ferdi menggoda, Ani hanya senyum lalu mencubit pinggang Ferdi, Ferdi hanya nyegir-nyengir kesakitan. “aduh, sakit tau.” Ferdi manyun-manyun, yang diajak dimarahin malah nyengir-nyengir, “kirain langsung kerumah, kalo langsung barengan gue aja, mumpung sejalur.” Lanjut Ferdi, “kapan-kapan aja Mas, makasih buat tawarannya, eh Mas mau pulang kapan, daritadi ngobrol aja, itu motor tinggal punya situ sendiri lho.” Ferdi seakan terjaga dari mimpinya, ternyata lama juga mereka mengobrol diruang parkir sehingga tanpa sadar tinggal mereka berdua dan seorang tukang sapu yang tersisa diruang parkir, Ferdi lalu berlari mendekati sepeda motornya, dimasukan kunci, tapi dia tidak menaikinya, dituntun motornya perlahan-lahan dan ternyata Ani masih berdiri ditempat mengobrol tadi, “kok, dituntun Mas, abis bensin ya?” Ani bertanya heran, ketika melihat Ferdi yang menuntun motornya, “hehe, engga, lha Mbak napa masih bediri disini, merangkap jadi satpam ya? Ferdi lalu tertawa.
Lagi-lagi Ani hanya tersenyum, seakan menghiraukan ucapan Ferdi tadi lalu melangkahkan kakinya, Ferdi yang sedang memegang stang motornya langsung loncat menduduki jok, namun tetap motor dituntunnya mengejar Ani yang telah berjalan didepannya, “lho ko engga dinyalain?” Ani dahinya berkerut saat Ferdi menuntun motornya bersampingan dengan dirinya, “gapapa lah, mumpung ada temen ngobrol, kan sekalian aja, hehe.” Ferdi menjawab asal, “ihh, aneh deh.” Ani menggeleng-gelengkan kepala, seperti tidak mengerti apa yang sebenarnya Ferdi maksud. Pintu gerbang sudah terlihat, dijaga dua satpam yang satu gemuk berkumis tebal, yang satu ceking, hilir mudik didepan gerbang, sesekali menundukkan badan saat ada mobil atau motor yang masuk dan keluar, akhirnya Ani dan Ferdi sampai juga dimuka gerbang, satpam yang gemuk itu tersenyum ramah sambil membuka palang pintu, dan menyapa “sore Mas-Mba, tumben jalan berdua.” Ferdi hanya mengangguk dan tersenyum Ani pun juga begitu.
Diluar gerbang lalu lalang kendaraan terlihat, “Bandung merayap.” Ferdi bergumam dalam hati, “Mbak, biasanya jam segini jarang kendaraan ke karang setra, awas hati-hati.” Ferdi mengeluarkan suara, “iya, makasih atas perhatiannya.” Ani menjawab sambil tersenyum.
“Lay, sini aku disini.” Terdengar sayup-sayup seseorang yang sedang memanggil, dan Ferdi mengenali suara itu, Ferdi dan Ani clingak-clinguk mencari sumber suara tersebut, mereka berdua saling berpandangan, dan mengangkat bahu. Tapi lagi-lagi terdengar suara sebut, “Disini Lay, didekat pintu gerbang.”
Ferdi lalu melihat-lihat keseliling, “siapa ya Mas yang manggil-manggil?” Ani berbicara sambil mendekatkan dirinya pada motor Ferdi, Ferdi yang masih clangak-clinguk mencari sumber suara hanya menjawab, “kayaknya gue kenal suara itu.” Belum selesai dirinya menutup mulut pandangannya terbentur sesosok makhluk yang sedang melambai-lambai dari samping pintu gerbang tempatnya tadi keluar, “huuu.” Ferdi membuang nafas dan menggeleng-gelengkan kepala, Ani lalu mendekat dan bertanya heran, “Siapa Mas?”

Ferdi tidak segera menjawab, telunjuknya diarahkan kedepan hidungnya dan digerakan keatas bawah, sosok itu perlahan-lahan mendekat, lalu Ferdi memalingkan wajahnya kearah Ani, “itu temen kost an gue.” Ani hanya manggut-manggut, “ngapain lo kemari?” Ferdi bertanya pada sosok yang baru mendekatinya itu, yang ditanya malah diam sesekali mengusap keringat didahinya, “maaf Lay, tadi aku habis main kerumah kawan didekat sini, lalu hehe.”
Yang ditanya menjawab cengar-cengir sesekali melirik kearah Ani, Ani memalingkan wajahnya, Ferdi yang mengetahui keadaan itu langsung saja menutup muka Ucok dengan telapak tangannya, “napa lo ngos-ngosan gitu, cengar-cengir ga karuan, udah sarap lo sekarang.” Ucok tidak segera menjawab matanya masih sibuk memandangi Ani, yang memang manis, “Lay, boleh juga kau punya, jadi ngiri aku.” Ucok berbisik pada Ferdi,  dari arah berlawanan angkutan coklat kuning melaju perlahan-lahan, Ani melambaikan tangannya mobil pun berhenti, “Mas aku duluan ya.” Tersenyum lalu naik mobil yang terus meluncur.
“Apaan si lo, kumat deh ayan nye kalo liat cewek cakep an dikit.” Ferdi segera menstarter motornya, “eh, Lay. Belum sempat aku kau kenalkan dia, siapa dia itu Lay, apa dia itu Ani, yang sering kau bicarakan?” Ucok bertanya dengan muka yang serius, Ferdi tidak menanggapi, lalu memasang helm nya, dan menaikan gigi, Ucok hanya manyun-manyun saja pertanyaannya diacuhkan, akhirnya dua orang jomblo menggabung juga bersama dengan jejal nya jalanan kota Bandung.
Diluar malam ini hujan, Ferdi menikmati kopi yang diseduhnya tadi, sementara Ucok sudah terlelap dalam dengkurnya, Ferdi hanya tersenyum melihat kelakuan teman satu kos nya ini, yang kadang nyenengin, kadang juga ngeselin, mengingat-ingat itu Ferdi hanya tersenyum-senyum.
Diambilnya Hp dari saku celana, “wah ada sms dari si manis.” Ferdi berujar kegirangan dalam hati, 2 inbox, 3 panggilan gagal, dari datu nama yang sama ‘Vita’, sms yang pertama berbunyi, ‘Malem Mas, lagi Ol ga?’, lalu membuka pesan masuk yang kedua, ‘Ihh, g dBlz, lg Sbuk y Mas :-(‘, Ferdi tersenyum sendiri, lalu membaca lagi pesan masuk nya, sudah 3 bulan ini Ferdi akrab dengan ‘Vita’, jika tidak dirinya yang memulai, maka Vitalah yang memulai mengirim pesan, Ferdi menyadari sesuatu sedang terjadi pada dirinya, dirinya merasa nyaman jika sudah mengobrol dengannya, baik lewat telpon, sms, atau chat di FB, sampai-sampai tidak sadar dirinya tersenyum-senyum sendiri, Ferdi tidak membalas pesan ‘Vita’, tetapi dirinya menyalakan laptopnya, perlahan tapi pasti membuka jejaring sosial yang paling heboh seantero jagat ini, mengarahkan kursor pada kotak pencarian diketiknya huruf V, muncullah sederetan nama, Vanny, Venessi, Vina, Vino, Vita, diklik olehnya nama ‘Vita’, selang berapa detik kemudian terpampanglah seraut senyum yang manis dilayar laptop, “hmm.. manis banget sih senyumnya.” Gumam Ferdi dalam hati, Ferdi mulai menulis sesuatu didinding ‘Vita’.
‘Maaf, manis. Aku baru buka FB sekarang, tadi aku ada kerjaan. Met istirahat yah.’ Ferdi membalas sms ‘Vita’ di dinding FB nya.
Sebelum mengakhiri perselancarannya di dunia maya, ia sempatnya meng up-date status, ‘Malam ini ku tak dapat tidur, wajahmu menggoda selalu.’ Sebait lirik lagu Bang Haji ditulisnya. Lalu laptop ia matikan, mata mulai dipejamkan tubuh pun mulai dibaringkan, bergumul kembali bersama Ucok dalam melodi dengkur.

***

4. A S A

“Lay, kau ini aku lihat-lihat semakin akrab saja dengan cewek yang ada di Facebook itu.” Tanya Ucok suatu siang, Ferdi hanya menjawab singkat, “ya, gitulah.” Dirinya lalu melanjutkan kembali membersihkan motornya, hari ini tanggal merah Ferdi hanya dirumah saja dan Ucok libur kuliah.
“Lay, aku heran kenapa kau bisa seakrab itu, kau belum tahu siapa dia, bagaimana dia, nah yang sudah jelas-jelas didepan mata saja kau acuh tak acuh, aku rasa Mona masih berharap pada kau, lagi pula itu teman kerjamu, eh.. siapa?” Ucok menggaruk-garuk kepala berpikir, “Ani.” Ferdi menimpali, sambil tetap membersihkan motornya, “nah iya itu Ani, aku rasa dia pun suka kau, kau saja yang masak bodo atau memang bodoh.” Mendengar ucapan Ucok yang tiada hentinya Ferdipun langsung melirik pada Ucok dan menempelkan telunjuknya tepat dibibirnya, seolah pertanda menyuruh Ucok menghentikan ucapannya. Ferdi berdiri dan mengibas-ngibaskan lap ke stang motornya yang sudah mengkilap, menarik nafas panjang, lalu duduk merebahkan badannya disamping Ucok, “Lo, gak tau Sob, gimana rasanya orang jatuh cinta, lo ga bakal ngomong gitu kalo lo udah ngerasain yang namanya suka.” Ferdi berkata sambil pandangannya terarah kelangit-langit dan bibirnya tersenyum, terbayang olehnya seraut wajah manis ‘Vita’.
Ucok tidak menjawab apa-apa, diam dan menyenderkan badan ditembok, rumah ‘Katakan sejujur nya.. Cintamu untuk siapa… katakan sejujurnya cintamu untuk siapa,’ Hp berbunyi, Ferdi merogohkan tangan ke saku celananya sementara nada dering masih terus bernyanyi,, telepon masuk. ‘Mona’, perlahan dirinya beranjak dari posisinya, berdiri agak menjauh dari Ucok, Ucok sendiri lalu masuk kedalam rumah.
‘Hallo.”  Ferdi membuka pembicaraan.
‘Mas Ferdi, maaf sebelumnya kalau Mona ganggu waktu liburnya.’ Terdengar suara Mona dari line telepon, ‘Engga, apa-apa Mon, ga ganggu ko, ada yang bisa dibantu?’ jawab Ferdi, ‘Itu Mas, itu anu.. eh.. i.. i..’ terdengar suara Mona gemetaran, ‘Iya Mon, itu anu apa, gue jadi bingung, santai aja bicaranya.’ Suara ferdi agak ditekan.
‘Mona takut Mas buat ngomongnya.’  Suara   Mona terdengar semakin pelan
‘Mona, denger ya.. gue udah lama tobat, gue udah kaga makan perawan lagi, jadi ga usah takut.. hehe.’ Ferdi sengaja menjawab begitu supaya suasana tidak terlalu kaku, ‘Ihh.. Mas Ferdi..’ terdengar Mona tersenyum, ‘Itu Mas, Mona jadi malu sekarang kalo ketemu Mas Ferdi.’ Suara Mona terdengar lagi.
‘Malu? Malu ngapa, lo masih pake baju kan?’ Ferdi menjawab asal, ‘Ahh.. Mas Ferdi becanda terus nih, Mona itu malu ketemu Mas Ferdi, nanti Mas Ferdi pasti ketawain Mona karena soal yang kemarin itu.’ Suara Mona mencak-mencak. Mendengar Mona mencak-mencak begitu Ferdi hanya tersenyum-senyum, ‘Jujur juga akhirnya, hehe, keceplosan yah Non..’ menggoda  Mona.

‘Ihh.. tuh kan Mona diketawain, sebel.. sebel..sebel, ya abisnya Mas Ferdi itu ga pernah bisa serius, becanda ajah, Mona itu sayang banget sama Mas Ferdi, Mona pengen Mas Ferdi jadi pendamping Mona, Mas Ferdi napa sih ga mau sama Mona, Mona jelek ya?’ Ferdi terbengong mendengar pengakuan Mona yang lugu, takut salah bicara ,jadinya lama juga dirinya terdiam, ‘Mas.. Mas Ferdi.., ko diem, jawab dong Mas.”

Terdengar kembali suara kawat disana, Ferdi tersadar dari lamunannya ‘Eh.. i.. i.. iya maaf, bukan itu loh Mon, gue cuma ga mau aja, rasa cinta merusak persahabatan kita, gue sayang ma lo semua, kalian itu yang terbae buat gue, gue harap lo ngerti Mon, lagian lo itu kecakepan kalo buat gue, ntar lo yang malu kalo lagi jalan ama gue terus  ada yang nanya, mbak.. mbak ga malu ya jalan bareng tukang kebunnya.’ Ferdi menjawab apa adanya, ‘Iyah Mas, Mona ngerti ko, Mas masih mau kan temenan sama Mona?’ suara penuh harap.
“Itu pasti Mon, u are the best friend.” Jawab Ferdi singkat.

‘Ya udah Mas, makasih Mas udah mau dengerin ungkapan hati Mona, sampe ketemu nanti Mas, dadah.” Mona mengakhiri obrolan telepon,
Setelah obrolan berakhir Ferdi hanya bisa menarik nafas panjang, lalu memandang-mandang layar Hp nya, terlihat poto seorang wanita setengah baya dilayar screen saver Hp, Ferdi tersenyum teringat Ibu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar