:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: Poem's, Lyric & Story: Serial : SUMPAH, GUE SAYANG LO !! Bag. 4

.......

JAngan Pernah Melupakanku

~.~

My Blog

Tempat Share orang2 yang suka nulis n membaca, Tapi maaf ga bisa di Copy...

Ramalan Jodoh

Minggu, 01 Mei 2011

Serial : SUMPAH, GUE SAYANG LO !! Bag. 4

Cerita Sebelumnya :

“Lay, kau ini aku lihat-lihat semakin akrab saja dengan cewek yang ada di Facebook itu.” Tanya Ucok suatu siang, Ferdi hanya menjawab singkat, “ya, gitulah.” Dirinya lalu melanjutkan kembali membersihkan motornya, hari ini tanggal merah Ferdi hanya dirumah saja dan Ucok libur kuliah

‘Ihh.. tuh kan Mona diketawain, sebel.. sebel..sebel, ya abisnya Mas Ferdi itu ga pernah bisa serius, becanda ajah, Mona itu sayang banget sama Mas Ferdi, Mona pengen Mas Ferdi jadi pendamping Mona, Mas Ferdi napa sih ga mau sama Mona, Mona jelek ya?’ Ferdi terbengong mendengar pengakuan Mona yang lugu, takut salah bicara ,jadinya lama juga dirinya terdiam, ‘Mas.. Mas Ferdi.., ko diem, jawab dong Mas. 



Ferdi mundar-mandir depan belakang, masuk –keluar mencari Ucok, tapi Ucok tidak ada juga, kesal yang dicari tidak ketemu juga, akhirnya Ferdi merebahkan badannya dikursi, karena capek akhirnya tertidur juga.
Sementara di rumah sebelah, Ucok terlihat sibuk mengangkut-angkut barang, “udah Bang, istirahat dulu.” Seorang perempuan muda berkata sambil menghampiri Ucok yang sedang mengelap peluhnya, ditaruhnya oleh perempuan tadi sepiring penganan kecil “kerupuk begadang, asli batak punya ini, enak kali Kak.” Ucok mengambil satu penganan dari atas piring, “dilantak lah Bang semua, mungkin baru ini lagi makan begadang.” Perempuan muda yang juga berlogat batak, begitu akrab dengan Ucok, Ucok pun tidak malu-malu lagi untuk mengajak bicara, “okelah Kak, sudah petang, kurasa barang sudah masuk semua, aku permisi, mampir lah ke kost an aku sebelah kiri rumah ini.” Ucok pun melangkahkan kakinya keluar rumah, si empunya rumah tersenyum melihat tamunya pergi, lalu menutup pintu.
Ucok berjalan pelan mengendap-endap kan langkahnya, karena dirinya takut ketahuan Ferdi kalau telah keluar begitu lama, Ucok akhirnya bisa menarik nafas lega, saat melihat sesosok sedang terlelap dikursi dekat meja kerjanya, sengaja dirinya tidak membangunkan Ferdi, lalu dirinya bergegas menuju kamar mandi.
Ferdi mengeliatkan tubuhnya menggosok matanya, melihat sekeliling ruangan, lampu sudah dinyalakan, berarti Ucok sudah pulang, Ferdi bangun dan berjalan menuju kamar, dilihatnya Ucok sedang menyisir rambutnya yang masih basah, “darimana lo, gue cari-cari kaga ada?” Ferdi berdiri didepan pintu kamar sambil memperhatikan Ucok yang masih asyik menyisir dan bersiul-siul kecil. Lalu Ucok memalingkan tubuhnya dan menyandarkan badannya dilemari tersenyum-senyum, “ada anak baru Lay disebelah, aku tadi Bantu-bantu dia, lagi pula kau sendiri sedang asyik bertelpon ria tadi, dia orang Siantar, aku jadi serasa dikampung halaman Lay dengan adanya anak baru itu.” Ucok menjawab sambil terus bersiul-siul kecil, Ferdi nyengir sambil geleng-geleng kepala saja melihat Ucok seperti itu, “seneng bener lo, cowok apa cewek anak baru ntu?” Tanya Ferdi lagi, “cewek.” Jawab Ucok cepat.
“Huuhhhh.” Ferdi menghela nafas panjang, “pantes.” Berlalu menuju kamar mandi meninggalkan Ucok yang bersiul-siul sambil sesekali merapikan kembali tatanan rambutnya.



“Permisi, Assalamu’alaikum”
Sudah berulangkali perempuan muda itu mengetuk pintu, dan mengucap salam, namun tidak ada tanda-tanda akan dibukakan pintu, dirinya mencoba kembali mengetuk pintu.
“lo denger ada yang ketok-ketok pintu ga?” Ferdi bertanya pada Ucok, “ya aku juga dengar, siapa ya?” Ucok malah balik bertanya, dirinya menggaruk-garuk kepala, dan kini keduanya saling melempar pandang, akhirnya Ferdi beranjak dari duduknya, melangkahkan kakinya, dari luar terdengar kembali seseorang berucap salam, “Ya, sebentar.” Ferdi menyahut.
Ferdi pun membuka handle pintu, dan terlihatlah seorang perempuan muda berdiri dihadapannya, sambil menenteng bungkusan dalam plastik hitam, “Malam Bang, perkenalkan, saya tetangga sebelah, yang baru tadi siang pindah.” perempuan muda itu berkata sambil tersenyum malu-malu. Ferdi membalas senyum, dijulurkan tangannya, “biasanya orang-orang manggil Ferdi.” Memperkenalkan diri, “Indah.” Perempuan muda itu pun menyambut uluran tangan Ferdi, mendengar nama perempuan muda tadi Ferdi sedikit tersentak ‘Indah’ nama yang tidak asing baginya, “senang bisa bertetangga, kalo ada perlu apa-apa tidak usah sungkan untuk datang kesini, gue sama Ucok pasti bakal Bantu kalo mampu.” Ferdi berbicara panjang lebar, “iya Bang saya juga senang bisa dapat tetangga yang baik seperti Abang ini, ini Bang ada sedikit penganan, lumayan buat temen ngobrol Bang, salam buat Bang Ucok, mari Bang.” Setelah berbicara dan meyerahkan barang yang dibawanya, Indah perempuan muda itu lalu pamit, Ferdi tidak sempat lagi berucap apa-apa karena perempuan muda itu telah membalikkan badannya, berlalu menuju kost an nya yang berjarak 30 meter dari kost an dirinya.
“siapa Lay?” Ucok bertanya pada Ferdi yang kini telah masuk kembali kedalam rumah,  Ferdi tersenyum, “tuh, gacoan lo.” Menjawab pertanyaan Ucok dengan sedikit mengejek.
“Indah?” Ucok bertanya bersemangat, “kenapa kau tak panggil aku, pliss.. buat yang satu ini untuk aku Lay, jangan dilantakkan kau semua, aku tidak kebagian nanti.” Berkata Ucok dengan nada memelas.
“tenang, ga usah cemas gitu, iya tadi Indah yang dateng, lo ga usah parno gitu ahh, lagian sapa juga yang mau deketin Indah, ketemu aja barusan, lo ketauan banget gak lakunya sih. Ferdi menjawab sambil tertawa, Ucok hanya manyun-manyun saja, “eh iyah, tuh ada titipan dari Indah.” Ferdi menunjuk kantong hitam yang tadi diberikan perempuan muda tersebut, lalu meninggalkan Ucok sendirian menikmati bungkusan dari Indah, dirinya melangkahkan kaki menuju teras, duduk-duduk menyandarkan badan didinding rumah, menatap jauh ke langit yang kelam, hatinya tiba-tiba gundah sejak mendengar kembali nama itu, nama ‘Indah’.
Nama itu pernah ada dihatinya, nama itu pernah menghias hari-harinya, cinta yang begitu besar yang harus berakhir dengan tragis, Ferdi menundukkan kepalanya mengingat itu semua, karena hingga saat ini dirinya masih belum bisa melupakan kenangan itu, kenangan pahit dalam hidupnya, saat harus melihat ‘Indah’ pujaan hatinya harus bersanding dengan pemuda lain, “ini bukan salahmu sayang, hanya takdir saja yang mengharuskan seperti begini, semoga engkau bahagia, aku turut bahagia.” Teringat saat-saat itu, saat dirinya ucapkan ucapan selamat, dihari perkawinan ‘Indah’, ucapan yang getir, ucapan yang mungkin terakhir kali dan satu-satunya yang pernah dirinya ucapkan dihidupnya.
Teringat kembali saat wajah pengantin perempuan itu bermuram, matanya sembab, wajah yang tertunduk, yang sama sekali tidak menikmati perayaan perkawinannya, perlahan Ferdi menarik nafasnya, matanya berkaca-kaca, teringat kembali betapa tersiksanya ‘Indah’ yang harus menjalani hidup dengan seorang tidak pernah ia cintai dan belum dirinya kenal, “Indah sayang, maafin gue, bukan gue ga serius ma lo waktu itu. Tapi, gue belum siap jalanin kehidupan rumah tangga diusia kita yang masih muda banget, gue nolak itu karena gue ga ingin bawa lo idup susah, tapi karena.. gue pengen gue punya pegangan dulu, buat masa depan kita. Kalo aja orang tua lo bisa sabar sedikit, kita pasti gak kayak gini.” Menggerutu, dan sesal dalam hati, Ferdi lalu beranjak dari duduknya, mengusap-usap wajahnya lalu masuk kedalam rumah, dijumpainya Ucok sedang asyik membuka-buka folder dilaptopnya, seperti sudah mengetahui ada Ferdi didekatnya Ucok membuka suara tanpa memalingkan tubuhnya, “darimana kau, itu tadi Hp kau bunyi, oh iya maaf ! aku tak permisi dulu pinjam laptop kau ini.” Berkata Ucok sambil ngangas ngenges. Ferdi tidak begitu mempedulikan ucapan Ucok, diambilnya Hp dari atas meja, dirinya lalu merebahkan diri kedalam kasurnya mulai membuka Hp, ada SMS dari ‘Vita’ dibuka pesan masuknya tersebut, ‘malem mas, maaf rulez, tadi Hp nya ketinggalan dirumah, akunya kerumah temen.. hehe :-)’.
‘Iyah gpp, lagi apa nih? :-)’ meluncurlah satu pesan singkat dari Hp Ferdi, setelah itu dibenamkan wajahnya dalam-dalam kedalam bantal, membiarkan Ucok yang sedang asyik dengan aktivitasnya.
“eh Lay, banyak kali kau punya catatan. Dari kapan kau suka nulis begini, ajari aku lah.” Ucok kembali membuka suaranya, walau konsentrasinya masih tertuju pada layar laptop dihadapannya. Sedikit mengeliat Ferdi dengan sikap yang enggan, sejenak menarik nafas panjang, lalu menjawab pertanyaan Ucok, “gue, mulai nulis, dari mulai otak gue berfungsi.”
“hebat kali kau, ha.. ha, eh Lay ini kok ada folder yang kau beri nama unpublish, kenapa tidak bisa aku buka, haa aku tau, jangan-jangan..” Ucok berkata sambil tersenyum-senyum.
“hmm…” Ferdi lalu bangun dari kasurnya, “mulai deh setan ngeresnya dateng, lo tau napa gue kasih nama gitu, ya soalnya itu emang sengaja ga gue publikasi in, itu catetan-catetan khusus gue pribadi.” Menjawab pertanyaan Ucok dan perlahan menghampiri Ucok dan berdiri disampingnya, Ucok hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Ferdi.
“dilihat dari tulisan-tulisan yang kau buat, kau ini memang pandai membuat tulisan, pastilah kau juga pandai berkata-kata, pandai berkata-kata pastilah mudah dapat cewek, nah tapi kau ini aku lihat-lihat tak pernah kau sama cewek, ada yang mau kau mengelak, ada yang suka kau menghindar, apa sebetulnya kau punya pacar tapi kau tidak mau mengenalkan pada kawan kau ini, atau kau ini memang berbeda?” Ucok bertanya pada Ferdi.
Ferdi hanya terenyum mendengar pertanyaan Ucok, “Ucok, sohib gue yang paling bawel. Dengerin ye, gue cuma hargaiin masa lalu gue, nah yang lo maksud berbeda itu apa?” bertanya Ferdi pada Ucok.
“hehe.. aku kira kau berbeda gitu, ga suka cewek.” Ucok cengar-cengir menjawab.
“Ahh sialan lo, gue normal kali, kalo gue ga normal lo udah gue abisin tiap malem.” Sambil tertawa Ferdi menonjok pelan tengkuk Ucok.
“syukurlah kalau kau masih normal, jangan sampai kejadian, amit-amit perjakaku hilang kena kau, buat menghayalnya pun aku tak terbayangkan itu terjadi.. ha..ha..” Ucok menjawab sambil tertawa, lau melanjutkan ucapannya, “menghargai masa lalu, apa itu Lay maksud kau, aku kurang paham?”
Ferdi menghela nafasnya, ternyata jawabannya tadi menjadi boomerang baginya, hingga akhirnya dirinya harus menceritakan juga tentang masa lalunya, “Gue dulu pernah punya cewe namanya Indah. Gue sayang banget ama dia, dia juga sayang ama gue, tapi akhirnya gue musti kecewa lantaran orang tuanya ngawinin dia ma cowok laen,  padahal dulu kalo gue nyanggupin ngawinin pasti gue sekarang yang jadi lakinya, tapi dulu gue mikir gue ama dia itu masih terlalu muda juga buat berumah tangga, lagian gue waktu itu belum punya kerjaan yang tetep, gue bilang ama orang tuanya, kalo gue ga bakal main-main gue pasti ngawinin anaknya, tapi ternyata orang tua cewek gue tetep juga ngawinin anaknya ama anak temennya, sakit gue musti liat orang yang gue sayangin nyanding bareng orang lain dipelaminan, gue juga yakin Indah rasain apa yang gue rasain, tapi gue ga ada daya apa-apa semua udah kejadian, gue cuma bisa nangis, gue pengen banget marah tapi buat apa gue marah-marah ini udah takdir, nasib percintaan gue emang ga pernah mulus.” Terlihat raut wajah Ferdi sedih.
“Lay, maafin aku Lay harusnya aku tidak bertanya bodoh seperti itu, sampai – sampai buat kau bersedih, aku turut merasakan Lay, semua orang pasti akan sulit buat terima itu, dan kau termasuk orang yang kuat, orang yang tabah Lay, kalau saja itu kena ke aku, mungkin aku sudah bunuh diri Lay.” Ucok dengan raut penyesalan berucap.
Ferdi tersenyum hambar, memandang layar laptopnya, “yah, itu udah jadi nasib gue sob, yang pasti gue ga pernah main-main soal perasaan, gue ga mau jadi benci kalo gue udah sayang ma orang.” Membuka suara.
“pantas Lay, aku lihat-lihat tulisan kau, metal semua, alias mellow total, rupa-rupanya pengalaman juga yang kau masukkan, tapi tidak baik Lay kau menutup diri begitu, masih banyak yang peduli sama kau ini. ada Mona, dan itu teman kerjamu itu kau tinggal tentukan salah satu saja, mungkin dengan kau membuka hati kau perlahan-lahan bisa melupakan kenangan masa lalu itu.” Ucok mencoba menyemangati Ferdi, “Iya, sob. Gue juga ga pengen idup terus dalam kekangan masa lalu gue, gue sekarang lagi suka sama cewek, tapi gue masih ragu ama perasaan ini sob.” Ferdi berujar sambil tersenyum-senyum.
“nah gitulah Lay, senang aku mendengarnya, akhirnya seorang pujangga telah menemukan jati dirinya.” Ucok berkata sambil bergaya seolah sedang  membaca puisi, Ferdi tersenyum-senyum melihat Ucok yang begitu.
“siapa itu Lay, Mona kah, atau..?” Ucok tidak melanjutkan kembali ucapannya.
Ferdi menggelengkan kepalanya, “cewek Fb gue sob.” Ferdi menjawab singkat.
“Apa?” sedikit keras suara Ucok penasaran.
“temen Fb gue, ngapain sih lo pake teriak-teriak, udah malem ni, pengen orang-orang pada bangun terus nyangka lo diperkosa gue.” Ferdi sedikit terkejut.
“alamak, kau ini apa-apan Lay. Dia itu kan maya Lay, masih banyak yang bisa kau punya yang nyata, masih kurang?” Ucok bertanya serius setengah tidak percaya apa yang Ferdi ucapkan barusan.
“gue serius sob, gue nyaman ama dia, gue jadi penasaran ama dia dan suatu saat gue pengen dan pasti samperin dia.” Ferdi berkata pada Ucok dengan wajah berseri seri.

“yah bingung juga aku, kalau tak kesampaian terus kau sakit hati bagaimana.” ucok menimpali jawaban Ferdi, “awas kau, bisa-bisa gila.” Kata Ucok lagi.
Ferdi bangkit dari duduknya memandang jam dindingnya, sudah menujukkan pukul 01.30 dini hari, dirinya mulai menguap, “udahlah itu jadi urusan gue, yang penting gue serius, gue pengen tidur dulu, lo ga ngantuk?”
Ucok tidak menjawab ucapan Ferdi, matanya masih sibuk memandang-mandang tulisan dilayar laptop.  Akhirnya Ferdi meninggalkan Ucok yang masih terjaga, dirinya lalu mulai memejamkan mata.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar