:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: Poem's, Lyric & Story: Serial : SUMPAH, GUE SAYANG LO !! Bag. 5

.......

JAngan Pernah Melupakanku

~.~

My Blog

Tempat Share orang2 yang suka nulis n membaca, Tapi maaf ga bisa di Copy...

Ramalan Jodoh

Minggu, 01 Mei 2011

Serial : SUMPAH, GUE SAYANG LO !! Bag. 5

Cerita Sebelumnya :

“nah gitulah Lay, senang aku mendengarnya, akhirnya seorang pujangga telah menemukan jati dirinya.” Ucok berkata sambil bergaya seolah sedang  membaca puisi, Ferdi tersenyum-senyum melihat Ucok yang begitu.
“siapa itu Lay, Mona kah, atau..?” Ucok tidak melanjutkan kembali ucapannya.
Ferdi menggelengkan kepalanya, “cewek Fb gue sob.” Ferdi menjawab singkat.
“Apa?” sedikit keras suara Ucok penasaran.
“temen Fb gue, ngapain sih lo pake teriak-teriak, udah malem ni, pengen orang-orang pada bangun terus nyangka lo diperkosa gue.” Ferdi sedikit terkejut.
“alamak, kau ini apa-apan Lay. Dia itu kan maya Lay, masih banyak yang bisa kau punya yang nyata, masih kurang?” Ucok bertanya serius setengah tidak percaya apa yang Ferdi ucapkan barusan.
“gue serius sob, gue nyaman ama dia, gue jadi penasaran ama dia dan suatu saat gue pengen dan pasti samperin dia.” Ferdi berkata pada Ucok dengan wajah berseri seri.




5. UJIAN HATI


“Pagi eh Siang Mas Ferdi.” Sapaan halus menghampiri Ferdi, “Iya, Pagi eh siang juga.”  Ferdi menoleh kebelakang ternyata Ani yang barusan menyapanya, tanpa dipersilahkan lagi Ani langsung duduk di kursi tempat kerja Ferdi, tersenyum-senyum, Ferdi menjadi sedikit agak risih melihat Ani yang seperti itu, “Kerjaanmu udah kelar Mbak?” Ferdi pun memulai pembicaraan untuk mencairkan suasana yang sedikit beku.
“Udah Mas, Mas sendiri?” Ani balik bertanya, “Barusan gue kirim laporan ke pusat.” Jawab Ferdi singkat, menyandarkan badannya dikursi kerjanya.  “Jam istirahat ko engga makan siang Mas?” Tanya Ani lagi sembari tidak henti-hentinya melayangkan senyuman.
“lagi engga laper, Mbak sendiri ga makan siang?” Tanya Ferdi.
“Tadinya sih hampir aja kekantin, tapi liat Mas Ferdi duduk-duduk disini yah aku samperin, tapi kayaknya sekarang ga jadi deh aku ke kantinnya.” Jawab Ani polos.
“kenapa ga jadi?” Tanya Ferdi lagi
“engga apa-apa.” Ani menjawab singkat.
Ferdi menatap ruangan kerjanya, terlihat pot bunga berisi tanaman bonsai di samping layar monitornya, ada juga Foto diatas meja kerjanya, tumpukan berkas-berkas yang tersusun rapih, “foto siapa tuh Mas, cantik yah, pacarnya yah?” Ani membuka suaranya lagi. Ferdi tersenyum sambil melirik Foto yang dimaksud Ani,    “itu bukan pacar, cuma calon pacar, itu juga kalo gue lolos seleksi sesuai kriterianya.. he..he..” Ferdi menjawab asal sambil tersenyum.
“hmm… ga ada lowongan dong.” Ani berkata genit.
“maksudnya?” Ferdi bertanya heran.
“padahal aku juga bersedia buat jadi pacar lhoo Mas, tapi Mas udah punya pilihan lain.” Ucapan Ani sedikit pelan, tapi jelas terdengar oleh Ferdi.
“ah.. Mbak Ani ini bisa aja becandanya, udah bunyi tuh Mbak saatnya kembali bekerja.” Ferdi berkata pada Ani.
Ani hanya manyun lalu mengerdipkan matanya sebelum akhirnya melangkahkan diri meninggalkan Ferdi menuju ruangan kerjanya. Ferdi hanya tesenyum-senyum mengingat obrolannya tadi, Obrolan jam istirahat.

‘Sore Mas Ferdi, maaf tadi soal di kantor, tapi itu aku jujur lhoo Mas, aku sayang sama  Mas. Sikap Mas selama ini yang buat aku kagum, aku ngerasa  nyaman aja deket Mas, aku sering berharap bisa deket sama Mas, tapi aku tau sekarang kalo Mas udah ada pilihan sendiri, Mas jangan benci yah sama aku.
Ani’
Ferdi tersenyum membaca pesan masuk di Hp nya, Ani gadis sintal yang selalu menghiburnya dikantor saat-saat dirinya sedang suntuk itu tak disangka ternyata menaruh rasa padanya, tetapi Ferdi dirinya merasa lebih nyaman berteman dengan Ani, ‘Mbak, gue udah kenal sama Mbak Ani itu udah syukur banget, Mbak itu udah perhatian banget juga udah baik ma gue, gue naruh hormat sama Mbak, gue bukan apa-apa Mbak.’ Ferdi mengirimkan pesan balasan di Hp nya. Ferdi tersenyum-senyum sendiri melihat kenyataan yang terjadi pada dirinya, mengapa dirinya begitu banyak yang suka.
Sore itu Ucok tidak ada dirumah, tidak salah lagi pasti sedang namu ke penghuni baru itu, Ferdi sendiri tidak mempedulikan itu. dirinya lalu menyalakan laptopnya, mulai menulis sebuah catatan :
Cinta Sejati
Cinta sejati selalu hadir disaat yang tidak pasti
Cinta sejati datang seiring dengan rasa hati
Tidak ada paksaan dan pintaan
Tapi dari hati
Cinta sejati akan selalu memahami
Akan selalu mengerti dan tidak pernah mengenal pamrih
Cinta sejati itu suci titipan Illahi
Jika cinta sejati terdustai
Maka dukanya akan tersimpan sampai mati

By : Pemuja Yang Terluka

Setelah selesai menulis, Ferdi menyandarkan tubuhnya dikursi tempatnya duduk lalu diputarnya sebuah lagu Band Indo Jadul Stinky “Jangan Tutup Dirimu” lagu mulai mengalun renyah ‘Jangan Tutup Dirimu sebelum aku datang’ sebait lirik lagunya terdengar suara Andre Taulani sang Vokalis yang kala itu masih imut-imut saat single lagu ini muncul. Ferdi meraih Hp yang ada disamping laptopnya, “udah berapa hari ini ko Vita ga ada kabarnya ya, hmm.. gue jadi kangen nih, mending gue telpon atau gue SMS ya.” Ferdi berkata dalam hati.
Mulailah jari-jarinya menekan satu-persatu tombol di Hp, ‘Sore manis, apa kabar, udah lupa yah sama aku?’ dikirimnya pesan singkat kepada Vita, menunggu tak ada juga balasan, lagu Stinky masih mengalun, Ucok belum kembali kerumah padahal hari sudah mulai gelap, Ferdi matikan laptopnya, menyalakan semua lampu ruangan, Ferdi mondar-mandir melihat ke luar, barangkali didapatinya Ucok ada, “dasar kuya, kaga bisa liat cewek bagus an dikit.. hmm.” Ferdi mengomel-ngomel sendiri, kesal menunggu Ucok yang tak kunjung keliatan batang hidungnya, Ferdi akhirnya mengambil Hp lalu dipegangnya malas-malas an,  tidak ada pesan yang masuk, disimpan kembali Hp diatas meja.
Sejenak memandang foto Ibu dan Bapak yang terpajang dalam bingkai yang digantung didinding kamar, Ferdi tersenyum menatap foto dalam bingkai, teringat Ibu teringat Bapak yang sudah ditinggalnya  2 tahun lebih, hanya lewat Hp saja selama ini dirinya dapat mengetahui kabar keduanya. Saat sedang terhanyut dalam kerinduaan nya Ferdi dikejutkan suara ketukan pintu yang berulang-ulang, “balik juga.” Menggerutu sendiri dalam hati sambil melangkahkan kaki membukakan pintu.
“terima kasih kawanku yang paling baik, kau bukakan pintu untukku.” Ucok semringah sesaat setelah pintu terbuka, “sudah makan kau Lay?” Ucok bertanya pada Ferdi, “seneng banget lo hawa-hawanye.” Ferdi berkata pada Ucok, tidak mempedulikan pertanyaan Ucok tadi.
“maaf Lay, tadi Indah datang kesini minta tolong, dan karena aku berjiwa penolong juga aku yang orang baik maka aku tolonglah dia, eh tak terasa lama juga aku disana, aku senang Lay. Satu langkah lagi pasti aku bisa dapatkan itu cewe.” Ucok tersenyum-senyum sendiri, “eh Lay kau sudah makan belum, aku bawakan makanan ini buat kita santap malam.” Kata Ucok lagi, sambil menaruh bungkusan yang dibawanya diatas meja.
Ferdi tidak mengeluarkan suara apa-apa, hanya cengar-cengir menatap Ucok, Ucok yang ditatap begitu merasa aneh, “hey Lay kenapa kau?” Ucok bertanya pada Ferdi sambil tangannya digerak-gerakkan kearah muka Ferdi, Ferdi masih tetap nyengir-nyengir, “ahh gila Lay, jangan begitu aku jadi takut, jangan bilang kalau kau naksir aku Lay, ihh.” Ucok membalikkan badannya menghindari Ferdi tapi Ferdi segera menarik kerah bajunya, “sialan lo, nunggu kiamat gue naksir lo, gue cuma heran aja liat lo, kayanya seneng banget ye hari ini diservice apa sih lo ama Indah ampe jadi seneng gini, lo kaya nya gantengan dikit sekarang.. hehe.” Ferdi akhirnya membuka suara menggoda Ucok.
Ucok hanya tersenyum sambil bersiul-siul kecil berlalu meninggalkan Ferdi menuju dapur, sesaat kemudian datang kembali sambil membawa piring dan sendok, sambil bibirnya terus tersenyum-senyum , “Jatuh cinta.. berjuta rasanya” bernyanyi-nyanyi kecil. Melihat Ucok yang sedang riang hatinya Ferdi hanya mampu berdecak-decak, “benar kata kau Lay tempo hari, ternyata sekarang aku yang sedang merasakan bagaimana rasanya kalau memang hati sudah tersentuh, maaf Lay kemarin-kemarin aku remehkan ucapan kau itu.” Ucok berkata panjang lebar.
Ferdi lalu menempelkan telunjuk dibibirnya, “udah ahh. ayo makan dulu, kalau mau menjelaskan besok saja dikantor.. hehe, ayo makan.” Tidak habis-habis Ferdi menggoda Ucok, “kau kata aku ini pencuri, hina kali aku kalau harus ke kantor.”  Ucok memonyongkan bibirnya menjawab cibiran Ferdi, Ferdi sendiri tersenyum rona tawa tertahan dimukanya dan akhirnya kedua pemuda ini hanyut dalam tawa.
Selesai makan Ferdi duduk-duduk diluar sambil mencari angin dihisap filternya dalam-dalam, terlihat kepulan asap membumbung tinggi melangit, sejenak dirasa ada sesuatu bergetar dalam saku celananya, ternyata Vita membalas SMS nya, ‘Maaf rulez, enggalah Mas.. q engga lupa :-)’ bunyi pesan masuknya. Ferdi tersenyum sesaat lalu mulai membalas, ‘Hmm.. Kira in.. hehe.. lg apa Manis?’, datang kembali balasan, ‘engga lg apa2, lg tiduran aj kog.’/ ‘ko tiduran sih, aku kangen nih?’ / ‘iya tiduran aj Mas, ko bisa?’ / ‘ga tau nih, pengen dengerin suara yag manis.’ / ‘hmm.. preet… gombal.’ / ‘beneran, aku ga bisa ngegombal, gombal q dah pada dicuci soalnya.’ / ‘hehe.. ada2 aj.’ / ‘ku telepon boleh?’ / ‘boleh.’.
“wah rejeki nih, ga boleh disia-sia in, mumpung boleh.” Bergumam girang Ferdi dalam hati, lama juga sms an dirinya dengan Vita, lalu mulai dicarinya nama kontak, nada tunggu terdengar ‘Tut.. tut…’
Terdengar suara halus perempuan ‘Assalamu’alaikum’. Ferdi tidak langsung menjawab sahutan teleponnya dirinya malah asyik mendengarkan suara halus itu, ‘mantep bener suaranya.’ Berkata Ferdi dalam hati.
‘hallo, Mas.. Mas..’ terdengar kembali suara mengalun dari Hp nya, ‘i..i..iya .. waalaikum salam.’ Ferdi menjawab terbata-bata.
‘tidur ya, dipanggil-pangil ga ada suaranya?’ / ‘engga manis, tadi denger suaramu merdu banget, aku jadi terbang nih.’
‘hmm.. mulai deh.’ / ‘apa?’/
‘gombalnya keluar.’ / ‘hehe.. bukan gombal, tapi ini fakta, nyamuk-nyamuk aja pada berenti berdendang denger suaramu.’ / ‘hehe.. ada-ada aja, lagi ngapain Mas, tumben pengen telepon aku.’/ ‘tadinya lg diem tapi sekarang lagi nelpon kamu, hehe.. ya nih ku tiba-tiba aja kangen suaramu manis, ngomong-ngomong bapaknya pasti tukang narkoba ya?’ / ‘ih.. apa, engga Mas, ngaco ahh.’ / ‘tapi suaramu mengandung zat adiktif manis, yang membuat aku kecanduan untuk lagi dan lagi, ingin mendengarnya.’ / ‘hmm…’ / ‘hehe.’ / ‘Mas ini, ngegombal terus.. banyak cewek tuh yang digombalin.. hehe.’ / ‘engga juga, ini khusus buat kamu manis.’ / ‘lho ko aku?’ / ‘jujur ya, aku nyaman selama ini kenal kamu walau cuma lewat Fesbuk, aku suka kamu rasa-rasanya.’ / ‘ko bisa Mas, Mas kita aja belum tau, belum pernah ketemu, ko bisa suka?’ / ‘ya gatau kenapa, yang aku rasa gitu ko asli.’ / ‘hehe.’
Ferdi tersenyum-senyum sendiri, tangan kanannya masih memegang Hp yang ditempelkan dekat telinga, ‘hallo.. hallo.’  Berulang Ferdi meng hallo tapi tidak ada jawaban, telepon pun ditutup. Belum puas dengan obrolannya yang berakhir tanpa simpul Ferdi pun mengirimkan pesan singkat pada Vita, ‘ko tadi ga ada suaranya, ketiduran pasti, makasih yah manis udah mau nemenin malam ini, selamat istirahat.’
“Baru jam 9.” Ferdi berkata dalam hati, lalu dirinya masuk kedalam rumah karena dinginnya angin malam sudah mulai menusuk tulang, dikuncinya pintu, terlihat Ucok sedang asyik memainkan Hp nya sambil berbaring dikasur, melihat Ferdi masuk Ucok menganggkat kepalanya, “telpon siapa Lay, asyik benar?” bertanya pada Ferdi, “Biasa.” Jawab Ferdi singkat sambil duduk menyalakan laptopnya, “eh iya Lay, hari minggu besok kau ada acara keluar tidak?” Ucok bertanya lagi.
Ferdi asyik menatap layar laptopnya lalu segera menjawab “hmm… hari minggu, oh iyah hari minggu ada ultah perusahaan, jadi dari hari sabtu ga balik ampe minggu, perusahaan ngasih jalan-jalan buat karyawannya, pake aja kalo lo butuh motor.”
“enak benar Lay kau punya perusahaan, bisa dapat jalan-jalan, ngomong-omong jalan kemana Lay?” Ucok penasaran.
“Carita.” Jawab Ferdi singkat, “lagi SMS an  ama sapa lo, dari tadi Hp lo bunyi terus kaya alarm?” lalu bertanya pada Ucok.
Ucok tersenyum-senyum, karena memang dari tadi Hp nya berbunyi terus setiap kali, lalu dirinya membuka suara, “dengan cewek baru itu, Indah. Itulah Lay makanya aku mau pinjam motor kau, Indah minta aku antar ke rumah kawannya didaerah Dago.” Ferdi manggut-manggut mendengar jawaban Ucok, “lo pade udah deket banget kayanya, wah-wah mantap juga cara pedekate lo, ya udah besok sabtu lo anter gue berangkat ke kantor, nah motornya lo bawa pulang dah, semoga lo cepet-lepas status jomblo lo itu yang udah nempel dari lahir.” Ferdi tertawa-tawa, Ucok hanya tersenyum-senyum, “siap bos, jangan lupa olah-oleh dari Carita, Lay pasti disana kau juga bakal asoy sama teman kerja kau itu, Ani. Hehe.” Ucok berkata menggoda Ferdi.
“haha.. sok tau lo.” Ferdi tertawa menimpali ucapan Ucok, sambil menatap serius layar monitor, ‘nelpon tanpa ujung yang jelas, karena satu hal…’ Ferdi meng up-date status di Facebook. Setelah itu ia matikan laptop, mengeliatkan badannya sekali lalu menguap, “gue ngantuk nih, gue tidur duluan ya.” Ferdi lau membaringkan badannya dikasur bersebelahan dengan Ucok, Ucok sendiri masih asyik ber-SMS tidak begitu mempedulikan Ferdi, sampai akhirnya Ucok lama menunggu tidak juga ada balasan, dirinya pun tertidur juga.

‘bangun.. bangun… sholat.. sholat, maaf Mas semalam aku ketiduran.. hehe.’  Ferdi tersenyum membaca pesan masuk nya, ternyata benar Vita ketiduran semalam. ‘hehe.. iya gpp, eh iya makasih yah manis udah mau nemenin aku semalam :-).’ Balas Ferdi pada pesan masuknya. Jam 5 pagi, disimpannya Hp diatas meja, dirinya beranjak menuju kamar mandi, sesaat kemudian sayup-sayup terdengar Hp nya berbunyi, tapi Ferdi tidak mempedulikan, badannya sudah kuyup kini disiram segarnya air pagi hari.



Ada banyak Bus pariwisata berbaris rapih, hiruk pikuk terdengar bersahut-sahutan, “Lay, ramai benar orang disini.” Suara Ucok kalah nyaring oleh hiruk pikuknya keadaan, Ferdi yang masih berada diboncengan motor pun hanya tersenyum lalu turun dari motor dan menepuk punggung Ucok berkata, “ya udah bawa balik dah nih motor, selamat bermalam minggu sob bareng gacoan lo ntu, jangan lupa cuci ntu motor, okey.”
“siap bos, aku pulang ya. Selamat bersenang-senanglah kau juga disana, eh.. eh Lay itu tuh ada yang datang kesini, penggemar kau.” Ucok memutar kembali kunci motor yang tadi sudah dinyalakan, pandangannya mengarah pada seorang wanita yang sedang berjalan menghampiri mereka berdua, dari jauh perempuan itu melambaikan tangannya, “Mas Ferdi.” Membuka suara.
Ferdi dan Ucok saling pandang, dan Ferdi membalas lambaian tangan itu mengembangkan senyum padanya, “okelah Lay, aku pulang. Sekarang kau pun sudah ada yang menemani, pastilah jalan-jalan yang menyenangkan.” Ucok berkata pada Ferdi, dan tanpa menunggu jawaban dari Ferdi, Ucok langsung menarik gas meninggalkan hiruk pikuknya keadaan. Ferdi menghela nafas panjang,  perempuan itu kini sudah berhadap-hadapan dengannya.
Ferdi menurunkan tas dan melepaskan jaketnya, butiran air mulai menetes dari dahinya, sejenak dirinya mengusapkan kain untuk menghapus peluh, “datang dari pagi Mbak?” Ferdi membuka pembicaraan. Yang diajak bicara malah tersenyum, tangannya merogoh sesuatu dari dalam tasnya, “iya Mas, tadi aku habis nemui Ibu Dian dulu, ini Mas minum dulu, kaya nya haus, cari tempat duduk yuk.” Ani menjawab pertanyaan Ferdi sambil menyerahkan sebotol minuman mineral yang tadi diambilnya dari dalam tas, Ferdi meminumnya dengan khidmat, lalu mengikuti langkah perempuan disampingnya menuju bangku dibawah sebuah pohon besar.
Keduanya duduk, sementara karyawan lain masih sibuk hilir mudik mencari tempat duduk bus yang akan ditumpangi, “bawa apa aja Mas?” Ani mulai bertanya, wajahnya terlihat berseri-seri, tubuhnya yang sehari-hari terlihat memakai seragam kerja terlihat agak gemuk, tetapi saat ini dengan T-shirt n sweater ditambah bawahan jeans, membuat lekuk tubuhnya yang bagus itu semakin membentuk, kali ini rambutnya diponi dengan bando hitam dan membiarkan rambutnya yang sebahu itu tergerai ditiup angin.
Ferdi yang duduk bersebelahan dengan Ani membenarkan kaosnya dan mengambil sesuatu dari tas ransel yang dibawanya, “nih, ini nih.” Jawab Ferdi, sambil menunjukkan pada Ani, sebuah digital produk an Nikon, “bawa digital Mas?” bertanya Ani pada Ferdi, “bukan, tapi bawa baskom.” Ferdi jawab asal. Ani tersenyum-senyum melihat Ferdi yang ramah, “ya tuhan, aku ko tambah seneng aja sih deket sama cowo ini.” Berkata ia dalam hati.
“napa Mbak senyum-senyum terus?” Ferdi menegur Ani yang sedari tadi banyak senyum, Ani sendiri masih senyum lalu berdiri, lalu bergaya, Ferdi sendiri asyik melihat-lihat digitalnya tanpa memperhatikan dirinya.
“ihhh.. Mas, ayo dong.” Ani setengah merengek, “apa?” Ferdi melongo, merasa tidak direspon Ani membalikkan badannya memunggung, bibirnya yang tipis itu ditekuknya, Ferdi manggut-manggut seperti sudah mengerti apa maksud Ani, “ya udah sini, maaf tadi gue engga tau, ayo jangan ditekuk lagi mukanya.” Ferdi berkata lembut.
Ani yang masih sedikit kesal, memutarkan badannya menghadap Ferdi, “lhoo mau difoto ko bibirnya ditekuk gitu sih,  smile dong.” Ferdi berkata sambil  mencontohkan senyum dibibirnya, dan tangannya mencoba membenarkan bentuk bibir Ani, “eh.. maaf Mbak.” Ferdi merah mukanya saat tangannya secara tidak secara menyentuh bibir Ani, Ani hanya tersenyum malu-malu menjawab Ferdi, “tidak apa-apa Mas.”
“ayo, senyum. yang manis ya, satu… dua… ti..” belum selesai Ferdi memoto, dari belakang terdengar suara memanggil dirinya, Ferdipun menolehkan badannya kearah suara tersebut. Ternyata itu Pak Hasan yang setengah berlari mendekatinya, “Mas Ferdi, maaf mengganggu, itu di panggil Ibu Dian diruangannya.” Pak Hasan berbicara terengah-engah, “iya Pak, terima kasih.”
Ferdi memalingkan wajahnya kepada Ani dan tersenyum, “maaf ya Mbak, gue harus nemui Ibu Dian dulu.” Ferdi pun segera bergegas mengambil tas nya dan berjalan mengikuti Pak Hasan, Ani hanya bisa menggigit bibirnya lalu pergi meninggalkan tempat duduknya, menuju parkiran bus pariwisata yang mulai dijejali penumpang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar