Cerita Sebelumnya :
“ihhh.. Mas, ayo dong.” Ani setengah merengek, “apa?” Ferdi melongo, merasa tidak direspon Ani membalikkan badannya memunggung, bibirnya yang tipis itu ditekuknya, Ferdi manggut-manggut seperti sudah mengerti apa maksud Ani, “ya udah sini, maaf tadi gue engga tau, ayo jangan ditekuk lagi mukanya.” Ferdi berkata lembut.
Ani yang masih sedikit kesal, memutarkan badannya menghadap Ferdi, “lhoo mau difoto ko bibirnya ditekuk gitu sih, smile dong.” Ferdi berkata sambil mencontohkan senyum dibibirnya, dan tangannya mencoba membenarkan bentuk bibir Ani, “eh.. maaf Mbak.” Ferdi merah mukanya saat tangannya secara tidak secara menyentuh bibir Ani, Ani hanya tersenyum malu-malu menjawab Ferdi, “tidak apa-apa Mas.”
“ayo, senyum. yang manis ya, satu… dua… ti..” belum selesai Ferdi memoto, dari belakang terdengar suara memanggil dirinya,
“selamat pagi bu, Ibu memanggil saya.” Ferdi mulai memberi salam, dirinya tetap berdiri menundukkan kepalanya, Ibu Dian berdiri dari duduknya, “iya, silahkan duduk.” Ferdi lalu duduk berhadapan dengan Ibu Dian, “kamu tahu kenapa kamu saya panggil?” Ibu Dian membuka suaranya, matanya tajam dan nada bicaranya tegas, “maaf bu, tidak tahu.” Jawab Ferdi. Sejenak ibu Dian memainkan bolpoint nya dan tersenyum, “tidak usah kaku begitu Fer, santai saja.” Ibu Dian tersenyum melihat Ferdi yang menundukkan kepalanya, “kamu masih ingatkan, pembicaraan kita tempo hari?” Ibu Dian kembali berkata, dan kali ini Ferdi sudah tidak terlalu tegang, menyunggingkan senyumnya dan menjawab, “tentang, barang yang akan dikirim dari Jepang.”
Ibu Dian tersenyum puas mendengar jawaban Ferdi, “iya benar, dan barang itu akan tiba pertengahan bulan depan, dan aku percayakan kamu yang menangani proyek ini, kamu sanggup?” mendengar ucapan Ibu Dian tadi ferdi sedikit terhenyak dari duduknya, “maaf bu, bukan saya menolak. bukankah sudah ada bidang yang menangani pekerjaan itu?”
“aku lebih percaya kamu Fer, semua pekerjaan yang kamu kerjakan tepat waktu dan professional.” Tegas Ibu Dian. Kini Ferdi dilanda kebingungan, Ibu Dian telah mempercayakan pekerjaan yang dirinya sendiri bukanlah ahlinya, dengan halus ia pun mencoba menolaknya, “tapi bu, saya tidak mungkin bisa bu, saya tidak paham tentang pekerjaan yang Ibu berikan, ini terlalu beresiko buat saya, dan juga nama baik perusahaan ini, biarkan saja bu agar bidangnya yang mengerjakan dan saya pasti akan membantu semampu saya.” Mendengar jawaban Ferdi Ibu Dian kembali tersenyum dan mulai berdiri dari kursinya, “kamu tahu kenapa saya mempercayakan ini kepada kamu?” / “Tidak, bu.”
Ibu Dian menatap Ferdi tajam bibirnya bergincu tipis warna merah muda itu membuka kembali suaranya, “Ferdi, dari awal saya meng-interview kamu, kamu ini sudah terlihat orang yang jujur dan bertanggung jawab, dan sekarang setelah hampir 2 tahun kamu bekerja disini kamu telah memberikan yang terbaik buat perusahaan ini, soal kemampuan saya rasa kamu mampu, hanya saja kamu belum mencobanya, intuisi saya mengatakan proyek ini dapat berhasil bila dipegang oleh tangan yang tepat, dan saya kira itu kamu Fer, bagaimana?” Ferdi tidak segera menjawab penawaran yang diajukan oleh personalianya itu, lama terdiam berpikir dirinya masih ragu-ragu, “tapi, bu?”
“apa lagi yang kamu perhitungkan, sallary mu akan saya naikkan, seluruh tunjangan pun akan saya tambah, jika memang itu masalahnya.” Kembali Ibu Dian merayu Ferdi. “bukan itu bu, permasalahannya.” Jawab Ferdi.
“lantas?” Tanya Ibu Dian lagi.
“yang dapat memegang posisi itu hanya orang-orang yang memang ahli dalam bidangnya, mereka adalah master bu, saya hanya lulusan SMA, dan pastinya akan menimbulkan gejolak dan pergunjingan jika tiba-tiba saya memegang pekerjaan yang Ibu tawarkan itu.” Sekali lagi Ferdi mencoba mdengan halus menolak tawaran itu.
Tersenyum Ibu Dian mendengar jawabannya, sebentar merapihkan jasnya, mendekati Ferdi mulai berkata, “jika itu yang jadi permasalahanmu biar saya yang akan mengurusnya, dan kamu perlu tahu, sebuah perusahaan itu tidak membutuhkan ijazah tetapi membutukan skill, walau memang ijazah adalah faktor utama sebagai pertimbangan sebuah perusahaan untuk dapat menerima atau tidaknya seeorang pegawai, tetapi itu tidak menjamin sepenuhnya. Setelah menjadi pegawai dokumen itu hanya menjadi penghias lemari perusahaan, asalkan punya skill, cakap dalam bekerja, loyalitas serta totalitas tinggi terhadap perusahaan itu yang paling utama yang dibutuhkan oleh sebuah perusahaan.”
“iya bu, saya mengerti. saya mohon diberi waktu untuk memikirkan tawaran ini bu.” Ferdi akhirnya menyerah dan mencoba mengakhiri pembicaraannya, “baiklah, nanti kita bicarakan lagi. Satu minggu saya harap cukup untukmu berfikir Fer.” Ibu Dian rupanya sudah bisa menebak dari gelagat yang Ferdi tunjukkan, ruangan menjadi hening, Ibu Dian melihat keadaan diluar dari balik kaca ruangannya, orang-orang sudah mulai memasuki Bus, Ibu Dian memalingkan pandangannya kearah Ferdi, “sudah siap untuk bersenang-senang?” Ibu Dian sedikit relax nada bicaranya, Ferdi hanya tersenyum, dirinya pun berdiri dari tempat duduknya “maaf Bu, bukan saya tidak menghargai Ibu, tetapi jika sudah tidak ada yang akan Ibu bicarakan lagi saya mohon undur diri, teman-teman sudah menunggu di Bus.”
Ibu Dian pun melempar senyum padanya, “teman-teman, atau teman-teman yang menunggu?” Ibu Dian menggoda Ferdi.
“maksud Ibu?” Ferdi berbalik Tanya
“pacar kamu.” Jawab Ibu Dian singkat, Ferdi hanya mengangkat bahunya dan terpaksa kembali duduk, dan itu jawaban yang dirinya berikan, “sepertinya kalian sudah dekat sekali yah Fer?” kembali terdengar suara Ibu Dian.
“saya tidak mengerti apa yang Ibu maksud, sungguh.” Ibu Dian tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar jawaban polos Ferdi, “kamu dan Ani pacaran?” Ibu Dian berkata kembali seolah menegaskan ucapannya tadi.
“Mbak Ani itu partner kerja saya yang paling dekat Bu, kita hanya berteman, mencoba professional, kenapa Ibu bisa menyimpulkan seperti itu?” Ferdi sengaja berkata seperti itu, dirinya hanya ingin tahu, apa maksud dari alur pembicaraannya sekarang ini, karena dirinya sudah mulai merasa bahwa pembicaraan sudah jauh dari pekerjaan.”
Ferdi semakin salah tingkah saat Ibu Dian mendekatinya, kini Ibu Dian sudah persis disamping tempat ia duduk, tatapannya sayu, seperti seseorang membuka pengharapan akan sesuatu, dirinya pun menggeser sedikit duduknya, semakin dirinya terkejut saat Ibu Dian meraih tangannya dan menggenggamnya erat-erat.
“Ferdi, ini baru kali pertama dalam hidupku, merasa bahagia sekali bertemu seorang laki-laki, kerendahan sikap dan tuturmu memaksaku untuk mengagumimu Fer.” Terlihat Ibu Dian meneteskan air matanya, tangannya masih erat menggenggam jari-jari tangan Ferdi, Ferdi menjadi semakin salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa, “Bu, kenapa Ibu menangis?” hanya itu yang mampu Ferdi ucapkan.
“maafkan aku Fer, a.. aku mungkin terlihat cengeng, tapi rasa-rasanya aku menaruh hati padamu.” Perlahan-lahan genggamannya semakin dikendurkan tetapi tetap saja tidak dirinya tidak melepaskan menggenggam tangan Ferdi. Ferdi mencoba tersenyum walau hambar, “Maaf Ibu, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya terhadap Ibu, saya tidak pernah sekalipun menduga Ibu akan berkata seperti ini, saya menghormati Ibu sebagai atasan saya, dan ini demi nama baik Ibu saya berjanji akan merahasiakan ini semua Bu.” Ferdi berdiri dari duduknya dan melepaskan genggaman tangan Ibu Dian.
“Fer, soal perasaan tidak pernah memandang jabatan ataupun kedudukan, aku ini perempuan biasa yang membutuhkan perhatian dan perlindungan, aku ini lemah Fer, aku pernah mengalami kegagalan dalam bercinta, dan sejak itu aku menjadi sensitif terhadap laki-laki, tapi sejak kehadiranmu di perusahaan ini, hatiku menjadi terbuka kembali Fer, kau berhasil meluluhkan hatimu melalui cara hidupmu, dengan melihat cara bicaramu yang apa adanya, sikapmu yang tidak dibuat-buat, aku nyaman didekatmu Fer, aku mungkin tak secantik dan semuda Ani, Fer. Aku jujur.” Tertunduk wajah Ibu Dian yang masih terlihat ayu ini diusianya yang sudah menginjak 29 tahun.
Ferdi tidak bisa berkata apa-apa lagi selain terdiam, dan ruangan menjadi senyap sesaat, sampai ketika terdengar bunyi klakson dari arah luar, Ferdi pun hendak melangkahkan kaki menju pintu, “mereka tidak akan berangkat sebelum aku ada disana.” Suara Ibu Dian menghentikan niatnya, Ferdi pun berdiri mematung, “Bu, saya sangat menghormati Ibu, sungguh saya berterima kasih kepada Ibu sudah mau menerima kehadiran saya diperusahaan ini, dan Mbak Ani adalah teman terbaik saya, dan Ibu bagi saya adalah sudah seperti Kakak sendiri, yang selalu memotivasi saya, memberi saya pengetahuan tentang pelajaran kehidupan, bukan saya menolak Bu, saya takut kedekatan saya dengan Ibu akan menjadi pergunjingan orang-orang Bu, dan itu akan menjatuhkan martabat Ibu sebagai pimpinan di perusahaan ini, jika itu sampai terjadi saya orang yang paling menyesal Bu, saya menghargai Ibu.” Panjang lebar Ferdi berkata.
“kamu begitu baik Fer, kamu masih memikirkan kepentinganku, walau aku tahu tindakan yang aku ambil ini akan merugikan diriku sendiri, tapi aku sungguh mencintaimu, kehadiranmu telah mengajarkanku tentang arti kesederhanaan, tentang arti kehidupan yang sebenarnya, selama ini yang aku kejar hanya prestasi demi materi, tapi hatiku hampa. Aku bisa mengerti Fer kalaupun kamu tidak bisa menerimaku, pastinya ada perempuan lain yang akan sangat beruntung bisa mendapatkanmu.” Ibu Dian mengusap kembali air matanya, matanya menjadi sembab, wajahnya yang putih menjadi sedikit merah.”
Ferdi mendekati Ibu Dian, dirinya memberanikan diri mengusap wajahnya, tanpa diduga Ibu Dian memeluknya dan kembali menangis dalam pelukannya, “sudah Bu, tidak usah bersedih. saya akan ada disini bu, kapanpun Ibu perlukan.”
“benarkah Fer?” semakin erat Ibu Dian memeluk tubuh Ferdi.
“iya Bu, kita sudah terlalu lama disini Bu, kasian teman-teman sudah menunggu diluar sana.” Perlahan Ferdi melepaskan diri dari pelukan, berdua keluar dari dalam ruangan menuju Bus yang terparkir, diluar sana semua telah memasuki Bus yang tersedia, “silahkan Bu, masuk Bus.” Ferdi mempersilahkan Ibu Dian untuk menaiki Bus yang paling depan, sementara dirinya masuk Bus yang terparkir dibelakangnya, kedua masih saling berpandangan sebelum menghilang memasuki Bus masing-masing.
Ferdi berdiri sejenak didalam Bus yang sudah dipenuhi penumpang, dari tempat duduk bagian tengah terlihat tangan melambai-lambai padanya, “Mbak Ani, disini juga” pikir nya dalam hati, karena tempat yang tersisa hanya itu mau tak mau Ferdi pun melangkahkan diri menuju tempat yang tersisa merebahkan diri, sementara perempuan disamping tempatnya duduk tersenyum-senyum, “lama sekali Mas diruangan Ibu Dian?” pertanyaan perempuan itu mengiringi Bus yang perlahan-lahan Bus berangkat menuju tempat tujuan, Ferdi hanya menghela nafas panjang dan tersenyum.
“tentang proyek yang tempo hari itu, biasa.” Sengaja Ferdi tidak memberi tahu kejadian yang sebenarnya, lagi pula yang bertanya hanya mengangguk-angguk saja mendengar jawabannya.
“kayanya Ibu Dian itu punya perasaan lebih deh sama Mas, kalo iya betul, Mas sangat beruntung bisa dapetin Ibu Dian.” Ferdi sedikit terkejut mendengar ucapan Ani.
”Huss, jangan sembarangan bicara nanti ada yang salah paham, bisa disentil lhoo Mbak.” Ferdi menjawab asal, perlahan-lahan dirinya menyandarkan lehernya di kursi tempatnya duduk, menurunkan sedikit kursi dan memejamkan mata. “Tapi Mas, itu loh.. hmm, ko tidur, gimana sih Mas Ferdi ini.” Ani manyun-manyun melihat yang diajaknya bicara ternyata tertidur. Perlahan musik mengalun dari speaker active didalam Bus, Ani sesekali memandangi Ferdi yang sudah pulas tertidur, dirinya mengusap-usap kening Ferdi, laki yang yang berkumis dan bercambang tipis itu. Akhirnya dirinyapun merebahkan diri disandarkannya kepala ke bahu Ferdi yang dijadikannya bantalan.
Pukul 15.15, Bus tepat memasuki kota Pandeglang. Ani menggeliatkan badannya beberapa kali, diliriknya orang yang disebelah masih asyik tertidur, dirinya tersenyum-senyum sendiri , lalu mengambil minum dari dalam tas mulai meminumnya. Tepat pukul 16.00 Bus memasuki Carita beach area, dari kaca mobil deburan-deburan ombak sudah dapat jelas terlihat, “Mas bangun Mas, udah nyampe nih.” Ani mencoba membangunkan Ferdi, yang dibangunkan hanya menggeliatkan badan tanpa membuka matanya, digoyang-goyangkan sekali lagi badan itu, “udah nyampe Mas.” Ani tersenyum saat Ferdi mulai membuka matanya, “huaahhh… udah sampe ya?” masih menahan kantuknya Ferdi menggosok-gosok mata dengan kedua telapak tangannya.
Bus pun berhenti, perlahan-lahan seluruh penumpang menuruni Bus, “welcome to Carita beach.” Teriak penumpang lain, Ferdi hanya tersenyum mendengar itu perlahan dirinya menuruni Bus, Ani mengikuti dari belakang.
Seluruh pegawai pun berbaris sejenak mendengar pengarahan yang diberikan Ibu Dian, tentang tempat menginap dan ketentuan-ketentuan yang harus dipatuhi, selama diberada di area ini, setelah cukup pengarahan yang diberikan satu- persatu pegawai mulai memasuki tempat penginapan, terlihat tulisan besar didepan matanya, ‘CARITA BEACH HOTEL’.
Ferdi pun menjatuhkan diri dalam bedcover dikamar hotelnya, 20 kamar di booking oleh perusahaan untuk menampung seluruh pegawainya, dan Ferdi sendiri dikamar ini tidak sendirian setidaknya ada 9 orang pegawai lain yang menemaninya, “pasti nanti malam kita tidak dapat tidur.” Pak Agung membuka pembicaraan, “yah seperti tahun-tahun sebelumnya lah Pak Agung.” Pak Husen yang baru keluar dari kamar kecil menimpali. Karena waktu nmenunggu malam masih lama semua pun melepaskan penatnya merebahkan badan ditempat ala kadarnya, ada yang berbaring di kursi, ada yang menggelar tikar.
Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba, seluruh pegawai kini telah berkumpul di meeting room, kue tart ukuran besar sudah tersedia dihapan, lampu warna-warni pun bergemerlipan sinarnya, ruangan yang sesaat gaduh kini menjadi senyap saat seorang perempuan menaiki podium, dan mulai memberikan sambutan, “Assalamu’alaikum, selamat malam, salam sejahtera selalu, puji syukur marilah kita panjatkan kepada Tuhan YME, yang telah memberikan kemudahan dan kelancaran kepada kita umumunya dan perusahaan ini khususnya, hingga perusahaan ini masih dapat tetap bertahan dan eksis diusia yang ke 18 Tahun ini….”
Setelah menyampaikan sambutannya Ibu Dian turun dari podium, seorang MC pun kini mengambil kendali, acara semakin meriah saat kue tart dipotong semua orang menyanyikan lagu selamat ulang tahun, pemotongan kue selesai. Malam semakin larut semakin memanaskan suasana saat MC mempersilahkan kepada siapa punyang ingin memberikan hiburan, “majulah nak Ferdi, hibur kami.” Pak Husen berada disamping Ferdi tersenyum dan mengerdipkan matanya menyarankan menuju panggung. Ferdi sendiri menggelengkan kepala, “saya tidak bisa nyanyi Pak, suara saya jelek.”
“sejelek-jeleknya suaramu, itu masih lebih baik dari pada saya, ayolah.” Pak Husen mengacungkan tangannya, “ya, Bapak yang ditengah, apakah akan menyumbangkan lagu?” MC yang melihat lambaiannya bertanya, “bukan saya, tapi dia.” Pak Husen mendorong Ferdi hingga badannya terhuyung-huyung kedepan, seluruh orang menyoraki dirinya, “nyanyi.. nyanyi.”
Ferdi pun mau tak mau berjalan menuju panggung, tepukan meriah kembali terdengar, lalu diambilnya sebuah gitar, dirinya duduk disebuah kursi sementara microfon tersedia didepannya, ia pun mulai mendekatkan bibirnya kearah microfon, “sebelumnya saya ingin menyampaikan rasa bahagia dari saya pribadi dihari ulang tahun perusahaan ini, semoga perusahaan ini dapat lebih maju, kompeten dan lebih berkualitas lagi kedepannya.” Kontan sorak sorai dan tepukan kembali memenuhi ruangan.
Perlahan dirinya mulai memetik senar gitar, ‘Kau Jaga Slalu Hatimu Saat Jauh Dariku.. Tunggu Aku Kembali’ kembali tepukan meriah tertuju padanya, dua orang perempuan didalam ruangan itu terlihat berkaca-kaca matanya, mendengarkan Ferdi yang bernyanyi dengan penuh penghayatan, perempuan yang sedikit sintal berkemun dibaris tengah itu terlihat beberapa kali mengusap usap-usap matanya dengan tissue, sementara perempuan lainnya yang berkaca-kaca duduk di barisan paling depan, Ferdi masih melantunkan lagu yang nyanyikannya lagi-lagi aplaus membanjirinya
‘mencintaimu aku tenang, memilikimu aku ada , di setiap engkau membuka mata’
Satu lagu dari Seventeen selesai Ferdi nyanyikan, dirinya pun berdiri hendak menuruni panggung, namun orang-orang serentak meneriakinya, “lagi-lagi”.
“baiklah, lagu kedua ini saya persembahkan untuk semua orang yang menghargai tentang cinta.” Ferdi berkata lantang, kali ini dirinya bernyanyi diiringi musik band pengiring, ‘Terlanjur Cinta, ST12’.
“ayo nyanyi bareng, kita bersenang-bersenang dimalam yang bahagia ini.” Suara Ferdi yang lantang disambut tepukan meriah. Musik pengiring pun mulai mengalun, suara Ferdi yang agak serak itu begitu mengena dengan lagu yang dinyanyikannya.
‘Jangan Pernah Kau Berfikir Bahwa Ku tak ada, Sedetik pun Hanya Bayangmu Yang dihatiku.’ Ferdi sedikit berjoget menirui Charly pelantun aslinya. Tepukanpun kembali terdengar meriah.
Perempuan yang duduk paling depan itu, semakin berkaca-kaca matanya, tanpa sedikitpun mengedipkan pandangannya melewatkan aksi Ferdi walau sekejap. Dengan senyum puas Ferdi pun menuruni panggung kembali ke posisi semula, Pak Husen tersenyum-senyum mengangkat 2 jempolnya Ferdi kembali menyunggingkan senyumnya, dari tengah kerumunan seorang perempuan terlihat tersenyum juga mengacungkan ibu jarinya, “beri tepukan meriah untuk saudara Ferdi atas penampilannya tadi.” Terdengar MC begitu bersemangat, diiringi aplaus yang meriah.
Pukul 00.30, acara selesai. Ferdi dan yang lainnya kembali memasuki kamar masing-masing, acara yang cukup berkesan, Ferdi sendiri berdiri didekat balkon kamar memandang lampu-lampu yang berkerlipan jauh disana, dirinya tersenyum mengingat-ingat kejadian tadi, setahun yang lalu dirinya bukanlah apa-apa di perusahaan ini, tetapi tahun ini semuanya berubah, keberadaannya begitu dihargai. “napa tidak jadi penyanyi saja Mas, suaramu bagus, permainan gitarmu juga tidak fals.” Sebuah suara sedikit mengejutkan lamunan Ferdi, Ferdi pun membalikkan badan dan tersenyum mendengar ucapan Pak Tohir, “ahh Bapak bisa saja, saya bagus kan karena tidak ada yang lain yang menyanyi, kalau Pak Tohir tadi nyanyi, pasti lebih meriah lagi sambutan buat Pak Tohir.” Mendengar jawaban Ferdi, Pak Tohir hanya tertawa terbahak-bahak, “kalau saya yang nyanyi, pada kabur semua nanti.”
Ferdi hanya tersenyum, melihat keramahan Pak Tohir yang usianya mungkin sudah kepala lima, rambut bagian depan sudah mulai tipis dan memutih itu, “malam-malam gini mau kemana Pak?” Ferdi bertanya saat melihat Pak Tohir mulai melangkahkan kaki menuju pintu kamar, “menghabiskan malam, mau ikut? Berkumpul di smooking room.” Pak Tohir menyempatkan menjawab, Ferdi hanya mengelengkan kepala, “saya capek Pak, selamat bersenang-senang.”
Pak Tohir lalu kembali melangkahkan kakinya keluar kamar, Ferdi sendiri dikamar tidak sendiri, ada tiga orang lain yang menemani, dirinya lalu merebahkan badan di kasur yang empuk, sementara yang lain sibuk membaca-baca Koran di sofa sambil menonton Televisi. Dirinya lalu mengambil Hp dari dalam saku celana, sedikit kecewa melihat tidak ada pesan yang masuk, ‘met istirahat manis :-)’ send to Vita, Ok. Satu pesan singkat dari Ferdi berhasil terkirim, jam weker menunjukkan pukul 02.00. Ferdi mulai melemaskan seluruh badan, matanya perlahan terpejam. Setelah itu semuanya terasa gelap hingga akhirnya dirinya merasa terguncang-guncang kan gempa, “Mas bangun, udah siang pantai udah melambai-lambai.” Ferdi mulai membuka mata dilihatnya Pak Tohir tersenyum disampingnya, “udah pagi yah Pak?” Tanya Ferdi sambil masih sedikit menguap, “iyah, udah jam 10.00, tuh anak-anak udah pada basah diluar.” Pak Tohir membuka horden jendela kamar, sinar matahari pun leluasa merambat kedalam ruangan, masih sedikit malas Ferdi pun berdiri, menggeliatkan badan ke kanan ke kiri, Pak Tohir hanya senyum-senyum sambil menghirup kopi dalam cangkir yang dipegangnya, “saya kan mau ke pantai, perlu mandi dulu engga ya Pak?” Tanya Ferdi lagi.
“ya bagusnya sih mandi dulu biar segar, soal nanti di pantai itu beda lagi.” Jawab Pak Tohir singkat, “ya udahlah, saya mandi dulu Pak.” Ferdi lalu meninggalkan Pak Tohir yang sedang menghabiskan kopinya itu, Ferdi pun melangkahkan diri menuju kamar mandi.
Debur-debur ombak saling berkejaran dilepas pantai Carita, riuh tawa saling bersahut-sahutan dengan deburan ombak, Ferdi berdiri dengan kaca mata hitamnya, kaos oblong dan celana boxernya, melihat-lihat kesana-kemari, melangkah menuju tempat duduk, bersantai sejenak ditempat duduk dinyalakan sebatang rokoknya, menghisapnya dan bul.. sesaat kemudian terkepul asap membumbung tinggi, begitu menikmati sekali dirinya. “serius banget Mas ngerokoknya?” terdengar suara dari belakang duduknya, Ferdi berdiri dari duduknya memandang kearah suara, “eh iya Mbak, ko disini Mbak engga gabung sama yang lain.” Dirinya berkata pada Ani sambil menunjuk keramaian dipinggir pantai.
Ani menggeleng dan tersenyum, angin pantai membelai rambutnya, Ani memakai baju yang bisa membuat mata laki-laki yang memandang pasti tidak dapat berkedip, Ferdi pun sesaat tertegun memandang penampilan Ani, dengan tank-top dan celana pendek nya, yang memperlihatkan begitu mulus kulitnya, “Mas, ko bengong?”
Ferdi terhenyak, dikejutkan teguran halus Ani, “eh.. hehe engga, Mbak kamu ko lain ya?” Ferdi berkata asal, “maksudnya Mas?” Ani balik bertanya karena masih belum mengerti maksud pertanyyan Ferdi tadi.
“biasanya selalu tertutup, tapi sekarang ko menggoda sekali.. hehe, maaf Mbak, kalo gue kurang sopan.” Ferdi menjelaskan maksud pertanyaannya tadi sambil tersenyum, “Mas tergoda?” pertanyaan Ani yang sedikit memancing, “Sedikit.” Jawab Ferdi singkat sambil tersenyum-senyum.
Keduanya duduk di kursi panjang bercat warna-warni itu, Ferdi menghisap hisapan terakhirnya lalu membuang puntung rokok dibawah tempat duduknya, “suka banget yah Mas?” Ani membuka suaranya, “suka apa?” Tanya Ferdi sambil asyik memainkan digitalnya. “itu yang barusan Mas buang.” Jawab Ani sambil melirik puntung rokok yang telah dibuang itu, Ferdi tersenyum sesaat, “ohh.. itu, gue suka rokok karena gue ga suka alkohol.” Ani tersenyum-senyum mendengar jawaban Ferdi yang asal, “tapi kan ga baik buat kesehatan Mas.” Ani berkata lagi.
“Mbak Ani yang baik, iyah gue tahu merokok itu dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin, tapi gue udah suka gimana yah.” Ferdi menghela nafas sedikit memberikan alasan mengapa dirinya merokok.
“tidak berfikir untuk berhenti?” Tanya Ani lagi, “gue masih mikirin itu, napa Mbak musti rokok yang dibicarakan?” Ferdi menjawab sedikit tegas nada bicaranya. “maaf Mas, kalau aku sudah menyinggung.” Muka Ani sedkit menunduk, melihat Ani yang merasa dirinya telah bersalah itu, Ferdi lalu memegangi bahu Ani, “engga Mbak, Mbak tidak menyinggung, ga usah sedih gitu. Tujuan kita disini ingin bersenang-senang juga makasih udah ingetin, tapi Mbak lebih baik tidak terlalu mengurusi itu, biarin gue hidup dengan cara begini, rokok bagi gue bagian yang tak terpisahkan, yah sebagimana Mbak dengan segala macam alat kosmetiknya. Sehari ga ketemu rokok rasanya ada yang kurang Mbak.” Jawab Ferdi sambil tersenyum, Ani mengangkat wajahnya tersenyum memandang Ferdi, “sejak kapan Mas merokok?” lagi-lagi Ani bertanya tentang rokok, Ferdi menghela nafasnya sejenak dan menjawab, “karena masa lalu gue yang buruk, sejak keluarga gue bermasalah, sejak itu Ferdi kecil selalu mencoba mencari sesuatu yang bisa membuatnya senang, bergaul dengan perokok dan mulai mencoba diusia yang sangat muda, kelas 6 SD gue udah mulai kenal ama penenang 9 cm ini.”
“Mas, berat hidup yang kamu jalanin, tapi kamu orang yang tegar Mas, aku lihat kamu selalu ceria, kamu selalu tersenyum dan tidak pernah menampakkan kesedihanmu pada kami.” Ucapan Ani pelan.
“yah itu nasib yang musti gue jalanin, gue bisa bertahan hidup karena gue berusaha untuk bertahan, walau gue gak tau sampe kapan pertahan ini bakal kuat nahan, yang kapanpun bisa rapuh.” Ferdi tersenyum getir menjawab ucapan Ani, “dan rokok itu saksi perjalanan pahit idup gue Mbak, sebenernya gue paling ga suka kalo ada yang larang-larang tentang rokok, bukan gue sok-sok an dengan rokok, bukan juga buat gaya-gayaan, tapi itu buat diri gue sendiri buat tempat curahan segala masalah, kalo bukan rokok yang mati mungkin gue yang mati, mungkin itu yang bisa buat gue bener-bener berenti Mbak.” Lanjut Ferdi panjang lebar.
“sekali lagi maaf Mas, kalo pertanyaan saya menyinggung Mas, saya hanya takut Mas sakit karena terlalu banyak merokok, Mas tidak usah sedih, disini ada aku yang bisa Mas panggil, kapan pun Mas butuh bantuan ku.” Ani tersenyum mencoba menghibur Ferdi yang terlihat menjadi sedikit murung.
“ayo Mas kesana, foto aku yah Mas.” Ani lalu beranjak dari duduknya, berlari kecil menghampiri kerumunan orang dipinggir pantai, pemandangan pantai yang sangat indah dihari yang cerah, Ferdi mengikuti perlahan dari belakang.
‘hallo, sob cepat kemari jemput gue.’ Ferdi menempelkan mulut didekat Hp nya, ‘kau dimana Lay, kau sudah pulang?’ menyahut suara Ucok dari line telepon.
‘iya, cepet ke tempat kerja gue, sekarang.” Setelah berbicara Ferdi mematikan Hpnya dan memasukan kedalam tasnya.
Sementara dirumah, Ucok yang sedang berbaring terlihat manyun-manyun, “macam mana ini, setengah sepuluh malam aku harus keluar.. hmm, kalau bukan kau yang menyuruh sudah kutolak Lay.” Ucok mengomel sendiri didalam rumah, segera dirinya mengganti baju, memakai jaketnya dan berangkat.
Ferdi sendiri duduk menunggu Ucok di pos penjagaan, sementara didalam perusahaan riuh orang-orang terdengar, mereka ada yang memilih tidur dikantor ada juga yang memilih pulang, padahal besok perusahaan meliburkan pegawainya. Tetapi Ferdi sendiri memilih untuk pulang kerumah, setengah jam menunggu terdengar suara motor Kawasaki ZR 2 tak miliknya menderu diluar gerbang, dengan cepat dirinya meraih tas dan berlari menuju pintu gerbang, dilihatnya Ucok masih menarik-narik gas motor, “gue kira lo udah tidur.” Berkata Ferdi setelah berada didekat Ucok, Ucok hanya tersenyum, “ayo naik, kau pasti penat bukan.”
Tanpa banyak bicara Ferdipun langsung naik dibelakang ucok, tangannya merangkulkan ke pinggang Ucok, Ucok sontak memberontak, “apa-apan ini, geli aku lay.. ihh.”
“gue ngantuk, takut jatoh, udah malam ini ga ada yang bakal merhatiin.” Pelukan Ferdi semakin erat.” Tanpa peduli pelukan Ferdi, Ucok pun pun segara menarik gas motor dan berlalu meninggalkan riuhnya perusahaan.
Pukul sembilan pagi, Ferdi asyik tersenyum memandang layar laptopnya, satu-persatu foto dibukanya, diminumnya secangkir kopi yang tersedia di meja. “cantik sekali Lay itu.” Ucok yang datang dari ruang depan berkata. Ferdi hanya tersenyum-senyum saja, Ucok semakin mendekat, “Lay itu siapa yang disamping kau?” menunjuk sebuah foto, “itu Ibu Dian, atasan gue.” Jawab Ferdi singkat. “cantik Lay, sepertinya kalian dekat sekali.” Kata Ucok lagi.
“yah namanya juga atasan sama pegawainya ya harus kompak.” Jawab Ferdi asal, “eh iya gimana bokingan lo kemaren?” Ferdi bertanya pada Ucok sambil pandangannya tetap tertuju pada layar laptopnya.
Ucok tersenyum-senyum tidak segera menjawab pertanyaan Ferdi, “yah, malah mesem-mesem nih anak, keranjingan setan stress ya?” Ferdi kembali bertanya pada ucok sambil tertawa.
“sukses Lay, dia banyak cerita ke aku, mungkin 1 atau 2 langkah lagi aku resmi jadian dengan dia.” Ucok akhirnya membuka suara dengan semangat. “hebat lo sob, kata-kata lo meyakinkan banget.. hehe.” Ferdi menjawab sambil tertawa.
“serius Lay, aku dikasihnya alamat rumah, rumahnya tidak jauh dari tempatku Lay.” Ucok tidak mempedulikan jawaban Ferdi dan melanjutkan ucapannya. “dimana gitu alamat cewe itu?” Ferdi bertanya pada Ucok.
“Perumahan Kejora, Blok. Venus no. 36 D, Siantar.” Ucok menjawab Tanya Ferdi sambil mengingat-ingat, “iya betul itu alamatnya.” Lanjut Ucok menegaskan.
“36 D ya, hehe..” celetuk Ferdi, “ya, 36 D, memangnya kenapa Lay? kau senyam-senyum kenapa Lay?” Ucok bengong melihat Ferdi tersenyum-senyum, “ahh.. engga. hehe 36 D, gede juga yah, haha.” Ferdi menjawab lalu tertawa terbahak-bahak, Ucok pun ikut tertawa setelah mengerti apa yang dimaksud Ferdi, “wah gawat kau Lay, ngeres kali otak kau ini.” Ucok berkata sambil tertawa. Keduanya pun hanyut dalam tawa.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar