:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: Poem's, Lyric & Story: kisah penggugah hati

.......

JAngan Pernah Melupakanku

~.~

My Blog

Tempat Share orang2 yang suka nulis n membaca, Tapi maaf ga bisa di Copy...

Ramalan Jodoh

Tampilkan postingan dengan label kisah penggugah hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah penggugah hati. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Mei 2015

MIMPI NINGSIH



Pagi ini tak kuasa aku menahan rasa haru, rasa haru dan bahagia menjadi satu, kebahagiaan yang begitu besar didalam dada membuat mata ini tak kuasa membendung airnya untuk keluar, yah karena pagi ini aku telah menjadi wali atas pernikahan adik perempuan semata wayangku Ningsih, sedih bukan karena mulai saat ini Ningsih akan pergi meninggalkanku untuk bersegera menjadi pendamping bagi suaminya, dan bahagia yang kurasa bukan karena tanggung jawabku sebagai seorang kakak yang menggantikan peran orang tua telah usai, melainkan haru bahagia ini tercipta karena aku masih tidak dapat percaya dapat melihat adikku berbalut gaun pengantin indah khas daerah sunda duduk disamping seorang pemuda yang gagah yang juga berbalut busana pengantin yang saat ini menggantikan tugasku untuk membimbingnya, aku bangga Ningsih terlihat begitu bahagia, dan lembaran baru dalam hidup Ningsih dimulai hari ini, setelah prosesi usai aku berlalu kebelakang, menghindarkan rona muka yang sedih ditengah kebahagiaan adikku.

Senin, 30 Mei 2011

Pengalaman Mengamalkan Surah Al-Jinn

Kejadian ini memang bukan baru-baru ini terjadi, kejadian ini dialami penulis sekitar kurang lebih dua tahun an yang lalu, malam ini penulis sengaja ingin berbagi pengalaman astral yang pernah dialami langsung oleh penulis.

Minggu, 15 Mei 2011

Perempuan Pertama Yang Masuk Syurga

Pernahkah terbersit dalam pikiran anda untuk bertanya "Siapa sih wanita yang pertama masuk surga di akhirat kelak?". Sebuah pertanyaan iseng yang kalo dipikir-pikir sih ternyata membuat kita penasaran juga ya. Jika anda penasaran (seperti juga aku ketika itu), maka anda sama penasarannya dengan Siti Fatimah, putri Rasulullah Saw. Ia berniat menanyakan hal ini kepada ayahandanya. Lalu, apakah anda menduga bahwa wanita yang pertama masuk surga itu adalah Siti Fatimah? Atau ibunda beliau Siti Khadijah, atau Siti Aisyah ataukah salah satu dari keluarga Rasulullah Saw lainnya? Mmm. Jika iya, jawaban anda ternyata salah. Inilah hebatnya Islam, tidak mengenal istilah 'nepotisme' (hehehe). Dalam sebuah ceramah agama, akhirnya aku tahu, ternyata wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali adalah seorang wanita yang bernama Muti'ah. Anda kaget? Sama seperti Siti Fatimah ketika itu, yang mengira dirinyalah yang pertama kali masuk surga.

Rabu, 20 April 2011

Renungan Siang

Sebuah toko yg menjual istri baru, dibuka dimn pria dpt memilih wanita untuk dijadikan sebagai seorang istri.

Di antara instruksi2 yg ada di pintu masuk, terdpt instruksi yg menunjukkan bgmn aturan main utk masuk toko tsb: "Kamu hny dpt mengunjungi toko ini SATU KALI!"

Toko tsb terdiri dr 6 lantai dimn setiap lantai akan menunjukkan kelompok calon istri.

Semkn tinggi lantainya, semkn tinggi pula nilai wanita tsb. Kamu dpt memilih wanita di lantai tertnt/lbh memilih ke lantai berikutnya, tp dgn syarat tdk bs turun lg ke lantai sblmnya kecuali utk keluar dr toko.

Lalu, seorang pria pun pergi ke " TOKO ISTRI " tsb untuk mencari istri. Di stp lantai terdpt tulisan spt ini:

Lt 1:
"Wanita di lt ini taat pd Tuhan & pandai memasak."

Pria itu tersenyum, kmd dia naik ke lantai selanjutnya.

Lt 2:

"Wanita di lt ini taat pd Tuhan, pandai memasak & lemah lembut."

Kmbali pria itu naik ke lantai selanjutnya.
Lt 3:
"Wanita di lt ini taat pd Tuhan, pandai memasak, lemah lembut & cantik."

''Wow!'', ujar sang pria, tetapi pikirannya msh penasaran & trs naik.

Lalu smpailah pria itu di lt. 4 n terdpt tulisan:

"Wanita di lt ini taat pd Tuhan, pandai memasak, lemah lembut, cantik banget & syg anak."

''Ya ampun!'' Dia berseru, ''Aku hampir tak percaya!''

Dan dia tetap mlanjutkan ke lt 5:

"Wanita di lt ini taat pd Tuhan, pandai memasak, lemah lembut, cantik banget, syg anak & sexy."

Dia tergoda utk berhenti tp kmd dia melangkah ke lt. 6 & terdpt tulisan:

"Anda adalah pengunjung yg ke 4.363.012.000. Tdk ada wanita di lantai ini. Lantai ini hny semata2 pembuktian utk pria yg tdk pernah puas."

Trm ksh tlh berblanja di " TOKO ISTRI ". Mohon hati2 ketika keluar dr sini.

=D =)) =D

Pesan moral ini bkn cm utk pria tp jg wanita: "Tetaplah slalu merasa puas akan pasangan yg sudah Tuhan sediakan. Jgn terus mencari yg terbaik tp jadikanlah yg ada yg terbaik buat anda, karna Tuhan sudah sediakan, itulah pasangan yg terbaik bagi kamu seumur hidupmu hingga maut memisahkan.":)

Sabtu, 16 April 2011

Kisah Dari Penggalan Jalan

"Menolong lah tanpa mengharap pamrih, karena sesungguhnya, Allah itu Maha Melihat lagi Maha Mengetahui"

Kita mulai saja dari ujung. Namanya Kirman, umurnya sekitar 50 tahun, penjual soto Lamongan yang sukses. Warung soto kaki limanya tak pernah sepi pengunjung; pagi, siang dan malam, kuah soto dan sayatan daging ayam disantap nikmat para pelanggan. Kotak tempat menyimpan uang cepat menggunung.

Berikutnya Bu Tumirah, janda berusia sebaya Pak Kirman, asal Ponorogo yang berjualan buah-buahan, yang juga tak henti-hentinya melayani pembeli apel Washington, pir Korea, anggur Australia, melon lokal dan berbagai buah lain. Kalung emas bak rantai kapal yang melingkar di leher Bu Tumirah adalah pertanda betapa makmurnya dia.

Lalu ada Mas Achmad, pemuda pengantin baru yang memiliki sekaligus menjaga Warnet dengan 20 booths dan buka 24 jam. Orang hilir mudik ke luar masuk Wartel ini mengantar gemerincing uang yang tak kunjung habis.

Di sebelahnya, berdiri bengkel ketok ‘magic’ Blitar. Setiap hari rata-rata tiga mobil penyok masuk ke bengkel ini dan keluar mulus lagi, semulus uang yang diterima Pak Juwardi, sang bos.

Paling akhir, orang tua yang sedang duduk termenung menghisap rokok murahan tanpa filter adalah Pak Wagiman, tukang tambal ban yang hari itu dan hari-hari sebelumnya tak pernah merasakan sirkulasi keuangan seperti empat tetangganya di jalan itu. Menurut cerita, Pak Wagiman sudah mangkal di jalan ini lebih dari 25 tahun lamanya. “Sejak tahun 1985, waktu anak bungsu saya lepas SMP,” kata pak Wagiman suatu hari, ketika memompa ban sepeda motor saya melalui pipa udara yang disalurkan dari kompresor tua berwarna oranye kusam. Selebihnya, saya tak tahu banyak tentang pak Wagiman.

Siang itu, sekitar pukul 1, tiba-tiba di warung soto Pak Kirman berdiri seorang lelaki perlente setengah baya berbaju putih necis, dengan rambut disisir klimis. Dari jarak dua meter tertebar aroma segar dari tubuhnya. Ia menenteng tas hitam agak menggelembung di tengahnya. Wajah orang itu sebersih pakaiannya.

“Permisi, Pak!” orang itu menyapa Pak Kirman yang sedang sibuk menyayat daging ayam di tengah saat makan siang yang sibuk.

“Saya dokter. Mobil saya mogok di ujung jalan itu. Saya lupa bawa dompet, saya lupa tak pakai arloji, dan HP saya ketinggalan. Saya harus segera ke rumah sakit naik taksi. Bisakah saya pinjam uang Rp 50.000? Nanti sore saya kembalikan,” ujar orang itu.

Pak Kirman mendongak dan memandangi orang itu dari atas ke bawah dengan mimik sinis. Tangannya tak berhenti menyayat daging ayam.

“Maaf, saya tidak punya uang sebanyak itu,” ujar Pak Kirman menuang kuah soto, tanpa menoleh lagi.

Orang itu segera pergi. Pak Kirman melirik kelebat orang itu meninggalkan warungnya. “Enak saja,” dengus Pak Kirman pada orang-orang di warungnya. “Ia pasti penipu. Banyak penipu berlagak perlente sekarang ini,” kata Pak Kirman pada orang-orang di warungnya. Orang-orang manggut-manggut mengiyakan.

Dan mampirlah orang itu ke warung buah-buahan Bu Tumirah

“Saya dokter. Mobil saya mogok di ujung jalan itu. Saya lupa bawa dompet, saya lupa tak pakai arloji, dan HP saya ketinggalan. Saya harus segera ke rumah sakit naik taksi. Bisakah ibu pinjami saya uang Rp 50.000? Nanti sore saya kembalikan”

Bu Tumirah menuang apel dari timbangan ke tas plastik, baru kemudian mencari sumber suara itu. “Apa, Pak?”

“Saya dokter. Mobil saya mogok di ujung jalan itu. Saya lupa bawa dompet, saya lupa tak pakai arloji, dan HP saya ketinggalan. Saya harus segera ke rumah sakit naik taksi. Bisakah ibu pinjami saya uang Rp 50.000? Nanti sore saya kembalikan,” orang itu mengulang.

“Pak, mbok jangan aneh-aneh, masak orang ndak kenal tiba-tiba pinjam uang lima puluh ribu,” Bu Tumirah melengos dan menyibukkan diri menimbang melon. Pembeli melon turut memandang dengan tatapan curiga. Orang itu berlalu dari tempat jualan Bu Tumirah. Wajahnya mulai putus asa. Ia kemudian membuka pintu depan Wartet Mas Achmad.



“Permisi. Saya dokter. Mobil saya mogok di ujung jalan itu. Saya lupa bawa dompet, saya lupa tak pakai arloji, dan HP saya ketinggalan. Saya harus segera ke rumah sakit naik taksi. Bisakah Mas pinjami saya uang Rp 50.000? Nanti sore saya kembalikan”

Mas Achmad terperangah mendengarkan bicara orang itu, dan langsung memandangnya rendah. “Pak, saya kasih tahu ya, kalau mau menipu, Anda cari tempat lain saja. Walaupun Anda tampak rapi begitu, orang tetap tahu Anda mau menipu. Tolong keluar dari Warnet saya,” ujar Mas Achmad setengah menghardik. Orang itu mundur beberapa langkah dan menyeka keringat sambil beralih ke bengkel Pak Juwardi.

“Maaf, pak. Saya dokter. Mobil saya mogok di ujung jalan itu. Saya lupa bawa dompet, saya lupa tak pakai arloji, dan HP saya ketinggalan. Saya harus segera ke rumah sakit naik taksi. Bisakah Bapak pinjami saya uang Rp 50.000? Nanti sore saya kembalikan”

“Sampeyan ini dokter?” Juwardi mendekati orang itu dengan wajah mengejek. “Dokter kok pinjam uang?” Pak Juwardi membalikkan badan, menerima pembayaran jasa ketok ‘magic’ senilai Rp 500.000 dari seorang pelanggan. Orang berpakaian necis itu tak banyak bicara dan berjalan perlahan ke arah Pak Wagiman. Ia melihat Pak Wagiman menghisap asap terakhir rokok yang hampir habis. Api rokok dekat sekali dengan bibir keriput pak Wagiman. Ragu-ragu ia menghampiri pak Wagiman.

“Pak…..Pak, permisi, ya,” ia membungkuk di dekat Pak Wagiman. Pak Wagiman tak menoleh. Kuatir tak terdengar, orang itu mendekat lagi

“Permisi, pak. Saya dokter. Mobil saya mogok di ujung jalan itu. Saya lupa bawa dompet, saya lupa tak pakai arloji. Telepon genggam saya ketinggalan. Saya harus segera ke rumah sakit naik taksi. Tolong saya pinjam uang Rp 50.000. Nanti sore saya kembalikan”

Pak Wagiman melihat sesaat. Lalu tanpa banyak bicara, membuang puntung rokok, menghampiri kaleng usang di pojok tenda dan merogoh uang dari dalamnya. Perlahan tangannya yang mulai gemetar menghitung lembaran kumal lima ribuan dan seribuan. Dijungkirnya kaleng itu untuk mengeluarkan kepalan-kepalan uang kertas dan sejumlah uang logam, dan mulailah Pak Wagiman menghitung. “Sepuluh ribu, sebelas ribu, lima belas ribu, ……………… dua puluh satu ribu lima ratus rupiah!” Pak Wagiman mengangsurkan uang-uang receh kumal yang menumpuk di telapak tangannya. Pak Wagiman mengais selembar tas plastik bekas di tanah, dan memasukkan gundukan uang itu ke dalam tas plastik, dan menyerahkannya pada orang itu. Cepat orang itu meraihnya, seolah takut Pak Wagiman urung meminjamkan uang itu.

“Terimakasih, pak. Nama bapak siapa?” tanya orang itu.
“Wagiman!”
“Baik, Pak Wagiman. Nanti sore saya kembali ke sini,” orang itu melintas jalan, melambaikan tangan ke arah taksi yang lewat dan lenyap ke dalam taksi. Pak Wagiman tak berusaha menatap taksi yang menghilang di tikungan dan membersihkan kaleng usang tempat uang yang kini kosong melompong. Empat tetangga yang tadi sibuk luar biasa kini menatap kepergian orang itu dengan geram.
“Pak Wagiman kenapa kasih dia uang?” Pak Kirman berujar.
“Nanti sore pasti dikembalikan,” tukas pak Wagiman.
“Tidak mungkin. Kelihatannya dia itu penipu. Banyak yang berlagak seperti itu sekarang ini,” sambung Bu Tumirah.
“Saya ikhlas, kok!” tutur pak Wagiman.
“Ya, rugi, pak. Bapak kok mau saja ditipu?” kata mas Achmad.
“Saya tidak merasa ditipu. Kalau tidak kembali ke sini, anggap itu amal saya,” kata Pak Wagiman.
“Bagaimana sih Pak Wagiman ini, sudah hidup susah kok berlagak beramal. Lagian uang itu pasti hasil kerja Pak Wagiman seharian. Kalau berani kembali ke sini, saya tabok mukanya orang itu,” ucap Pak Juwardi.

Sampai menjelang petang orang-orang terus bergunjing soal orang perlente yang sukses meminjam uang dari Pak Wagiman. Pak Wagiman sendiri baru bisa makan siang selepas jam 3, setelah menerima pembayaran satu jasa tambal.

Dan seperti yang diperkirakan orang-orang, sore itu orang ‘sang dokter’ tidak kembali ke jalan itu. Ke-empat orang yang telah memutuskan untuk tidak memberi pinjaman uang itu ternyata benar, ‘dokter’ itu pasti cuma bajingan kelas teri yang kerjanya tipu sana-sini.

Sampai seminggu kemudian, menjelang matahari terbenam, sebuah mobil amat bagus dan mengkilap berhenti di depan tenda tambal ban Pak Wagiman. Begitu pintu mobil dibuka tertebar hawa sejuk dan aroma harum parfum mobil. Orang yang sudah seminggu dipergunjingkan sebagai bajingan kelas teri itu turun dari mobil, senecis dan sebersih minggu lalu, mendekati Pak Wagiman.

“Beribu-ribu maaf, Pak Wagiman, saya terlambat seminggu dari janji saya. Ini uang bapak saya kembalikan, dan saya bulatkan menjadi Rp 25.000.”

Pak Wagiman menerima selembar uang itu. “Berkat Pak Wagiman tempo hari itu saya tidak terlambat sampai di rumah sakit dan bisa mengerjakan tugas mengoperasi pasien saya dengan baik. Terlambat sedikit, pasien saya pasti meninggal”. Orang itu naik mobil kembali dan hilang dari pandangan. Pak Wagiman tertegun dengan uang duapuluh lima ribu di tangan.

“Wah, kembali juga orang itu. Kok cuma duapuluh lima ribu? Dia tidak kasih persen apa-apa?” Pak Kirman bertanya.
“Uang dua puluh satu ribu limaratus rupiah dipinjam seminggu, cuma ditambah tiga ribu lima ratus! Keterlaluan! ” komentar Mas Achmad.
“Orang pelit luar biasa,” Bu Tumirah menyumbang makian.
“Orang jaman sekarang mana mau obral uang buat orang kecil yang pernah menolongnya sekalipun,” Pak Juwardi menyimpulkan.
“Tidak apa-apa. Saya ‘kan bilang saya, ikhlas. Masih untung uang saya kembali, dapat tambahan tiga ribu lima ratus pula,” Pak Wagiman mengantongi uangnya.

Baru saja uang itu masuk kantong, tiba-tiba berhenti sebuah mobil lain. Pak Wagiman melirik, ini benar-benar jenis mobil yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Merknya pun tidak seperti biasanya. Mobil itu benar-benar kokoh, mewah, dan indah, pasti ratusan juta harganya.

Sopir turun dari pintu depan kanan, dan berjalan memutar ke pintu kiri untuk membukakan pintu. Dari pintu itu turun seorang perempuan berumur 40-an yang teramat cantik dengan kulit bersih. Perempuan itu kemudian membuka pintu belakang. Di jok belakang duduk seorang laki-laki yang juga berusia sekitar 50-an. Ia tak banyak bergerak dan wajahnya tidak terlalu sehat, tapi ia terlihat tersenyum penuh semangat di balik kaca jendela yang sengaja diturunkan untuk mengirim keluar senyum itu.

“Pak Wagiman!” panggil orang itu. Pak Wagiman terperangah. Tak percaya orang itu memanggil namanya.
“Pak Wagiman,” sekali lagi orang itu memanggil lirih. Pak Wagiman bangkit dari duduk dan menghampiri jendela. Orang itu mengangsurkan sebuah kotak sebesar kotak sepatu.
“Ini buat Pak Wagiman”.

Pak Wagiman ragu untuk mengangsurkan tangannya menjemput kotak itu.

“Apa ini?” Pak Wagiman mengira itu makanan.
“Ambillah. Saya pasien dokter Hariman. Ia berhasil menyelamatkan saya dengan operasi jantung tepat waktu, dan itu berkat uang taksi yang Pak Wagiman pinjamkan padanya. Ambillah, ini ucapan terimakasih sekadarnya dari saya”
“Sekali lagi terimakasih. Saya bisa hidup terus karena Pak Wagiman,” kata orang itu. Perempuan cantik itu menutup pintu belakang, tersenyum pada Pak Wagiman dan orang-orang yang mengelilinginya. Sejenak kemudian mobil itu berlalu dari pandangan. Pak Wagiman mendekat kotak itu, dan perlahan membuka tutupnya. Begitu kotak terbuka, Pak Wagiman nyaris tak bisa mempercayai matanya. Uang! Semuanya uang dalam pecahan seratus ribuan baru. Gemetar ia membawa uang itu ke tempat tersembunyi di tendanya. Ia ternganga-nganga. Tak mampu ia menghitung uang sebanyak itu. Ke-empat tetangga yang tadi merubung juga tertegun dan kini mereka mulai berbaik hati membantu Pak Wagiman menghitung uang itu.

“Dua puluh satu juta limaratus ribu rupiah” ujar Mas Achmad seusai menghitung uang. Bu Tumirah menatap uang itu dengan air liur merembes di ujung bibir. Pak Juwardi mondar-mandir di depan tenda, pikirannya berkilas balik ke seminggu lalu dan mulai menganalisis tanda-tanda kejaiban dari datangnya dokter itu. Pak Kirman mengepal-ngepalkan tangan menyesali sesuatu.

“Pak Wagiman mendapatkan 1000 kali yang ia pinjamkan,” tutur Pak Kirman.
“Pak Wagiman mau apakan uang itu?” tanya Mas Achmad.
“Lima juta untuk Pak Kirman,” kata Pak Wagiman. “Lima juta untuk Bu Tumirah,” lanjutnya, “Lima juta buat Mas Achmad, dan lima juta buat Pak Juwardi”

Ke-empat tetangga Pak Wagiman tercengang. Nyaris tak percaya.

“Benar ini, Pak?” Mas Achmad segera ingin tahu kelanjutannya. Ia berharap Pak Wagiman tidak sedang bercanda.
“Benar,” kata pak Wagiman. Ia diam sesaat. “Untuk sampai pada saya, dokter itu harus ditolak oleh Pak Juwardi, sebelum sampai Pak Juwardi, ia harus diusir dari tempat Mas Achmad, sebelum ke Mas Achmad, ia dicampakkan dulu oleh Bu Tumirah, dan sebelumnya, Pak Kirmanlah yang mengirim dokter itu ke tempat Bu Tumirah. Jadi. Saya hanya akan merasa tenteram kalau cuma mendapakan sisanya”

Dan demikianlah keputusan Pak Wagiman itu diterima dengan penuh sukacita dan pujian oleh Pak Kirman, Bu Tumirah, Mas Achmad dan Pak Juwardi.

Sedikit menjelang sore, tiba-tiba saja, secara bersama-sama, masing-masing di warung soto Pak Kirman, di warung buah-buahan Bu Tumirah, di Warnet Mas Achmad dan di bengkel Pak Juwardi tiba-tiba berdiri seorang perempuan paruh baya yang cantik, anggun dan rapi dandannya. Bajunya kelihatan mahal, dan harum sekali. Kulitnya bersih dan senyumnya keibuan. Pastilah ia seorang pengusaha besar. Tak seorangpun memperhatikan bahwa ke-empat perempuan kembar persis serupa wajah dan pakaiannya secara bersama-sama kini berhadapan dengan ke-empat tetangga Pak Wagiman. Tak seorangpun memperhatikan perempuan itu membuka kacamata dan memberi salam.

“Maaf, saya seorang pengusaha batik. Mobil saya mogok di ujung jalan itu. Dompet saya ketinggalan, HP saya ketinggalan dan saya harus segera menutup uang transaksi batik di kantor distributor garmen di seberang jalan itu. Adakah yang bisa meminjami saya uang lima juta rupiah?. Nanti saya kirim orang untuk mengembalikan uang itu ke mari”

Tanpa pikir panjang, tanpa seorangpun tahu satu sama lain, secara bersama-sama, Pak Kirman, Bu Tumirah, Mas Achmad dan Pak Juwardi membuka kotak tempat menyimpan uang dan dan mengangsurkan lima juta rupiah pemberian pak Wagiman pada perempuan di hadapan mereka.

“Silakan pakai uang saya. Jangan ragu-ragu,” demikian ke-empat tetangga pak Wagiman mengiringi berpindah tangannya uang itu.

Tak lama kemudian perempuan itu menghilang dari ke empat tempat usaha tetangga pak Wagiman. Begitu perempuan itu pergi. Pak Kirman, Bu Tumirah, Pak Juwardi dan Mas Achmad sibuk belajar untuk tidak buka mulut perihal kedatangan perempuan itu. Dan mereka, tanpa sepengetahuan masing-masing, tetap menjaga rahasia dari satu sama lain itu dan menunggu keajaiban sampai minggu depannya. Mereka sengaja membiarkan agar tidak perlu ada orang lain yang tahu. Hanya kepada saya ke empat orang, tanpa sepengetahuan satu sama lain, secara sembunyi-sembunyi, menceritakan kisah kedatangan perempuan itu ke tempat kerja mereka.

Hari ini genap tiga tahun perempuan itu datang pada mereka. Ke-empat tetangga Pak Wagiman, masing-masing, tanpa sepengetahuan satu sama lain, masih tetap menunggu.

Akan halnya Pak Wagiman, ia tidak lagi ada di jalan itu. Ia merasa tenda tempat usaha pompa bannya sungguh misterius. Di sore hari setelah ia membagikan uang pemberian dermawan itu kepada para tetangganya, ia bermimpi mendapat kunjungan dari seorang perempuan cantik paruh baya ke tendanya, dan pada saat bangun ia mendapatkan ada dua puluh juta rupiah tersusun rapi dalam kaleng tempat uang yang ia taruh di bawah balai-balai bambu tempat ia biasa rebahan. Pada saat itulah ia memutuskan tidak kembali lagi ke tendanya.

By :

Jumat, 15 April 2011

"Astagfirullahal adziem, Ibu." aku tidak percaya ibu akan berkata seperti itu, dalam hati aku membatin, ibu berkata padaku suatu hari, "nak, jangan terburu-buru engkau menikah." untuk pernyataan yang ini aku bisa mengerti maksud ibu, tapi saat aku bertanya kenapa, betapa aku terkejut mendengar jawaban Ibu, Ibu berkata padaku, "Ibu belum siap sakit hati untuk yang kesekian kalinya nak."

aku terkejut saat ibu berkata 'Sakit Hati', dan aku saat itu tidak mencerna dengan baik yang ibu maksud, sehingga aku kurang mengerti apa hubungannya 'Sakit Hati' dengan peringatan agar aku tidak terburu-buru menikah.

setelah lama aku berfikir, akhirnya sampai juga aku pada suatu pertanyaan, aku bertanya pada Ibu.

"Apa ada hubungannya dengan Kakak ipar perempuan saya itu Bu?"

ibu malah menangis tidak menjawab tanyaku, tetapi cukup sudah isak tangis ibu itu menjadi jawaban untuk pertanyaanku, aku sadar ipar perempuanku itu memang kurang bisa menempatkan diri dan menjaga sikap ditengah keluarga kami, pendidikannya yang tinggi ternyata tidak menjaminnya memiliki perilaku yang baik, aku masih ingat dulu saat belum menjadi iparku sosoknya baik dan bahkan ibu pun memuji-mujinya, tetapi kini berubah 180 derajat, harapan ibu hilang sirna, dulu ibu berita-cita memiliki mantu perempuan yang bisa diajaknya buat tempat bercerita, sebagai tempat ibu berkeluh kesah, semuanya hanya impian belaka..

ibu berfikiran iparku akan menjadi seperti dirinya, yang juga seorang mantu tetapi bisa menempatkan diri dan mejaga sikap ditengah keluarga Bapak. tetapi tidak, iparku selalu mencari muka dihadapan abang ku, dan iparku itu pandai berkata, lain orang lain bicara, sejak itu aku benci pada perempuan pembohong, yang membuat ibu sakit hati adalah sikap iparku yang selalu membanding-bandingkan kelurganya dengan keluarga kami keluarga ibu, ibu merasa terhina, kami memang keluarga yang sederhana, abangku mustinya sadar akan itu, tetapi nyatanya tidak. mengalah pada isteri seperti itu hanya akan membawa tekanan batin dalam hidup, aku tidak ingin ibu memiliki trauma menantu perempuan


kisah sejati : Ibuku trauma mantu perempuan

"Astagfirullahal adziem, Ibu." aku tidak percaya ibu akan berkata seperti itu, dalam hati aku membatin, ibu berkata padaku suatu hari, "nak, jangan terburu-buru engkau menikah." untuk pernyataan yang ini aku bisa mengerti maksud ibu, tapi saat aku bertanya kenapa, betapa aku terkejut mendengar jawaban Ibu, Ibu berkata padaku, "Ibu belum siap sakit hati untuk yang kesekian kalinya nak."

aku terkejut saat ibu berkata 'Sakit Hati', dan aku saat itu tidak mencerna dengan baik yang ibu maksud, sehingga aku kurang mengerti apa hubungannya 'Sakit Hati' dengan peringatan agar aku tidak terburu-buru menikah.

setelah lama aku berfikir, akhirnya sampai juga aku pada suatu pertanyaan, aku bertanya pada Ibu.

"Apa ada hubungannya dengan Kakak ipar perempuan saya itu Bu?"

ibu malah menangis tidak menjawab tanyaku, tetapi cukup sudah isak tangis ibu itu menjadi jawaban untuk pertanyaanku, aku sadar ipar perempuanku itu memang kurang bisa menempatkan diri dan menjaga sikap ditengah keluarga kami, pendidikannya yang tinggi ternyata tidak menjaminnya memiliki perilaku yang baik, aku masih ingat dulu saat belum menjadi iparku sosoknya baik dan bahkan ibu pun memuji-mujinya, tetapi kini berubah 180 derajat, harapan ibu hilang sirna, dulu ibu berita-cita memiliki mantu perempuan yang bisa diajaknya buat tempat bercerita, sebagai tempat ibu berkeluh kesah, semuanya hanya impian belaka..

ibu berfikiran iparku akan menjadi seperti dirinya, yang juga seorang mantu tetapi bisa menempatkan diri dan mejaga sikap ditengah keluarga Bapak. tetapi tidak, iparku selalu mencari muka dihadapan abang ku, dan iparku itu pandai berkata, lain orang lain bicara, sifat bohongnya seiring waktu semakin ia tampakkan, sejak itu aku benci pada perempuan pembohong, yang membuat ibu sakit hati adalah sikap iparku yang selalu membanding-bandingkan kelurganya dengan keluarga kami keluarga ibu, ibu merasa terhina, kami memang keluarga yang sederhana, tetapi tidaklah bijaksana seorang ipar berlaku begitu, abangku mustinya sadar akan itu, tetapi nyatanya tidak, mengalah pada isteri seperti itu hanya akan membawa tekanan batin dalam hidup.

aku tidak ingin ibu memiliki rasa trauma terhadap menantu perempuan, karena tidak semuanya seperti itu, karena kelak akupun akan mendatangkan mantu untuk ibu, aku bersumpah untuk mencari seorang pendamping yang bisa mengerti Ibu, menyayangi ibu, sebagaimana dirinya menyayangiku.

semoga allah membuka mata hatimu, iparku.



ditulis oleh,

Rabu, 13 April 2011

KEHILANGAN

Tersenyumlah saat kau mengingatku
karena saat itu aku sangat merindukan mu
dan menangislah saat kau merindukanku
karena saat itu aku tak berada di sampingmu

tetapi

pejamkanlah mata indah mu itu karena saat itu aku akan terasa ada didekat mu,
karena aku telah berada dihati mu untuk selamanya

Tak ada yang tersisa lagi untukku
selain kenangan-kenangan indah bersama mu
mata indah yang dengannya aku biasa melihat keindahan cinta
mata indah yang dahulu adalah miliku

kini semuanya terasa jauh meninggalkan aku
kehidupan terasa kosong tanpa keindahan mu
Hati, Cinta, dan rindu adalah milik mu
cinta mu tak kan pernah membebaskanku

bagaimana mungkin aku terbang mencari cinta yang lain saat sayap-sayapku
telah patah karena mu
cintamu akan tetap tinggal bersamaku
hingga akhir hayatku dan setelah kematian
hingga tangan tuhan akan menyatukan kita kembali

betapapun hati telah terpikat kepada sosok terang dalam kegelapan
yang telah menghidupkan sinar redupku
namun tak dapat menyinari dan menghangatkan perasaan ku yang sesungguhnya

aku tidak pernah bisa menemukan cinta yang lain selain cinta mu
karena mereka tidak tertandingi oleh sosok dirimu dalam jiwaku
kau tak kan pernah terganti bagi pecahan logam mengekalkan
kesunyian, kesendirian, dan kesedihan ku

kini aku telah kehilanganmu...

Jumat, 08 April 2011

BARIDIN CINTA YANG NELANGSA (NOMINASI LEGENDA DAERAH - PARADE DONGENG ANAK NUSANTARA 2011)

Prolog :

Cerita rakyat Cirebon, tentang cinta tulus seorang pemuda terhadap gadis idaman hatinya, namun terhalang oleh orang tua si pujaan hati hanya karena ia tidak memiliki harta dan orang yang tidak berpunya, namun besarnya cinta mereka telah mengalahkan semuanya, rasa cinta yang begitu besar telah membutakan hati dan pikiran, dan akhirnya kematianlah yang menyatukan cinta suci mereka.


***
Alkisah, Jagapura nama sebuah kampung pesisir pantai di Cirebon, tinggallah seorang pemuda bernama Baridin, ia tidak tampan tidak juga buruk rupa, penampilannya biasa-biasa saja, ia bukan pengangguran tetapi tidak memiliki pekerjaan kesehariannya hanya dihabisnya melamun, bermain-main dipesisir menghabiskan waktu. namun dia memiliki kharisma yang membuat setiap gadis dikampungnya menyukai dirinya, karena Baridin pemuda yang pandai dalam memainkan alat musik suling dan kitar.

Seperti biasa setiap sore hari Baridin selalu memainkan alat musiknya di pesisir pantai utara, dia memiliki seorang kawan karib bernama Gemblung, bersama Gemblunglah Baridin menghabiskan hari-harinya, sifatnya yang ramah yang membuat Baridin disegani pemuda-pemuda lain dan disukai gadis-gadis kampungnya, tetapi sayangnya Baridin dibenci oleh para orang tua, para orang tua gadis-gadis itu takut bahkan selalu memperingatkan anak gadisnya untuk tidak terlalu akrab dengan Baridin.

Baridin sendiri telah mengetahui bahwa dirinya tidak disukai para orang tua gadis dikampungnya, tetapi sikapnya yang masa bodo dan selalu ramah terhadap sesama semakin membuatnya jadi idola, sebenarnya diam-diam Baridin telah menyimpan rasa pada seorang gadis di kampungnya, gadis itu bernama Ratminah, Ratminah putri tunggal seorang tulak yang sawahnya berbahu-bahu, Juragan Dam dan Nyai Wangsih itu adalah panggilan orang-orang kampung kepada orang tua Ratminah, Juragan Dam dan Nyai Wangsih memanglah orang yang disegani orang-orang, tetapi bukan karena sifatnya yang baik, mereka disegani karena perangainya yang sombong, berbeda sekali dengan Ratminah putrinya yang ramah dan sangat merakyat.

Juragan Dam bukan sekali dua kali menasehati Baridin untuk tidak mendekati putrinya, namun Baridin tidak bergeming pada pendiriannya, Baridin bukannya tidak punya telinga dan tidak punya otak, hanya saja pendirian Baridin yang tetap ngotot, ia tidak peduli orang tua Ratminah bicara apapun tentangnya, yang dipikirannya hanya Ratminah, dan Ratminah pun ternyata membalas rasa cinta Baridin.

Singkat kisah, Baridin dan Ratminah pun saling memadu kasih, walau tanpa sepengetahuan kedua orang tua Ratminah, Juragan Dam dan Nyai Wangsih. Orang-orang kampung sudah mengetahui hubungan mereka yang sudah kian dekat, orang-orang kampung merestui hubungan keduanya bahkan mereka menutup-nutupi hubungan mereka dari pantauan Juragan Dam dan Nyai Wangsih.

Namun naas kabar kedekatan Baridin dan Ratminah akhirnya sampai juga ketelinga Juragan Dam dan Nyai Wangsih, malang tak dapat disanggah untung tak dapat diraih, saat Baridin dan Ratminah sedang duduk-duduk berdua di pinggiran tambak, Juragan Dam beserta Istrinya Nyai Wangsih tiba-tiba datang dan menghardik, Ratminah bergetar seluruh tubuhnya ia sendiri ditarik paksa oleh Nyai Wangsih, tidak cukup sampai disitu Baridin pun harus menerima kenyatan dihujat habis-habisan oleh Juragan Dam,

“Hei Baridin, kamu itu dungu apa tuli, apa otakmu sudah tidak bisa berpikir lagi, sudah berulangkali aku peringatkan, jangan pernah dekati Ratminah.”

“Kenapa tidak boleh, kami saling menyayangi?” Baridin memotong ucapan Juragan Dam.

“Apa Baridin, coba kamu ulangi sekali lagi ucapanmu, berani benar kamu berbicara begitu, tidak sadarkah kamu sedang berhadapan dengan siapa? Baridin, sekali lagi kuperingatkan, jangan pernah lagi kamu dekati putriku, dasar pengangguran, hidup luntang lantung kayak pengemis, dan kamu ngomong soal sayang padaku tadi, o..o tidak Baridin, kamu hanya akan menyengsarakan anakku saja, dan ingat Baridin !! Ratminah bulan depan akan ku kawinkan dengan Putera Juragan Tulak dari Seberang. Kami orang terpandang di kampung ini, tidak sembarang orang bisa masuk dalam kehidupan kami. Awas sekali lagi kamu nekat mendekati Rahminah, Hekk.” Sambil menggariskan telunjuknya dileher.

Baridin hanya bisa tertunduk lesu, hatinya berkecamuk, disatu sisi ia ingin melawan tetapi disisi lain Baridin merasa memang dirinya tidak pantas untuk bisa bersanding dengan Ratminah, hari-hari Baridin kini dihabiskan dengan melamun sepanjang hari, orang-orang hanya bisa mengasihani melihat keadaan Baridin, mereka memaklumi mengapa Baridin menjadi seperti itu tetapi apa daya, orang-orang kampung pun selama ini menggantung hidupnya dari Juragan Dam, mereka menjadi buruh di sawah dan tambak milik Juragan Dam.

“Din, rasa sayangmu pada Ratminah, rupanya sudah mentok sampai ke ubun-ubun, awas Din jangan sampai lepas dari ubun-ubun, kalau lepas bisa-bisa kamu gila.” Gemblung mencoba menghibur Baridin.

“Din, sebagai sahabatmu aku turut prihatin, tapi Din, kamu tidak bisa selamanya seperti ini, Din kalau kamu memang benar-benar cinta dan sayang pada Ratminah, pergilah ke seberang sana, disana ada seorang pertapa yang kesaktiannya tidak diragukan lagi, semoga beliau bisa menolongmu.”

Baridin bangun dari tempat duduknya, “Mblung, malam ini juga aku akan temui pertapa itu, Juragan yang sombong ingat ini aku Baridin, jangan pernah salahkan aku karena anakmulah yang tergila-gila padaku.” Tatapan yang nanar penuh kesumat, lalu Baridin pun pergi.

“Din, tunggu.” Gemblung coba mencegah, namun sia-sia.

Baridin sudah membulatkan tekad dalam hati bahwa dirinya harus bisa mendapatkan Ratminah bagaimanapun caranya, bila dirinya tidak bisa mendapatkan Ratminah, maka orang lain pun tak akan pernah bisa memilikinya.

Setelah berjalan sehari semalam menembus alas yang luas, disiang yang terik dan dimalam yang dingin, akhirnya Baridin sampai disebuah Guha, Baridin belum tahu berapa lama lagi dirinya harus berjalan untuk bertemu Pertapa sakti itu, karena hari sudah mulai malam maka Baridin memutuskan beristirahat di dalam Guha tersebut, ia mengambil air dari mata air yang mengalir di sekitar Guha, disaat Baridin sedang menikmati air untuk melepas dahaga dirinya merasa ada seseorang yang menguntitinya, Baridin pun sontak berkata.

“Siapa gerangan sebenarnya yang menguntit ku, jika kau bangsa manusia keluarlah, jika kau bangsa jin, maka sampaikan maksud kedatanganku kepada pertapa sakti bahwa aku sedang membutuhkan pertolongannya.”

Tiba-tiba Guha bergetar,

“Hei Baridin, berani sekali kamu datang ketempatku, akulah orang yang kamu cari, aku telah tahu apa maksud kedatanganmu, aku bisa membantumu asal kau bisa menjalankan syarat-syaratnya.” Suara itu lalu menghilang. Baridin lalu menundukan badannya, “baik eyang saya akan menuruti segala perintah eyang, asalkan hajat saya dapat terkabul.” Jawab Baridin.

“Dengarkan baik-baik, kamu harus tapa geni di Guha ini selama 40 hari 40 malam, sambil merapalkan mantera pengasihan ini Baridin.” Terdengar kembali suara tanpa sosok di dalam Guha.

Baridin menghening, lalu terdengar …


“Niat ingsun ngemat ceg si ajiku semar mesem grajag grejeg klyue ki semar ireng, aji pengasian kang ora ono tombone ora ono wong bagus jobo aku, ora bisa turu yen durung ketemu aku, yen ketemu turu tange’no yen ketemu tange’ adegno, yen ketemu ngadeg lako’no, urung mlungkung kurun edan lan gendeng yen durung ketemu aku, sido atot katut manuk perkutut si jabang bayine, kun fayakuun saking kersaning gusti allah.”


Baridin mendengar dengan sangat seksama, dan dirinya merasa telah bisa untuk mengamalkannya, “Baik eyang, saya akan penuhi syarat dari eyang.”

“Bagus Baridin, dihari ke empat puluh mu nanti, orang yang kamu tuju akan sangat tergila-gila padamu, jika tidak percaya coba buktikan, di 3 hari pertama kamu amalkan mantera ini, orang yang kamu tuju akan selalu gelisah, dan jika disertai dengan dendam kesumat dalam mengamalkan ajian ini, maka kurang dari 7 hari kamu amalkan mantera ini, orang yang dituju bisa bisa lupa ingatan dan hanya akan menyebut-nyebut namamu.” Suara itu lalu menghilang.

Baridin pun lalu mengambil posisi untuk memulai merapal mantera, sementara itu dikampung orang-orang sibuk hilir mudik mempersiapkan segala macam kebutuhan hajatan, karena seminggu lagi Juragan Dam akan menikahkan Ratminah putrinya.

Orang-orang kampung akhirnya mulai menyadari bahwa Baridin telah tiada diantara mereka, dalam benak mereka saling bertanya satu sama lain, kemanakah Baridin, mereka hanya berpikir mungkin Baridin sedang menenangkan pikiran, dan mencoba untuk mulai membiasakan diri menjauh dari Ratminah, dan sangat tidak mungkin Baridin ada disini untuk bisa melihat kenyataan Ratminah bersanding dengan pemuda lain.

Hari kedua sudah Baridin jalani dan dirinya masih khusyuk merapal mantera dalam tapa geninya, matanya terpejam mulutnya tertutup rapat, hanya hati dan pikirannyalah yang hidup, tertuju pada satu tujuan.

Ratminah,

Dan malam ini orang-orang kampung sedang bersenang-senang, karena Juragan Dam menyewa Sintren 3 hari 3 malam berturut-turut sebelum perayaan perkawinan Ratminah, tetapi Ratminah sendiri menangis tersedu-sedu didalam kamarnya, tangisnya terdengar oleh Nyai Wangsih, Nyai Wangsih pun kebingungan melihat tingkah Ratminah yang menjadi tertutup dan lebih senang berdiam diri, sesekali menangis sendiri, lalu tersenyum-senyum. Keadaan ini membuat Juragan Dam dan Nyai Wangsih resah, dan malam ini adalah malam terakhir Ratminah dalam asuhan Juragan Dam dan esok ia sudah harus dikawinkan berarti Ratminah akan dibawa ke seberang bersama suaminya, akan tetapi keadaan Ratminah semakin kacau, ia masih sesegukan, pelan, sangat pelan suara tangisnya.

Didalam Guha, Baridin semakin Khusyuk merapal mantera, ini adalah malam ke 7 nya, tidak bergeming sedikitpun dari posisi semula, fikiran tetap tertuju pada Ratminah, dan Baridin mulai merasa bahwa Ratminah mulai merasakan efek manteranya, ingin ia sudahi, tetapi kini timbul sifat serakah dihatinya Baridin tidak hanya puas telah membuat Ratminah menggilainya, tetapi juga dendamnya semakin membara dihatinya ia membayangkan Juragan Dam yang menghinanya dan dirinya menginginkan agar Juragan Dam bisa bersembah memohon ampun padanya.

Sudah beberapa orang pintar yang didatangkan oleh Juragan Dam dan Nyai Wangsih demi mengembalikan keadaan Ratminah Putrinya, tetapi setiap orang pintar yang dipanggil hanya bisa menggelengkan kepala, dan memberi jawaban yang sama, hanya orang yang telah mengerjainya yang bisa menyembuhkannya, rencana perkawinan pun gagal.

Juragan Dam dan Nyai Wangsih mulai berpikir tentang Baridin, dirinya sadar Baridinlah yang telah membuat putrinya menderita, Juragan Dam lalu memerintahkan orang-orangnya untuk mencari dimana Baridin, tetapi 2 minggu sudah mereka mencari namun pulang dengan tangan hampa.

Selama ini Juragan Dam menutup-nutupi keadaan Ratminah yang menderita kelainan jiwa, namun akhirnya orang-orang kampung mengetahui keadaan tersebut, dan gemparlah seluruh kampung mengetahui kabar bahwa Ratminah gila. Juragan Dam tidak dapat menutupi rasa malunya, namun dirinya tidak pernah merendahkan diri dan tetap meyombongkan diri, lama kelamaan seluruh harta Juragan Dam habis untuk membiayai pengobatan Ratminah, dan akhirnya Ratminah dibiarkan liar, kondisi mengharukan, disela bibirnya, terucap “ Kang Baridin.. Kang Baridin.” Orang-orang kampung tidak ada lagi yang mau berhubungan dengan Juragan Dam.

Juragan Dam kini tidak ubahnya sampah dimata orang-orang kampung Juragan Tulak yang sawah berbahu-bahu dan tambak berhektar-hektar kini telah melarat, Nyai Wangsih akhirnya meninggal setelah tidak mampu menerima kenyataan hidup yang pahit, Juragan Dam kini tertunduk ingin rasa dirinya meminta maaf pada Baridin, namun Baridin dirinya tidak tahu dimana.

38 hari sudah Baridin melaksanakan lelakunya, dirinya sudah mulai goyah, 38 hari tanpa makan dan air, hari ke-39 kondisi Baridin semakin lemah, tetapi dirinya masih merapalkan manteranya, dan bertepatan dengan tanggal 15 saat bulan sedang terang Baridin menyelesaikan rapalannya, dirinya tersenyum dan berkata “Ratminah, kematianlah yang akan menyatukan kita.” Karena kondisi fisik yang begitu lemah akhirnya Baridin menghembuskan nafas terakhir sesaat setelah amalan yang ia kerjakan selesai.

Selang beberapa hari setelah itu orang-orang kampung menemukan Ratminah pun meninggal.


Note : Makam Ratminah dan Baridin berada di Desa. Jagapura Kab. Cirebon

Makam Baridin sering dijadikan untuk ngalab berkah.

Pelajaran yang bisa diambil :

* Jangan pernah menilai seseorang dari segi materi, materi kadang bisa membuat orang lupa, lupa akan pribadi yang baik yang seseorang miliki.
* Kodratnya cinta itu tidak bisa dipaksakan.
* Jangan pernah tinggi hati

Seseorang yang berniat baik pun akhirnya bisa berbuat nekat, karena pada dasarnya kesabaran manusia itu ada batasnya, dan hanya orang-orang yang selalu berpikiran jernih yang bisa memanfaatkan keterbatasan kesabaran yang dimilikinya.



07/04/11
penulis by Cokky_Baelah

Jumat, 18 Maret 2011

Do'a Seorang Tukang Gorengan

Suatu hari dibumi allah , tuhan semesta alam ada seorang hamba Allah meninggal dunia.. berjalanlah iring – iringan penggotong jenazah sambil menyerukan lafal “Laillahaillah”, ditengah perjalanan para iringan penggotong jenazah berpapasan dengan seorang tukang gorengan, tukang gorengan itu berhenti sesaat dan menurunkan gorengannya. Iringan pengantar jenazah pun berlalu ..

Setelah selang beberapa hari setelah pemakaman tersebut, peristiwa aneh itu muncul, suatu malam ahli waris dari almarhum bermimpi bertemu dengan alharhum, terlihat oleh si ahli waris wajah almarhum begitu bersih, berseri-seri dan memancarkan sinar yang menyilaukan ..

Bertanyalah si ahli waris kepada almarhum, “Ayahku, sungguh kulihat engkau begitu berseri, apa yang membuat ayah sebahagia ini?” dalam mimpi itu almarhum tersenyum lalu berkata “Allah telah mengampuni semua dosaku dan aku ditempatkan ditempat yang sangat nyaman dan indah, semua ini berkat do’a yang ikhlas dari seorang tukang gorengan, sampaikan ucapan terima kasihku padanya.” Setelah berkata itu, terjagalah si ahli waris dari tidurnya ..

Keesokan harinya si ahli waris mencari-cari siapa tukang gorengan itu yang sampai-sampai do’anya bisa menghapus dosa seseorang, do’a seperti apa yang ia panjatkan kepada Allah pikir si ahli waris…

Akhirnya pada suatu kesempatan bertemulah si ahli waris dengan tukang gorengan tersebut, si ahli warispun langsung menceritakan semua kejadian yang dialami dalam mimpinya. Tukang gorengan itu hanya berkata, “ tidak ada yang beda do’a saya dengan do’a-do’a yang lain, apalagi saya bukan orang berilmu yang pandai dalam berdo’a, saya hanya memohon kepada Allah ketika saya berpapasan dengan jenazah itu.. ya Allah hari ini ia hambamu akan menjadi tamu dan akan datang memenuhi panggilanmu, ya Allah berikanlah kepadanya tempat yang terbaik, suguhilah ya allah dengan jamuan terbaikmu, ya Allah jika saja ia bertamu padaku maka akan kusuguhi semua gorengan ini sebagai jamuan agar senang, setelah melakukan perjalan yang panjang .”

Si ahli warispun pulang dengan haru, betapa Allah tidak pernah memandang jabatan, kekerabatan dan pangkat seseorang untuk ia kabulkan do’anya.



My Love My Djoub Miss u Djoub.... :)



cantiknya djoub ku...



terima kasih Tuhan Engkau telah kirim dia dihatiku..



ku tak tau bagaimana hancurkan jika kau pergi dariku..



ku harap kau selalu menjaga cinta ini sayang...



terima kasih untuk semua yang telah kau berikan sayang....

Rabu, 02 Maret 2011

NEGERI VAN ORANJE

Prolog

Di Rotterdam
“TITUIT!” bunyi SMS masuk. Banjar meliriknya. Duh, kenapa SMS ini mesti lo kirim sekarang, siiiiiih ? tanpa pikir panjang, Banjar langsung mematikan rokok kretek yang baru dihisapnya empat kali, perbuatan yang biasanya diharamkan ditengah kelangkaan stok kretek. Iapun loncat meninggalkan meja kafe yang di atasnya masih terdapat secangkir koffe verkeerd yang mengepul, menggoda, memikat, minta diseruput! Digamitnya lengan pelayan terdekat, sambil mengeluarkan selembar uang berhiaskan angka lima dari dompet.
“Mijn, excuse, dame! This is for table three. Keep the change!”
Banjar menyodorkan lembaran itu dengan terburu-buru sambil berjalan cepat menuju pintu.
“Maar, Meneer!Sir! Come back! What is this??”
Tapi BAnjar sudah tak lagi dapat mendengar. Pelayan itu memandang dengan bingung pemuda yang berlari tunggang langgang meninggalkan kafe. Dengan umpatan halus, sang waiter mengantongi selembar lima puluh ribu rupiah dalam genggamannya.

Di Utrecht
Minuman keras, MIRAS! Apa pun namam….uuuu… tak akan kusentuh lagi dan tak akan …
“Oops, sorry!” bergegas Daus mengangkat Hp polifonik sumbang miliknya berusaha menghentikan lolongan keras Rhoma Irama yang memecah keheningan romantis dalam kafe.
Saking terburu-burunya, Daus sampai menumpahkan segelas chardonnay ke atas meja. Note to self : cepat ganti nada dering dangdut ini !
“Halo?” Daus menerima telepon sembari terheran-heran.
“Gue udah o-te-we! Lo dah sampe mana?” terdengar suara Banjar terengah-engah, bersaing keras dengan backing vocal lolongan angin yang menderu. Pasti sambil naik sepesa.
“Dijalan mau kemana ?”
“Oncol-oncol bego! Udah baca SMS belum, lo?”
“SMS apaan? Buru-buru mau ke mana, sih ?”
“Cek hape lo, Col! Kita nunggu disana. Buruan!”
Dan sambungan itu terputus.
Daus mengumpat pelan. Sudah telepon merusak kencan, pakai acara marah-marah pula!
“What’s that all about, Daus ? Something wrong?” Tanya Selisha, gadis manis asal Amerika sambil me-reffil kembali gelas anggur yang td tumpah.
“No, nothing’s wrong,” balas Daus sambil membuka inbox SMS. “Everything fi-…”
“…”
Masya Allaaah! Pigimane, nih?
Daus berdiri tergesa.
Damn. Wine tumpah kembali.
Emang nasib gue ga boleh minum alkohooooool!
“Selisha, I have to go.”
“What? What’s wrong?’
“I can’t explain it now. I’m really sorry, I gotta run!”
Daus cepat-cepat berlari menuju parkiran sepeda. Bahkan sampai lupa cupika-cupiki tiga kali seperti yang biasa ia lakukan dengan teman-teman wanitanya di Belanda.

Di Wageningen
Wicak tersentak. Agak bingung kalau menerima SMS dalam situasi ini.
Saat itu nia berada diperpustakaan. Sedang beramah-tamah dengan seorang professor yang berpapasan dengannya saat ia mengurus administrasi pengembalian buku. Mau dibaca ribet, bisa dianggap tidak sopan; engga dibaca, penasaran!
Akhirnya curiosity killed the cat, meski membunuh kucing diharamkan oleh agama. Wicak membuka inbox, saat sang professor menoleh menyapa rekannya yang lewat dan…
“KUNYIT!! Kunaon si eneng the?”
“Wat zeg je, Wicak? Koo nyee?” sahut sang professor.
“Er, ehm… kunyit is errr… turmeric sir. Ehmm … a rare specimen from Indonesia! You know, for biodiversity research. I …uh … received a package of ehm … kunyit. I have to pick it up now at the … uh …. Post office.”professor berambut gondrong sebahu itu mengangguk dengan penuh empati.
“Oh yes, yes, anything for science! Go ahead!”
Tanpa basa-basi lagi, Wicak langsung balik kanan ngeloyor keluar gedung. Anything for science and si Eneng! Pikir Wicak seraya bergegas membuka gembok sepeda.
Perjalanan masih panjang ke stasiun kereta. Untungnya dimusim panas seperti ini, angina sudah tak lagi bertiup kencang menghambat perjalanan. Dimusim gugur, seringkali sepeda fongers ten speed super-ringan milik Wicak berubah jadi seberat becak berpenumpangn beruang kutub.
Namun hari ini, ditengah siang bolong hari yang cerah di Wageningen, Wicak menggenjot sepedanya sekuat tenaga, berburu dengan waktu.

Di Den Haag.
Delivered. Delivered. Delivered.
SMS S.O.S telah dilayangkan kepada tiga orang yang paling ia percaya ditanah kompeni ini. Ia tak berani menelepon, takut membuang pulsa sia-sia, sementara yang terdengar di seberang sana hanyalah sesenggukan incoherent seorang perempuan patah hati.
Lintang menatap langit di atas garis Pantai Scheveningen yang bersemu merah, jingga, ungu. Sunset sempurna dengan suasana hati yang sangat tidak sempurna. Seumur hidupnya, Lintang bukan termasuk golongan yang religius. Tetapi dalam gundah, kali ini Lintang mengiba dengan tulus”Ya Tuhan,” Bisiknya pada langit.
“Tuhan Yang Maha Pedmurah, Tuhan Yang Maha Mengerti.”
“Lintang tah, akhir-akhir ini Lintang masih nakal. Shalat bolong-bolong. Jarang berbagi rejeki. Cuma traktir teman-teman sekali waktu dapat gaji pertama, itu juga habisnya buat beli Witte Wickse. ( Oh ya, dan masih bandel coba-coba minum! Catat Lintang dalam hati ). Lintang juga anak durhaka, udah beli pulsa telepon pake VOIP, NELEPON Mama-Papa di Indonesia Cuma kalo ada perlunya.”
“Tapi Tuhan, kalau Engkau memang Maha Pemaaf dan Maha Penyayang, tolong percepat langkah ketiga sahabat Lintang ke sini. I’ve never needed them more than I do now …
Lintang kembali tertunduk, dan pasrah membiarkan hujan air matanya mengalir.

Amersfort

“Dames en heren.” Sebuah pengumuman berbahasa Belanda membahana mengisi stasiun kereta.
“Akibat cuaca buruk, semua kereta ditunda keberangkatannya sampai pemberitahuan lebih lanjut. Harap menghubungi meja informasi untuk keterangan lebih lanjut. Onze excuse voor uw ongemak.”
Monyet, bekantan, orang utan, beruk! Gagal deh gue dapet kerjaan di Utrecht!
Ditengah badai seperti ini, Banjar kerap jadi melankolis dan nama kawan-kawannya tanpa sadar bermunculan.
Banjar menekuk mukanya dengan kesal. Baginya, falsafah “time is money” sudah mendarah daging. Jadi kehilangan kesempatan wawancara kerja hanya karena sebuah badai angina topan yang membuat badai Katrina setenang hembusan AC memang menyebalkan. Namun, yang membuat muka berteukuk lebih ruwet dari origami bukan karena hilang waktu. Tapi karena…
“Huaaaaah … kretek gue abiiiiiiiiiiis!”
Ia menatap kotak kretek itu penuh harap, seolah sinar mata dan tetesan air liur bisa memunculkan kembali sebatang rokok dengan ajaib bagaikan jin dalam botol. Banjar kembali mengutuk keputusannya telah mengambil rute Amersfort.
Coba tadi gue ganti kereta di Bandara Schiphol aaja, kan nggak bakal begini jadinya! Paling sial gue kejebak di Schiphol atau Amsterdam Centraal yang besar, nyaman, dan banyak tokonya! Gerutu Banjar dalam hati.
Laah di Amersfort Cuma ada satu stan penjual kopi yang antreannya mirip pembagian jatah qurban di Istiqlal. Mana gue curiga si penjaga stan itu pake kumis tempelan!
Hmm. Oke, mungkin itu sedikit hiperbol.
Kumisnya boleh jadi asli, tapi gue yakin belahan rambut itu gak wajar. Jangan-jangan dia pakai wig! Wig-nya pasti buatan Purbalingga!
“Gue butuh kretek nih, kalo nggak bisa gilaaaa! Teriak alam bawah sadar Banjar yang , kok ya, kompak dengan mulutnya.
Dari kerumunan orang yang berambut blonde, brunette, dan redhead, tiba-tiba muncul seorang pemuda berkulit gelap, berambut hitam kriwil, berperawakan tinggi cungkring, dan berwajah melayu.
“Teriak-teriak malu-maluin bangsa, Kang. Abdi aya tingwe kalo mau,” seru pemuda yang tiba-tiba muncul bagai malaikat, sembari menyodorkan bungkusan kecil berwarna biru berisi tembakau dan kertas lintingan.
“Wah, makasih! Dari Indonesia juga?” Tanya Banjar sambil memungut segepok besar tembakau, lalu mulai melinting seukuran cerutu.
“Enggak, gue mah orang Islandia yang kebetulan tinggal lama di Bogor.”
“???”
“Ya, iyalah orang Indonesia! Emangnya tampang gue kurang Indonesia, apah? Eh, jangan-jangan gue punya tampang kayak orang Viking, yah? Emnag sih, dari dulu udah ngerasa kalo hidung ini mancungnya emang beda. Kayak bule, gitu.”
“ …..”
“Oh ya, belum kenalan. Wicak. Ngomong-ngomong, enggak salah tuh, Kang? bikin lintingan gede pisan?” sembari mengulurkan tangannya dengan ramah.
“Banjar,” sambil menarik jari keluar dari hidung, tak kalah ramah.
Kedua insan itu bersiap menikmati rokok linting mereka, hingga tersadarkan akan sebuah detail esensial.
“Pinjam lighter, dong.”
“ …..”
“ … .”
“Waduh, map … nggak punya, euy!”
“Yah, sama, dong …”
Kedua mulai clingak-clinguk mencari cewek pemilik lighter yang kira-kira nggak rugi buat sekalian diajak kenalan. Bagi mereka, nggak punya korek justru handicap positif untuk berkenalan dengan perempuan!

Out of the blue, muncul sebuah tenor.atu mungkin Alto. Yang jelas, cempreng.
“Alhamdulillaaaaaaah … ada juga orang Indonesia yang pas lagi blangsak begini! Lidah gue dah pegel linu ngoceh bahasa Enggris sedari tadi!”
Kedua pemuda itu saling berpandangan dan nyengir bareng. Setelah berbasa – basi sebentar, serentak keduanya menerima lebar ucapan perkenalan dari si pemilik suara, yang dengan hebatnya memiliki dua korek api gas dalam tasnya, tanpa sedikitpun tembakau di situ. Tak lama ketiganya pun bersam-sama menyalakan rokok linting hasil gibah dari Wicak.
“Makasih ya, Mas…”
“Daus, kagak usah pake mas-masan segala. Kagak pantes.”
“Oke. Thanks, Daus.”
Mereka menikmati rokok dalam diam.
Ditengah kekhusyukan merokok, terdengar sebuah suara bas. Dari nadanya seperti orang bertengkar. Suaranya terdengar memohon dan sedikit tegang. At least, kedengarannya begitu, karena mereka bertiga belum mampu memahami Nederlands yang fasih meluncur dari mulutnya. Mereka mencuri pandang kea rah si cowok misterius, terpancing rasa penasaran.
Sambil mengamati, ketiganya kegantengan si cowok misterius. Nurunin pasaran cowok-cowok disini aja, pikir mereka dalam hati. Seolah setiap perempuan single yang terjebak di tengah badai di stasiun kereta secara otomatis akan mencari cowok p-aling ganteng untuk menyegarkan pemandangan (padahal emang). Kayaknya orang Belanda blasteran ya ? dari warna rambut dan matanya yang gelap tersirat imbas gen Asia. Terdengar cowok itu sedang memohon melalui telepon selulernya.
“schaatje, alsjeblief!... Wat zeg je? Nee, lie verd. Ik kan niet … Halo? Halo?”
Pembicaraan itu terputus, dan cowok itupun mengumpat. “Verdomme!”
Ia menutup HP, kemudian terlihat sibuk merogoh tas ransel miliknya. Tampaknya ia sedamng mencari sesuatu.
Cres.
Terdengar suara gemeretak diikuti aroma yang khas yang baunya acap dibenci mayoritas kaum bule. Bau yang berasal dari rempah harum bernama kruidnagel. Rempah yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi clove, dan dalam bahasa pergaulan sehari-harian taipan Putera Sampoerna menjdai cengkih.
“Hmmmmm ….”
“Waaah itu kan bau …”
“KRETEK!!”
Tanpa disangka, si cowok misterius menoleh kea rah sumber suara-suara mupeng, alias muka pengamat.
“Kretek, Mas? Sebenarnya saja nggak ngerokok, tapi berhubung badai begini … lumayanlah buat bikin badan anget.”
Cowok itu dengan ramah menyodorkan sekotak rokok kretek yang masih penuh.
“Silakan, lho.”
Banjar, Wicak dan Daus hamper berlutut bahagia, tapi dalam hati mereka mengutuki nasib.
Yah, orang Indonesia juga.
Sialan, ganteng amat, sih jadi orang Indonesia. Makin turun deh pasaran gue.
Tapi, kalau cowok perokok kretek diberi pilihan antara gengsi dan menelan gengsi demi kesempatan mendapat rokok kretek ditengah hujan badai, tentunya itu bukan pilihan sulit.
“Makasih yah … sorry.. siapa tadi namanya?”
“Geri. Ambil lagi aja juga gak papa. Ini baru aja dibawain teman dari Indonesia.
“Wah, Ger. Thanks banget!” seru Banjar sumri8ngah.
Rokok linting segera pension diganti dengan rokok kretek pemberian Geri.
“Sialan…”
“Sedep euy…”
“Subhanallah…”
Keempatnya pun tenggelam dalam kenikamtan duniawai tiba-tiba..
“Waaaaaaaaaaaaaaaa dari Indonesia yaaa?”
Keempat cowok itu terkejut dan menoleh mencari sumber suara feminin nan ceria yang tiba-tiba muncul.
Seorang perempuan tinggi semampai, wajah cantik, rambut dikuncir dan suara ceria tanpa tedeng aling-aling langsung datang menghampiri sambil menyodorkan tangannya.
”Halo! Aku Lintang, tinggal di Leiden. Seneng banget bisa ketemu orang Indonesia di tengah badai kayak begini! Mas semua dari mana?”
Banjar yang paling cepat tanggap kalau ada “Barang bagus’ jadi orang pertama yang menyambut tangan Lintang.
“Iskandar. Gue di Rotterdam.”
“….”
“Lah, katanya nama ente banjar?” celetuk Daus.
“Oh, hehe …iya. Panggilan sih banjar. Tapi nama asli gue Iskandar.”
Yee giliran kenalan sama cewek cakep aja namanya jadi bagus, pikir Daus dalam hati.
Lintang hanya mengulum senyum.
“Daus, dari Utrecht.” Daus gentian mengulurkan tangan.
“Geri. Den Haag.”
“Wicak. Wagengingen.”
“Abis pada jalan dari mana kok bisa terdampar di Amersfort?” Tanya Lintang sambil mematikan iPod-nya. Dalam situasi gawat darurat lagi pula garing seperti ini, seasyik-asyiknya mendengar musik, jauh lebih menyenangkan punya temen ngobrol.
“Hmm. Jangankan tahu kenapa ada disni, Gue aja masih heran kenapa gue bisa terdampar di Belanda,” sahut BAnjar kalem sambil terbatuk-batuk tersedak asap.
Lintang menyengir kuda.
“Looks like we’ge got time to kill.”
Dan terjadilah sudah. Sebuah pertemuan tak disengaja yang tanpa disadari akan membelokkan jalan hidup mereka. Berkat badai, kretek dan takdir.

next : Bagian 2 ( Sabar ya )

Kamis, 21 Januari 2010

Jenazah Seorang sholehah

Sebuah kuburan tua terletak di halaman surau yang hendak diperluas menjadi sebuah masjid. Karena rencana perluasan ini, maka dapat diperkirakan kuburan tua dimaksud nantinya akan terletak di dalam bangunan masjid, bahkan tepat berada pada mihrab. Oleh karena itu maka setelah melewati musyawarah warga, akhirnya diputuskan akan membongkar kuburan tua yang tak jelas identitasnya ini.
Setelah kuburan tua tersebut dibongkar, keajaiban pun berlangsung. Kain kafan pembungkus tubuh mayat masih terlihat utuh dan putih bersih, bahkan mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata orang yang melihatnya. Selain itu, tubuh sang mayat juga masih utuh, seolah-olah si mayat baru menghembuskan nafas terakhir, padahal dia telah terkubur ratusan tahun lamanya. Wajah si mayat juga nampak tersenyum bahagia.

Siapa sosok jenazah yang mendapat kemuliaan dari Allah SWT tersebut? Dan, apa sajakah amal ibadah yang telah dia kerjakan selama hidupnya di dunia, sehingga jasadnya menunjukkan fenomena kegaiban seperti yang diceritakan di atas? Berikut ini kisahnya seperti yang diceritakan Zailani kepada Misteri beberapa waktu yang silam…:
Asal muasal diketahuinya kuburan tua yang berada di dalam halaman surau yang akan dibangun menjadi masjid itu adalah melalui mimpi Zailani, seorang pemuda yang sangat taat beribadah. Shalat tahajudnya dan shalat dhuhanya tidak pernah tinggal. Selain itu, Zailani juga sangat rajin puasa sunnah Senin-Kamis. Karena ketakwaannya, maka oleh warga Desa Ambang Pakiduhan, Kecamatan Pelembayan, Kabupaten
Agam, Sumatera Barat, Zailani dipilih sebagai bendahara pembangunan surau yang akan diperluas menjadi masjid.
Selama ini, Zailani mendengar cerita dari orang-orang tua di desanya, bahwa di halaman surau yang akan diperluas menjadi masjid itu terdapat kuburan seorang gadis santri dari Pesantren Padang Panjang. Gadis tersebut bernama Siti Aminah. Semasa hidupnya dia hafal Qur’an 30 juz dan sangat shalelah.
Diperkirakan, Siti Aminah meninggal dunia ratusan tahun lalu. Sayangnya, di mana letak kuburan Sitri Aminah ini tidak seorangpun warga yang mengetahuinya secara persis. Tanda-tanda kuburan seperti batu nisan memang sudah lama hilang karena tertimbun tanah.
Misteri keberadaan makam gadis salehah tersebut akhirnya terjawab juga. Suatu malam Zailani bermimpi. Dalam mimpinya, dia merasa datangi oleh seorang gadis cantik berbusana muslimah. Si gadis tidak datang seorang diri, melainkan ditemani perempuan separuh baya.
Di dalam mimpi tersebut. Zaelani merasa pertemuan dengan si gadis terjadi di halaman masjid yang sudah siap dibangun. Gadis cantik ini sangat ingin bertemu dengan pemuda bernama Zaelani.
Dalam hati, Zailani diliputi tanda tanya, “Siapa gadis cantik yang mencariku ini?” Bisiknya dalam hati. Maklum saja, selama ini dia memang tidak punya teman perempuan selain beberpa gadis di desanya yang kebetulan jadi murid mengajinya.
Dari kejauhan gadis itu tersenyum manis menyambut kedatangannya. Jantung Zailani berdebar-debar. Dalam hati, dia sangat mengagumi kecantikan si gadis. Wajahnya putih bersih dan amat berseri-seri. Sungguh, di desanya tidak ada gadis secantik dia.
“Assalammu’alaikum!” Sapa si gadis. Suaranya sangat merdu seperti buluperindu.
“Wa’alaikum salam!” Jawab Zailani semakin terpesona melihat kecantikannya.
“Namaku Siti Aminah. Gadis yang kuburannya nanti akan tepat di mihrab masjid ini. Pindahkan kuburanku ke tempat lain, Bang!” Pintanya.
Zailani hanya mengangguk. Sesaat kemudian, gadis itu pergi meninggalkannya dan Zailani terjaga dari mimpinya. Dia segera bangkit dan duduk di atas tempat tidurnya. Berulang kali dia beristighfar, mengucapkan tasbih, tahmid, takbir dan tahlil.
Jarum jam dalam kamarnya ketika menunjukkan waktu pukul dua dini hari. Zailani menuju kamar mandi dan berwudhu untuk mengerjakan shalat Tahajud. Selesai shalat Subuh, dia menceritakan mimpinya ini pada ibunya yang sudah renta.
“Mungkin mimpimu itu benar. Orang-orang tua kita dulu menceritakan pada ibu, bahwa di halaman surau itu memang ada kuburan gadis yang hafal Al-Qur’an 30 juzz. Gadis itu sangat taat pada Allah SWT dan pada kedua orangtuanya,” jawab ibunya menanggapi mimpi Zailani.
“Tahun berapa dia meninggal dunia, Bu?” Tanya Zailani.
“Ibu tidak tahu tahunnya. Yang pasti dia meninggal dunia dalam keadaan masih suci. Oya, di desa ini, orangtua yang bisa menjelaskan tahun berapa Siti Aminah meninggal dunia mungkin cuma Anggut Mukhtar. Cobalah kamu temui dia agar lebih jelas lagi,” kata ibu Zailani menjelaskan.
Orang yang disebut sebagai Angut Mukhtar ini usianya sudah mencapai satu abad lebih. Diperkirakan dia lahir pada tahun 1909. Kendati sudah sangat tua, tapi pendengaran, ingatan dan penglihatannya masih sangat normal. Hanya saja, ia tidak lagi bisa berjalan alias jompo. Maklum saja, sejak dua puluh tahun yang lalu, dia menderita encok dan kerapuhan tulang. Untuk berjalan harus dibantu dengan tongkat, sebab tulang punggungnya bongkok.
Hari itu, selepas sholat Magrib Zaelani seorang diri bertamu ke rumah Anggut Mukhtar yang sangat sederhana. Kepada si kakek renta ini dia menceritakan mimpi yang dialaminya tadi malam.
“Kalau aku tak salah ingat, gadis bernama Siti Aminah itu meninggal dunia hampir seratus tahun silam. Saat dia meninggal, usia Anggut baru sepuluh tahun. Memang, berbagai peristiwa gaib terjadi saat dia hendak dikuburkan. Misalnya saja, hari di musim kemarau panyang yang tidak pernah turun hujan hampir selama satu bulan, tiba-tiba hujan turun sangat lebat. Tanah yang semula retak-retak menjadi basah dan lembut. Siang hari biasanya panas menyengat tubuh, di hari kematiannya berawan tapi tidak turun hujan. Tanah kuburannya sangat gembur sehingga mudah digali.
Sesaat setelah jasadnya diletakkan di liang lahat. Tanah perlahan jatuh dari atas menutupi liang lahat hingga membentuk gundukan,” cerita Anggut Mukhtar, sesaat kematian setelah dia mendengarkan cerita Zaelani tentang mimpinya bertemu dengan gadis yang mengaku sebagai Siti Aminah.
“Apa amalan Siti Aminah sehingga dia mendapat karomah dari Allah SWT, Gut?” Tanya Zailani.
“Setahuku, gadis itu memang sangat taat kepada Allah, dan taat kepada kedua orangtuanya. Selain itu, dia sangat shalelah. Sepertiga malam waktunya dia habiskan untuk beribadah sunnah. Selesai shalat Subuh, dia menghafal Al-Qur’an hingga terbit fajar, kemudian dia mengerjakan shalat Dhuha. Mungkin karena kesahalehannya itu, dia mendapat karomah dari Allah SWT,” cerita Anggut Mukhtar lagi.
“Apa keluarganya masih ada yang tinggal di kampung ini?” Tanya Zailani.
“Tidak ada. Kedua orangtuanya berasal dari Candung. Ayah danh Ibu Siti Aminah tinggal di desa ini hanya untuk mengajar anak-anak kampung mengaji. Siti Aminah merupakan anak tunggal mereka. Ketika dia meninggal dunia dia sudah duduk di kelas tiga madrasah waktu itu,” jelas Anggut Mukhtar.
“Mengapa warga di sini tidak memberikan tanda kuburnya?”
“Tanda yang dibuat warga berupa nisan hanya terbuat dari kayu broti yang mudah sekali lapuk. Ketika kayu broti lapuk, tanda kuburannya menjadi hilang. Selain itu, sejak wabah muntaber menyerang desa ini, banyak warga yang pergi mencari tempat tinggal di daerah lain. Mereka menduga wabah muntaber sebagai kutukan dari makhluk halus penunggu hutan di pinggir kota.
Kepercayaan itu timbul setelah beberapa warga desa pergi ke dalam hutan menebang kayu untuk membuat rumah. Pada malam harinya, mereka diserang muntaber. Semuanya meninggal dunia. Selanjutnya wrga desa yang lain juga mengalami nasib sama.
Karena peristiwa itu desa ini pernah ditinggalkan penduduknya dan menjadi hutan belantara. Lima belas tahun kemudian, warga yang dahulu pergi meninggalkan desa, kembali ke desanya. Sawah-sawah yang dahulu mereka tanami padi, kembali mereka garap.
Beberapa kuburan keluarga mereka di belakang rumah hanya diberi tanda nisan terbuat dari kayu menjadi lapuk tertimbun sampah dan tertutup tanah. Termasuk kuburan Siti Aminah, sehingga kuburannya tidak lagi diketahui dimana letaknya,” cerita Anggut Mukhtar menjelaskan.
Setelah mendengar penjelasan dari Anggut Mukhtar, pada pagi keesokan harinya Zailani memerintahkan Pak Razali dan Pak Saman untuk menggali kuburan Siti Aminah, sesuai dengan petunjuk yang diterima lewat mimpi. Setelah hampir satu meter tanah digali, Pak Razali menemukan tanda-tanda tanah kuburan dimaksud. Ya, biasanya tanah kuburan ketika digali tanahnya akan lebih lembut. Hanya permukaan saja yang keras, tapi di bawahnya agak gembur.
Penggalian terus dilakukan hingga akhirnya mendapat kepastian saat skop penggali tanah menyentuh papan penutup liang lahat. “Sepertinya kita tidak salah menggali!” Pak Saman berseru.
Perlahan Pak Saman menarik tanah dengan cangkul sehingga satu persatu papan penutup liang lahat terlihat. Meskipun papan penutup liang lahatnya sudah berusia seratus tahun, tapi anehnya masih terlihat baru, seolah-olah baru dipakai. Papan penutup liang lahatnya tidak lapuk di makan rayap.
Saat papan penutup itu dibuka satu persatu, tiba-tiba sinar putih keluar dari kain kafan yang masih terlihat baru dan tetap berwarna putih bersih. Sinar putih itu sangat menyilaukan mata orang yang memandangnya.
Sambil berulang kali memuji kebesaran Allah SWT, dibantu Pak Razali, Pak Saman lalu mengangkat jenazah Siti Aminah ke atas. Warga desa yang berdiri menyaksikannya terperanjat melihat jasad Siti Aminah yang masih utuh. Wajahnya putih berseri-seri. Fadis itu seperti layaknya sedang tidur pulas saja.
Semua urang takjub dibuatnya. Bahkan, berulangkali Zailani menyebut asma Allah sambil menitikkan air matanya. Wajah Siti Aminah benar-benar sama seperti yang dilihatnya dalam mimpi.
Siti Aminah yang tersenyum itu nampak penuh kebahagiaan, bagaikan pengantin baru selesai menikmati malam pengantinnya. Kini dia seolah-olah menikmati bulan madunya. Sebagaimana yang diceritakan Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya, bahwa bagi hamba-hamba yang shalelah, di alam kubur ditemani pria berwajah sangat tampan. “Berbahagialah Anda wahai tamuku dengan apa yang kau terima pada hari ini. Inilah sesuatu yang telah dijanjikan Alah untukmu.” Ahli kubur bertanya, “Siapa gerangan Anda? Saya belum pernah melihatmu ketika berada di dunia?” Ia menjawab, “aku ini amalmu yang shaleh. Maka sengaja aku datang kemari untuk menemanimu, hingga hari berbangkit.
Kemudian berkata amal shalehnya. “Mari kita tidur”. Kemudian keduanya tidur laksana tidurnya pengantin baru. Sampai akhirnya mereka terjaga dari tidur panjang pada saat sangkakala ditiup oleh Malaikat Israfil.” Demikian menurut sebuah hadits.
Dalam tidur panjangnya yang lelap, jenazah Siti Aminah diangkat dari dalam liang lahat. Sejenak disemayamkan di pelataran masjid. Kemudian dikuburkan kembali di belakang masjid. Zailani menyuruh Pak Jamal menembok kuburan sekitar satu jengkal dari tanah dan meletakkan batu nisan. Kuburan Siti Aminah dipagar agar tidak dimasuki hewan ternak warga.
Pada malam hari setelah prosesi penguburan tersebut, Zailani kembali bermimpi bertemu Siti Aminah. Dalam mimpinya, Siti Aminah datang menemuinya di masjid yang sudah selesai dibangun. Padahal saat itu, pembangunan masjid baru saja membuat pondasi. Siti Aminah datang tidak seorang diri, melainkan ditemani seorang perempuan separuh baya sebagai muhrimnya.
“Assalammu’alaikum!” Kata Siti Aminah mengucapkan salam.
Zailani menjawab salam itu. Dia lalu mempersilahkan Siti Aminah masuk ke dalam masjid.
“Terima kasih, Abang telah memindahkan kuburanku,” cetus Siti Aminah penuh haru. Dia tetap memangil Zaelani dengan sapaan Abang. Saat ia meninggal dunia, usia Siti Aminah diperkiraan baru genap delapan belas tahun, sedangkan saat ini usia Zailani memang lebih tua 6 tahun darinya.
“Apakah kau bahagia berada di tempat yang baru?” Tanya Zailani.
Siti Aminah hanya mengangguk. Dia tersenyum manis tipis.
Zainal sangat terpesona menatap kecantikan wajah Siti Aminah. Dalam hatinya, timbul keinginan memiliki isteri yang cantik dan shalelah seperti Siti Aminah. Dalam hati dia pun berandai-andai. “Andaikata aku memiliki isteri seperti Siti Aminah, betapa bahagianya hidupku, sebagaimana yang disebutkan Rasulullah SAW dalam salah satu hadits riwayat Bukhari beliau bersabda, ‘Dunia ini adalah perhiasan. Sebaik-baik perhiasan dunia, isteri shalelah.”
“Abang melamun dan berandai-andai punya isteri seperti Siti?” Tanya Siti Aminah. Zailani hanya tersipu malu.
“Bukankah Allah SWT telah berjanji pada orang-orang beriman, bertakwa dan mengerjakan amal shaleh di dunia. Di akhirat nanti Allah SWT akan menempatkannya di dalam surga dan Abang akan mendapatkan bidadari-bidadari yang tetap perawan. Mereka penuh rasa cinta dan sebaya umurnya dan Abang akan tinggal dalam surga selama-lamanya. Di akhirat tidak ada kematian lagi. Di sana kehidupan abadi,” lanjut Siti.
Zailani hanya mengangguk. Sementara perempuan paruh baya yang bersama Siti Aminah hanya diam membisu duduk di sisinya.
“Bang, kami mohon diri. Assalammu’alaikum!” Sesaat Siti bersama perempuan pendampingnya hilang dari hadapan Zailani, dan dia terjaga dari mimpinya.
Zaelani bangkit dari atas tempat tidur. Berungkali dia mengucapkan tasbih, takbir dan tahmid. Jarum jam di dalam kamar tidurnya menunjukkan pukul dua dini hari. Zailani menuju kamar mandi. Dia segera mengambil air wudhu untuk mengerjakan shalat tahajud.
Pada pagi harinya, Zailani menceritakan mimpi itu pada ibunya. “Allah SWT telah memberikan salah satu bukti dari kekuasaannya padamu. Kau bisa bercerita dengan orang yang telah meninggal dunia ratusan tahun lalu. Biasanya, orang yang bermimpi dengan orang yang telah meninggal dunia, dia hanya diam membisu tidak berkata-kata,” jawab ibunya setelah mendengar cerita itu.
Peletakkan batu pertama pembangunan masjid bertepatan dengan hijrah kaum muslimin dari kota Mekkah ke kota Madinnah. Kemudian, pembangunannya selesai pada 1 Muharram 1428 H. Karena itulah Zailani mengusulkan nama Al Muhajirin untuk nama masjid di desanya itu.
“Muhajirin berarti sekelompok umat Islam yang pergi berhijrah meninggalkan kampung halamannya di Mekkah menuju kota Madinah. Kelompok ini merupakan generasi pertama dari umat Islam yang teguh keimanannya pada Allah SWT dan Rasul-Nya. Dalam kaitannya dengan surau kecil berubah menjadi masjid megah juga merupakan perpindahan dari sikap hidup kaum muslimin di sini. Kini untuk shalat Jum’at tidak perlu lagi harus berjalan kaki sejauh 2 km. Cukup dikerjakan di sini,” papar Zailani menerangkan argumentasinya soal nama masjid yang diusulkannya.
“Kami setuju dengan nama masjid yang diusulkan Zailani. Hijrah dan kaum Muhajirin merupakan awal sejarah dari perkembangan Islam. Dengan hijrahnya Rasulullah SAW bersama para sahabatnya, Islam berkembang pesat di Madinnah dan daerah-daerah di sekitarnya, sehingga Khalifah Umar bin Khattab menetapkan hijrahnya kaum muhajirin dari Mekkah ke Madinnah sebagai penanggalan dalam kalender Islam,” kata Pak Amir Sutan Kayo mengomentari nama masjid yang diusulkan Zailani.
Sejak masjid itu berdiri di desanya, Zailani mendapat amanah dari warga desanya agar mengajari anak-anak usia SD mengaji. Setiap masuk waktu shalat, Zaelani selalu mengumandangkan seruan adzan. Kini masjid merupakan rumah kedua baginya.

Kisah Pohon Apel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.? Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu.? Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.?

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.

“Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.
“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.
“Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.

“Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel.
“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”
“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel.

Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira.

Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih. Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.

“Ayo bermain-main lagi deganku,” kata pohon apel.
“Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”
“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.”

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya.

Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu. Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.

“Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.”
“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel.
“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.
“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.
“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki.
“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”
“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”

itulah kasih sayang orang tua terhadap anaknya……….