aku terkejut saat ibu berkata 'Sakit Hati', dan aku saat itu tidak mencerna dengan baik yang ibu maksud, sehingga aku kurang mengerti apa hubungannya 'Sakit Hati' dengan peringatan agar aku tidak terburu-buru menikah.
setelah lama aku berfikir, akhirnya sampai juga aku pada suatu pertanyaan, aku bertanya pada Ibu.
"Apa ada hubungannya dengan Kakak ipar perempuan saya itu Bu?"
ibu malah menangis tidak menjawab tanyaku, tetapi cukup sudah isak tangis ibu itu menjadi jawaban untuk pertanyaanku, aku sadar ipar perempuanku itu memang kurang bisa menempatkan diri dan menjaga sikap ditengah keluarga kami, pendidikannya yang tinggi ternyata tidak menjaminnya memiliki perilaku yang baik, aku masih ingat dulu saat belum menjadi iparku sosoknya baik dan bahkan ibu pun memuji-mujinya, tetapi kini berubah 180 derajat, harapan ibu hilang sirna, dulu ibu berita-cita memiliki mantu perempuan yang bisa diajaknya buat tempat bercerita, sebagai tempat ibu berkeluh kesah, semuanya hanya impian belaka..
ibu berfikiran iparku akan menjadi seperti dirinya, yang juga seorang mantu tetapi bisa menempatkan diri dan mejaga sikap ditengah keluarga Bapak. tetapi tidak, iparku selalu mencari muka dihadapan abang ku, dan iparku itu pandai berkata, lain orang lain bicara, sejak itu aku benci pada perempuan pembohong, yang membuat ibu sakit hati adalah sikap iparku yang selalu membanding-bandingkan kelurganya dengan keluarga kami keluarga ibu, ibu merasa terhina, kami memang keluarga yang sederhana, abangku mustinya sadar akan itu, tetapi nyatanya tidak. mengalah pada isteri seperti itu hanya akan membawa tekanan batin dalam hidup, aku tidak ingin ibu memiliki trauma menantu perempuan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar