Cerita Sebelumnya :
Sudah dari tadi Ferdi laki-laki umuran 20 tahun, tersenyum-senyum sendiri sambil lincah jemarinya memainkan tuts keyboard di laptopnya, sampai-sampai suara ketukan pintu kamar kos nya tidak terdengar,
“Lay.. buka, aku mau masuk ini.”
“tok… tok…” pintu kamar terketuk, dan terdengar teriakan khas Batak dari luar kamar untuk yang kesekian kalinya, akhirnya Ferdi pun dengan setengah malas berdiri dari kursinya dan membukakan pintu kamarnya.
“Gimana Sob, menurut lo, ni cewe bagus engga? Jujur gue naksir.” Ferdi lalu memutar kursinya menghadap pada Ucok,
“Aku, tak tau Lay, kalau soal begini, aku tak berpengalaman.” Ucok menjawab dengan muka polosnya sambil menggaruk-garuk kan tangan dikepala.
“Ah, lo ini sob, gue kan nanya, ini cewe bagus engga? Sapa juga yang pengen denger pengalaman lo, makanya buka mata ama buka telinga bae-bae biar omongan gue jelas, paham.” Ferdi pun menepuk bahu Ucok.
“Yalah, aku paham kalau yang satu ini, ehh cantik juga Lay, senyumnya bagaikan pinang dibelah lima, tapi..” Ucok menghentikan ucapannya.
“Tapi, apa?” Ferdi penasaran
“Tapi Lay, tak cocok kalau harus untuk kau ini, kalau orang Medan bilang, bagaikan Punguk merindukan bidadari.” Ucok meneruskan ucapannya dan hendak berlari, tapi tangannya segera ditarik oleh Ferdi, “Ahhh… sialan.
“Nah lo pengen kemana?” kini Ferdi mulai bertanya curiga saat Rizki mulai berdiri,“Beli rokok, asem nih.” Jawab Rizki asal. Dan sekarang dikamar hanya ada Mona, Ika dan Iki, Sita Ucok dan Ferdi. Sita, Ika dan Iki pun mulai berdiri dari duduknya, “Eh.. eh.. mau pada kemana? Mau nyari angin, pengen pipis, atau beli rokok? Ferdi mulai bisa menebak gelagat mencurigakan yang diperlihatkan kawan-kawannya, “Ya semuanya deh.” gadis-gadis itu tersenyum beranjak dan lengan Ucok ditarik oleh si kembar Ika dan Iki, “Eh.. Cok mau kemana lo?” Ferdi coba mencegah Ucok.
Ucok cuma tersenyum, “Memberi kau kebebasan Lay.” Lalu pergi meninggalkan Ferdi yang kini tinggal berduaan saja dengan Mona, Ferdi bingung sendiri, dirinya jadi serba salah, “Kenapa engga ikut mereka keluar?” Ferdi membuka pembicaraan, matanya menatap Mona yang masih malu-malu, “Ya, udah gue yang keluar, engga enak berduaan didalam kamar, takut ada setan lewat.” Ferdi bangkit dari duduknya, seketika itu Mona membuka suara, “Mas jangan pergi dulu, aku kepingin ngomong.” Ferdi akhirnya kembali duduk, dirinya mengambil jarak duduk agak jauh dari Mona, “Ya silahkan.” Jawab Ferdi.
“Mas, maaf sebelumnya kalau aku lancang buat ngomong ini.” Mona menghentikan ucapannya, “hmm..” Ferdi menghela nafas, “Ada apa Mon, kok tiba-tiba minta maaf.” Lalu menimpali ucapan Mona.
“Mas, aku serius.” Wajah Mona terlihat sendu, ucapannya pelan namun memiliki makna yang mendalam, Ferdi cuma bisa melongo seperti kurang paham, “Ya, maaf kalo tadi gue engga serius.” Ferdi lalu tersenyum pada Mona, yang diajak tersenyum cuma menekuk muka, “Ahh.. Mas Ferdi, ini aku beneran serius nih, Mas sebenarnya ngerti engga sih?” Nada bicara Mona sedikit merajuk.
“Iya gue ngerti kok.” Ferdi menjawab asal, walau dalam hatinya masih bertanya-tanya apa maksud dari pembicaraannya ini. “Beneran Mas, mas udah tau, berarti Mas mau sama Mona?” Mona menyambut jawaban Ferdi dengan raut yang serius, matanya ceria dan bibirnya mengembangkan senyum. Sedangkan ekspresi Ferdi masih melongo tak mengerti, “Lho.. lho maksudnya mau gimana Mon?”
“Tadi Mas Ferdi bilang, ngerti. Kalau begini, Mona jadi malu Mas, Mona pengen pulang.” Mona lalu beranjak dari kamar, “Tapi Mon.” Ucapan Ferdi terputus karena Mona sudah berlari meninggalkan kamar, Ferdi mengejar, tapi dihadang oleh kawan-kawannya, “Udahlah Sob ga usah dikejar, cuma gue harap lu ngerti perasaannya Mona.” Anton berbicara setengah menasehati, “Ya udah, ane en kawan-kawan pamit balik ya, Fer makasih buat jamuannya.” Wawang menyahut dari depan pintu.
Sesaat kemudian kos an pun kembali hening, yang tertinggal hanya Ucok dan Ferdi, Ferdi masih mematung menyandarkan badan dipintu rumah, sementara tatapan matanya masih mengarah kejalanan yang telah jauh ditinggalkan kawan-kawannya, “Lay, kenapa kau melamun begitu, jelek kali muka kau kalau sedang melamun.” Ucok menepuk bahu Ferdi yang sedang melamun, dan Ferdi hanya bisa menghela nafas panjang.
“Pasti ini kerjaan kaliankan?” Ferdi membuka suara, “elo-elo pade sengaja kan bikin suasana begitu, biar gue bisa duaan sama Mona, maksudnya apa? Ferdi melanjutkan ucapannya, dan Ucok sedikit ragu untuk menjawab, tapi akhirnya dia membuka suara juga, “Maaf Lay, bukan aku bermaksud buruk buat kau, tapi aku dan kawan-kawan memberi kesempatan buat kau dan Mona untuk dapat bicara empat mata, tapi Lay, tadi aku lihat Mona pulang dengan mata berkaca-kaca, kalau boleh tau kau apakan dia didalam?”
“Gue ga ngapa-ngapain dia kok didalem, otak lo tuh ngeres, gue juga kaga ngerti apa yang dia maksud, tapi dia tadi ngomong nada-nadanye serius bener, ga kaya biasanya.” Ferdi menjawab sambil mendorong tubuh Ucok, tubuh Ucok yang kecil hampir-hampir terjungkal kelantai, jika saja tidak cepat di pegangi Ferdi.
“Lay.. Kau ini bodoh apa tolol, jelas-jelas Mona itu suka kau, alamak, aku jadi bingung.. ada aja orang seperti kau ini.” Ucok hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan teman satu kost nya itu.
“Udah ahh gue gerah pengen mandi, jujur gue juga suka dia, tapi gue suka Mona sebagai temen aja, ga lebih.” Jawab Ferdi singkat, seakan ingin mengakhiri perdebatannya dengan Ucok, dirinya pun berlalu menuju kamar mandi, tapi dirinya teringat sesuatu, kakinya pun kembali melangkah menuju kamar mengambil Hp, dari dalam kamar Ferdi masih melihat Ucok yang sedang ngomel-ngomel sendiri tak karuan, dirinya hanya tersenyum. “Waduh, “Vita.” Gumam Ferdi dalam hati, dibuka inbox di Hp, ada empat pesan masuk dari pengirim yang sama ‘Vita’, ragu-ragu Ferdi membuka satu persatu pesan masuknya, pesan masuk yang pertama berbunyi, ‘Wah enaknya yang lagi pada kumpulan, aku lagi diem temenenin aku sms an ya mas, :-), Ferdi semakin ragu untuk membaca pesan selanjutnya, ‘Mas..’ bunyi pesan kedua dan ketiga sama, lalu diberanikan diri untuk membaca pesan yang terakhir, Ferdi memejamkan mata sambil memencet tombol baca, perlahan dirinya mengernyitkan mata untuk bisa melihat bacaan pesan masuknya, dan terlihat lah ‘hmm.. yang lagi sibuk, sms ku engga dibales :-(‘.
Ferdi terdiam menggaruk-garuk rambutnya, kebingungan harus membalas bagaimana, perlahan tapi pasti jarinya ragu-ragu menekan tombol demi tombol HP, dan terbacalah sebaris tulisan pesan singkat ‘Maaf, tadi kelupaan. Hp aku silent jadi engga kedengeran ada sms, maaf ya smsnya baru aku bales :-), kuharap engga kapok sms ma aku’ dengan mata terpejam dan ibu jari menekan tombol kirim, dan akhirnya “Phuhhhh” Ferdi melepas nafas panjang, dirinya segera mengalungkan handuk dan meneruskan niatan mandi.
***
2. M O N A
Menu makan untuk malam ini pecel lele, pecel lele + es jeruk, makanan pinggiran namun memiliki banyak penggemar, Ferdi dan ucok menikmati sekali santapan makannya, “Lay, tadi kudengar Hp kau berbunyi.” Ucok berbicara sambil mengunyah dan sepertinya tersedak makanan, karena tak lama setelah bicara segera memburu minum yang tersedia disamping piring, Ferdi yang melihatnya hanya bisa menahan senyum dan melangkah menghampiri meja tempat Laptop yang sekaligus menjadi meja kerjanya, “Makanya kalo lagi makan jangan ngomong.” Akhir Ferdi mengeluarkan suara dan tersenyum, diambillah Hp dan melihat ada satu panggilan tak terjawab, bernama ‘Mona’. “Mona, ada apa yah, kok tumben telepon.” Ferdi membatin.
Dirinya menyimpan kembali Hp dimeja, dan melanjutkan santapannya yang sempat tertunda, “Nanti sajalah setelah makan aku hubungi.” Pikir Ferdi.
“Dari siapa Lay?” Suara Ucok terdengar dari kamar mandi, rupanya dia telah selesai makan, “Mona.” Jawab Ferdi singkat
“Apa kataku, Mona itu benaran suka kau Lay, hanya kau saja yang masak bodo.” Ucok berkata sambil mengeringkan tangannya menggunakan lap, sementara Ferdi sendiri masih asyik dengan santap malamnya, dan tidak menghiraukan ucapan Ucok, “Kau dengar aku tidak?” dan sekarang wajah Ucok persis dekat dengan wajah Ferdi, Ferdi sontak mengelak. “Apaan si lo, geli gue.” Berkata risih. Ucok hanya cengengesan, “Aku pinjam laptop kau sebentar Lay, boleh tidak?” Ucok berkata merayu, Ferdi tidak menjawab hanya mengangguk-anggukan kepalanya, tanpa dikomandoi Ucok pun segera memburu laptop dan mulai menyalakannya, dia tersenyum-senyum sendiri, melihat-lihat laptop, “Napa lo?” Ferdi bertanya heran melihat kelakuan temannya itu, Ucok seakan tidak mendengar pertanyaan Ferdi, dan masih asyik memainkan Laptop. Ferdi tidak mempedulikan lagi dijawab atau tidak pertanyaannya, diambilnya Hp dan mulai memasang earphone lalu mendengarkan beberapa buah lagu, “Haduh, gue lupa.” Dalam hati Ferdi teringat sesuatu, ‘Mona’, dirinya harus menghubungi ‘Mona’, tapi melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 09.00 malam, Ferdi menjadi ragu untuk meneruskan niatnya, tapi dirinya merasa tidak enak hati kecilnya seakan-akan memaksa untuk melanjutkan niat menelepon ‘Mona’.
‘Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.. tut.. tut..’ Ferdi pun mematikan teleponnya, nomor ‘Mona’ tidak aktif. “Apa gue sms aja ya?” Tanya Ferdi dalam hati, dirinya pun mengirimkan pesan singkat untuk ‘Mona’. ‘Maaf Mon, tadi engga sempet gue angkat, tadi gue lagi beli makan Hp ditinggal dikamar, gue baru liat tadi abis makan, nomor lo ga aktif Mon, oh iya, soal tadi siang gue ngerti sekarang, tapi Mon, gue engga bisa nerima lo karena hati gue udah sayang banget sama lo, sayang banget, rasa sayang gue ke elo sebagai temen, elo yang terbaik buat geu Mon. Maafiin gue, Mon.’
Malam yang membingungkan baginya, dirinya merasa bersalah, tetapi memang begitu kenyataannya, dirinya, hanya bisa berteman saja, bukan maksud hati untuk sombong, tetapi merasa diri tidak pantas, “Aku hanya anak rantau.” Gumam Ferdi dalam hati, lagi pula melihat kebaikan yang selama ini ‘Mona’ tunjukkan, membuatnya sangat menghormati, dan keputusannya sudah ia anggap paling tepat.
Dan hatinya untuk saat ini masih belum bisa menerima kehadiran seorang wanita, memory masa lalu masih membelenggu hati Ferdi, Ferdi selalu trauma akan kisah cinta, karena kisahnya selalu kandas, terakhir kali merasakan cinta, setahun lalu, dan dirinya harus menerima kenyataan pahit, pujaan hatinya musti dikawinkan dengan lelaki lain oleh orang tuanya, sejak itulah dirinya lebih memilih menutup hati untuk sebuah kata, ya kata cinta.
Perlahan tapi pasti Ferdi menutup matanya sambil membaringkan badan dikasur lipatnya, mengeliatkan badan sambil menguap, sementara Ucok sudah terlelap dikursi tempatnya memainkan laptop, akhirnya keduanya terbuai dalam bunga tidur masing-masing.
***
3. UCOK-UCOK
“Makan siangnya enak Mas.” Terdengar suara perempuan menghampiri, Ferdi yang sedang menikmati istirahat jam kerjanya dengan makan siang, Ferdi menoleh kebelakang, “eh .. Mbak Ani, hmm.. enak aja kalo lagi laper, mari makan.” Ternyata Ani yang menyapa Ferdi tadi, yang menyapa hanya tersenyum, “Boleh saya duduk disini?”
“Tentu.” Jawab Ferdi singkat, lalu merekapun terlibat obrolan dimeja makan, ditengah hiruk pikuknya suasana kantin, “Eh iya Mas, tempo hari Ibu Dian manggil kamu ada apa?” Ani bertanya, sambil menikmati minuman dingin yang tadi dipesannya, “Akan ada proyek untuk perusahaan kita.” Ferdi menjawab sambil terus menikmati makan siangnya, Ani hanya mengangguk-angguk.
“Mas, kayaknya Ibu Dian menaruh kepercayaan yang tinggi sama Mas Ferdi, padahal soal ini kan hanya bagian Marketing biasanya yang mengurusi.” Ani berbicara dengan tatapan yang serius, Ferdi hanya tersenyum, sedikit aneh melihat Ani yang menatapnya tajam, “Yah, gue engga tahu juga kenapa bisa gitu, tapi ini tanggung jawab besar buat gue, karena gue udah dipercaya sama Ibu Dian, sebisa mungkin gue gak bakal kecewain, eh udah bunyi noh gong, ayo masuk.” Sebisa-bisa Ferdi mengalihkan obrolan agar Ani tidak menatapnya begitu, Ani hanya nurut saja saat Ferdi bangun dari duduknya diapun mengekor dari belakang, wajahnya masih tersenyum-senyum.
Diruang parkir sudah bergerombol orang-orang yang hendak mengambil kendaraan, Ferdi tidak mengikuti mereka, dirinya hanya asyik menikmati hisapan terakhirnya, lalu membuang dan menginjak puntung rokoknya hingga padam, setelah ruang parkir tidak terjejal orang, Ferdi melangkahkan kakinya santai hendak mengambil motornya yang terparkir disudut tempat parkir, terdengar langkah kaki mengikuti dari belakang, ternyata Ani belum pulang, akhirnya kini Ferdi berjalan bersamping-sampingan dengan Ani, “Jemputan telat datang ya Mbak?” Ferdi membuka pembicaraan, “engga Mas, eh iya, anu adik ada acara dikampusnya jadi tidak bisa jemput.” Ani bicara gugup, lalu tersenyum, Ferdi hanya tersenyum melihat tingkah Ani yang seperti itu, “emang pulang kemana?” tanya Ferdi lagi.
“tadinya, mau langsung kerumah, tapi sekarang mau ke karang setra dulu.” Jawab Ani, masih senyam senyum. “mbak Ani itu murah senyum ya, dari tadi senyum terus, pasta gigi mahal lhoo.” Melihat tingkah Ani yang begitu Ferdi menggoda, Ani hanya senyum lalu mencubit pinggang Ferdi, Ferdi hanya nyegir-nyengir kesakitan. “aduh, sakit tau.” Ferdi manyun-manyun, yang diajak dimarahin malah nyengir-nyengir, “kirain langsung kerumah, kalo langsung barengan gue aja, mumpung sejalur.” Lanjut Ferdi, “kapan-kapan aja Mas, makasih buat tawarannya, eh Mas mau pulang kapan, daritadi ngobrol aja, itu motor tinggal punya situ sendiri lho.” Ferdi seakan terjaga dari mimpinya, ternyata lama juga mereka mengobrol diruang parkir sehingga tanpa sadar tinggal mereka berdua dan seorang tukang sapu yang tersisa diruang parkir, Ferdi lalu berlari mendekati sepeda motornya, dimasukan kunci, tapi dia tidak menaikinya, dituntun motornya perlahan-lahan dan ternyata Ani masih berdiri ditempat mengobrol tadi, “kok, dituntun Mas, abis bensin ya?” Ani bertanya heran, ketika melihat Ferdi yang menuntun motornya, “hehe, engga, lha Mbak napa masih bediri disini, merangkap jadi satpam ya? Ferdi lalu tertawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar