Jika ada kemiripan atau kesamaan dalam cerita ini, itu tidak sengaja karena cerita ini hanyalah cerita fiktif belaka
1. GADIS - GADIS
Sudah dari tadi Ferdi laki-laki umuran 20 tahun, tersenyum-senyum sendiri sambil lincah jemarinya memainkan tuts keyboard di laptopnya, sampai-sampai suara ketukan pintu kamar kos nya tidak terdengar,
“Lay.. buka, aku mau masuk ini.”
“tok… tok…” pintu kamar terketuk, dan terdengar teriakan khas Batak dari luar kamar untuk yang kesekian kalinya, akhirnya Ferdi pun dengan setengah malas berdiri dari kursinya dan membukakan pintu kamarnya.
“Macam mana pula kau ini Lay, masak aku kau biarkan diluar terlalu lama.” Belum selesai temannya bicara Ferdi lebih dulu menyumpal mulutnya dengan roti, sehingga membuatnya terengah-engah.
“Udah sono, lo duduk yang manis, abisin tuh roti, ga usah banyak omong en ganggu gue dulu, gue lagi konsen nih.” Ferdi melempar senyum pada temannya.
Hendak menjawab tapi mulutnya masih tersumpal roti dan akhirnya dikunyahlah yang menyumpal dimulutnya itu, Ferdi hanya menggeleng-gelengkan kepala saja melihat tingkah temannya yang satu ini. dia bernama Ucok, perantau dari Medan yang sedang menempuh pendidikan di salah satu Universitas ternama dikota kembang ini, umurnya lebih tua setahun dari Ferdi, tapi tingkahnya yang kocak dan periang plus posturnya yang semampai semeter tak sampai, membuat orang-orang mengira dirinya seorang pelajar putih abu-abu.
Ferdi pun bukan seorang asli pribumi kota kembang Bandung, dirinya hanya mengadu nasib, Jakarta tempatnya asal yang menjadi kota impian bagi setiap orang ia tinggalkan karena satu alasan, Jakarta sudah terlalu padat dengan perantaunya, dan hanya saja nasibnya lebih baik ketimbang Ucok, perkenalan keduanya terjadi secara tak sengaja, saat itu Ferdi yang baru di kota Bandung dan hendak mencari kos-kos an, bertemulah dengan Ucok, dan Ucok yang periang itu memang baik, dirinya merasa ada orang senasib dengannya menjadi putra rantau, mengajak Ferdi untuk tinggal bersamaya, setelah beberapa lama nebeng di kos an Ucok dan ia pun sudah mendapat pekerjaan yang cukup lumayan, Ferdi pun akhirnya memutuskan untuk mengontrak sendiri, satu kamar kos + wc dan dapur didalam. Dan nasib buruk menimpa Ucok, dia tidak mampu membayar kos an selama 3 bulan berturut-turut karena uang nya dia bayarkan untuk mengulang mata kuliah yang kurang, akhirnya Ucok pun angkat kaki dari kos an nya dan sebagai tanda balas budi Ferdi mempersilahkan Ucok untuk tinggal bersamanya, pikirnya waktu itu, biar ada temen ngobrol.
Jarum jam sudah menunjuk angka sepuluh lewat lima belas menit, namun Ferdi masih saja asyik menatap layar dan tangannnya masih tetap lincaha dalam menekan keyboard, “ Lay, sapa itu, cantik kali, pantas saja dari tadi nyamuk hisap darah kau tak sadari, kau sudah terbius olehnya ternyata.” Tiba-tiba ucok mengintip dari belakang kursi yang Ferdi duduki.
“Gimana Sob, menurut lo, ni cewe bagus engga? Jujur gue naksir.” Ferdi lalu memutar kursinya menghadap pada Ucok,
“Aku, tak tau Lay, kalau soal begini, aku tak berpengalaman.” Ucok menjawab dengan muka polosnya sambil menggaruk-garuk kan tangan dikepala.
“Ah, lo ini sob, gue kan nanya, ini cewe bagus engga? Sapa juga yang pengen denger pengalaman lo, makanya buka mata ama buka telinga bae-bae biar omongan gue jelas, paham.” Ferdi pun menepuk bahu Ucok.
“Yalah, aku paham kalau yang satu ini, ehh cantik juga Lay, senyumnya bagaikan pinang dibelah lima, tapi..” Ucok menghentikan ucapannya.
“Tapi, apa?” Ferdi penasaran
“Tapi Lay, tak cocok kalau harus untuk kau ini, kalau orang Medan bilang, bagaikan Punguk merindukan bidadari.” Ucok meneruskan ucapannya dan hendak berlari, tapi tangannya segera ditarik oleh Ferdi, “Ahhh… sialan.”
Puas menggoda Ferdi, Ucok pun merebahkan tubuhnya dikasur lipat yang sejak tadi sudah tergelar, “Pantas saja Lay, tadi sms ku tidak kau balas, huu ternyata.” Masih saja Ucok menggoda walau matanya setengah terpejam, sementara Ferdi masih asyik dengan kesibukkannya tidak menghiraukan ucapan Ucok, dan selain asyik chatting didunia maya ternyata ada pekerjaan yang harus dia selesaikan, dua hari yang lalu redaktur tabloid remaja meminta bahan padanya untuk diterbitkan minggu depan, dan setelah semua diselesaikan Ferdi mengakhiri perselancarannya di dunia maya, laptop ia matikan, jam sudah menunjukkan pukul sebelas lebih empat puluh lima menit, Ferdi mengeliatkan badannya sebentar, lalu dirinya menyusul Ucok yang sudah lebih dulu terlelap.
Dan malam itu suara dengkuran dua makhluk tuhan dan suara jangkrik lah yang sedikit menghangatkan Bandung yang dingin.
“Siang Mas Ferdi, tadi Ibu Dian pesan, kalau Mas Ferdi sudah selesai pekerjaannya, harap menemui beliau diruangannya.” Suara perempuan muda, mengagetkan Ferdi yang sedang melihat-lihat file pekerjaanya. “oh.. i.. iya.. nanti saya kesana, terima kasih Mbak Ani, nasih tau gue.” Sedikit terkaget-kaget Ferdi menjawab, dirinya hanya tersenyum, dan perempuan yang tadi disapa Ani juga membalas senyumnya.
Setelah pekerjaannya selesai, Ferdi menghadap atasannya, dan ternyata akan ada proyek baru di perusahaan tempat nya bekerja, setelah berbincang-bincang cukup lama akhirnya Ferdi bergegas untuk pulang, Ferdi pun melangkahkan kakinya menuju parkiran sepeda motor, telepon genggamnya berbunyi, ‘ Lay, jemput aku dikampus, aku kehabisan ongkos, Tulang telat memberi kiriman.’ Ternyata sms dari Ucok, Ferdi pun menghela nafas panjang, tanpa pikir panjang ia langsung menancap gas segera menuju kampus.
Sore ini jalanan kota Bandung sedikit macet, ada genangan air yang membuat laju kendaraan sedikit terganggu, maklum bulan ini memang sedang musim penhujan, walau tadi siang hujan hnya sebentar, tapi sudah membuat Bandung tergenang, Ferdi pun merapat mencari celah, dan langsung menarik pedal gasnya kencang-kencang saat jalan sudah tidak begitu ramai, Ucok yang membonceng dibelakang, terkejut dan langsung memengangi pinggang Ferdi erat-erat, “Kau, bisa bunuh aku Lay.” Mengumpat-umpat si Ucok, namun yang mengendara acuh tak acuh saja.
Malam ini malam minggu, cukup cerah malam ini, waktu yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu diluar bersama pacar, atau teman. Dan Ferdi menikmati malam ini duduk-duduk didepan rumah sambil menikmati kopi dan sebatang rokok nya, terdengar dari dalam rumah siulan-siulan sumbang, dan ternyata Ucok berada diambang pintu, “Lay, ayo keluar, malam ini malamnya anak muda.” Ucok pun membuka pembicaraan, sambil jarinya merapihkan rambutnya yang sedikit kriwil. Ferdi hanya tersenyum dan menjawab, “Rapih bener lo, ngeceng kemana nih, busyet itu rambut mengkilat amat, abis berapa botol minyak kelapa.”
“Sembarangan kau ini, aku sudah rapih begini kau kata pake minyak kelapa, ayo gantilah baju kau, kita keluar, kawan-kawan aku banyak yang ingin tau tampang jelek kau ini.” Ucok menimpali jawaban Ferdi, lagi-lagi Ferdi hanya menjawab senyum.
“Udah pergi sana, keburu malem., gue pengen ngabisin ini kopi dulu.” Jawab Ferdi asal. Tapi Ucok hanya mondar-mandir seperti anak ayam yang kehilangan induknya, sesekali nyengir.
“Napa lo?” Ferdi bertanya heran.
Ucok tidak menjawab, dirinya hanya nyengir-nyengir saja, dan menggaruk-garuk kepalanya, “Napa, sih lo, jangan mendadak gila ya? Ferdi mulai risih melihat kelakuan temannya itu.
“E..e.” Ucok berkata ragu-ragu, “Napa, a .. e.. a …e, ayo ngomong, lo pengen pinjem motor, ya udah bawa sana ambil kuncinya di meja.” Tanya Ferdi, masih bingung, namun Ucok masih nyengir juga. Namun jarinya tiba-tiba diangkat dan mendekatkan antara ibu jari dan telunjuk lalu mengesek-gesekannya.
“Hmm.. payah lo, udah tau ga punya duit, masih nekat ngeceng-ngeceng an segala.” Ferdi pun merogoh dompet dan menyerahkan selembar uang seratus ribu, Ucok hanya tersenyum, “Lay, kau memang kawan ku yang paling bisa mengerti akan kesusahanku, Lay satu lagi, pinjam sepatu sama jaket ya, jaket sepatu kau lebih bagus Lay.” Tanpa menunggu jawab dari si empunya Ucok segera melangkah mengambil yang dia butuhkan, Ferdi hanya bisa berdecak melihat tingkah temannya ini, terdengar motor distater, “ Lay untuk kebaikanmu malam ini, aku do’akan semoga Tuhan segera menjauhkanmu dari status jomblo sejati.”
Breng…
Menghilanglah sudah kini sosok Ucok dari hadapan Ferdi, Ferdi pun lalu masuk kamarnya dan mulai menyalakan laptop dan memulai membuka akun Fb nya, ditulis lah status, ‘Malam Minggu ya sekarang? ahh Biasa aje tuh.’ Sekitar semenit kemudian pemberitahuan muncul, sebuah komentar dibawah statusnya berbunyi, ‘Masa sih :-)’ , Ferdi tersenyum ternyata yang berkomentar gadis kemarin yang ia ajak chatting cukup lama, Ferdi pun membuka obrolan chatnya, gadis maya itu bernama Vita, ‘Vita, masih kul atau udah kerja?’ tulis Ferdi dalam obrolannya, tak selang berapa lama terdengar bunyi tung’ lalu muncullah dibawah nya sebuah tulisan ‘Saya masih sklh, Mas sendiri?’ ‘Aku kerja, kelas berapa?’ tulis Ferdi, ‘Kelas 1 SMA’,. Ferdi terdiam sejenak berkata dalam hati, “Masih SMA kelas satu, tapi ko gue ngerasa nyambung ya tiap kali chat sama dia.” Tersenyum-senyum sendiri akhirnya.
Lama juga Ferdi memainkan laptopnya, diluar suara motornya sudah terdengar berdesing, Ferdi pun segera membuka kunci pintu, supaya si Ucok dapat langsung masuk tanpa harus bernanyi-nyanyi dahulu.
Ucok perlahan membuka pakaiannya, dan mengunci kembali pintu, “Rugi, kau tak ikut aku tadi, banyak cewek disana, oh iya ada yang titip salam buat kau Lay.” Ucok berkata sambil menuangkan soft drink kedalam gelas, “Oh.. ya.” Ferdi menjawab tanpa menolehkan badannya.
“Iyalah dan tadi, aku dapat kenalan cewek, cantik Lay orangnya, putih lagi.” Timpal ucok semringah.
“Baguslah, berarti bakal ada satu pengurangan jumlah jomblowan didunia ini.” Lagi-lagi Ferdi masih asyik menatap layar dan menjawab tanpa menoleh lagi, Ucok lalu mendekat dan membaca perbincangan maya Ferdi, “Waw, jauh kali kali Lay, namanya Vita, kau naksir yah, dari kemarin-kemarin tak pernah aku melihat kau sampai berjam-jam didepan laptop sebelum berkenal dia.” Ucok menggoda Ferdi.
“Kaya nya sih iye, gue mulai suka ma nih cewe.” Jawab Ferdi singkat.
“Lay, kau masih dalam keadaan sadar kan? Mana mungkin kau bisa suka, dia itu cuma maya Lay, alamak kacau ini masalah.” Ucok menimpali jawaban Ferdi.
“Nothing is impossible bukan? Gue nyata dan dia juga nyata, dunia maya ini cuma sebagai penghubung aja, gue udah dapet nomer teleponnya, kalau ada waktu gue punya niat jabanin tuh rumahnya.” Menatap Ucok, menjawab yakin.
“Lay, bicara kau ini tinggi sekali pakek bahasa bule, ya sudahlah yang penting kau senang aku pun ikut senang, oh iya besok Mona dan kawan-kawan mau berkunjung kemari, Lay aku punya felling kayaknya si Mona itu naksir kau, soalnya dari tadi aku bertemu, yang dia tanyakan hanya kau.” Ucok berkata sambil melepas celananya, dan yang tersisa hanya tubuh terbalut kaos oblong dan celana kolor bermotif bunga ala Hawai, lama juga berdua mengobrol, sampai akhirnya Ferdi tersadar akan obrolan di laptopnya, dan dia melihat banyak tulisan ‘Mas..’ , ‘Mas..’, ‘Kuditinggal :-(‘.
Ferdi memasang muka masam pada Ucok, “Huuu… mati dah chatting gue.” Lalu mengambil Hp dari saku celananya, dan perlahan menekan-nekan tombolnya dan terbacalah sebuah kalimat, ‘Maaf tadi ga sempet kubalas obrolannya, ada pengganggu datang :-), met bobo Vita.’ Send Ok dan meluncurlah sebuah pesan singkat darinya.
“Sob, tadi lo bilang Mona mau kemari.. yah udah tepar, dasar kebluk.” Belum sempat selesai dirinya bertanya ternyata yang ditanya sudah mendengkur, Ferdi lalu merebahkan tubuhnya disamping Ucok, dia membayangkan sesosok wajah, ‘Mona’, gadis itu memang kerapkali mengirimi pesan singkat di HP nya, tapi dirinya hanya menganggap Mona teman saja, ya teman yang sangat nyaman untuk saling bertukar pikiran, ucapan ucok tadi sedikit geli baginya, Mona yang putri orang kaya tidak mungkin naksir pada anak rantau sepertinya, dirinya pun belum mengenal betul pribadi Mona seperti apa, tapi Mona itu gadis yang baik, tidak terlalu banyak tingkah, tidak seperti gadis yang lainnya, tanpa sadar kini Ferdi pun terlelap juga, dengan posisi saling berpunggung dengan Ucok.
Hari sudah siang, hari minggu adalah hari bagi Ferdi mengerjakan pekerjaan selingan, sebagai penulis lepas sebuah tabloid, baginya menulis bukanlah sebuah pekerjaan melainkan penyaluran hasrat yang tidak sempat diungkapkan melalui kata-kata.
“Lay, sibuk benar kau, santai lah sebentar, ini aku buatkan kau kopi, juga tadi aku beli gorengan, lumayan buat pengganjal perut.” Ternyata Ucok datang dengan membawa secangkir kopi dan sebungkus makanan.
“Thanks, Sob. Lo emang ngerti kalo gue lagi laper.. hehe.” Ferdi mengacungkan dua jempolnya dihidung kawannya itu.
“Ya lah, kita kan senasib Lay, susah senang ya jalani sama-sama, Lay kau pandai buat kata-kata, buatkan aku lah, satu puisi yang romantis.” Ucok kini memandangi tulisan didalam layar, sementara Ferdi asyik memakan gorengan yang Ucok bawakan. “siap, tuan, jika tuan berkehendak hamba bersedia melaksanakan.” Ferdi menjawab sambil menggoda Ucok.
“Ahh kau, ini. Aku serius.” Muka Ucok yang penyok semakin penyok saja ia tekuk.
“Iya-iya, tapi nanti kalo yang ini udah kelar, kalo mau, silahkan tuan buka sendiri di file yang sudah ada.” Sambil belepotan kopi ia sempatkan menjawab, muka Ucok yang tadi kusut pun sedikit rapih setelah mendengar jawaban itu.
Ferdi tidak bisa menahan senyumnya yang sedari tadi ditahan, Ucok hanya memandang heran, dari luar rumah terdengar suara kendaraan berhenti, Ucok pun segera mengintip dari balik kaca jendela kamar. “Lay, mereka datang.” Ujar Ucok.
“Siapa?” Ferdi masih belum mengerti.
“Kawan-kawan kita Anton, Rizki, Wawang, Sita, sikembar Ika dan Iki, Mona juga ada, cantik nya dia, beruntung sekali kau ini lay ditaksir putri juragan dodol.” Ucok menepuk bahu Ferdi, sedangkan pandangannya masih tertuju pada orang yang diluar.
“Siang.” Terdengar suara dari luar pintu kos an.
Didalam Ferdi dan Ucok saling berpandang, bola mata Ferdi bergerak-gerak dihadapan Ucok seakan pertanda menyuruh Ucok membukakan pintu, Ucok pun tak banyak bicara ia melangkahkan kakinya membuka pintu.
“Hai, selamat datang digubuk kami yang tidak reot.” Ucok menyambut kawan-kawannya dengan bahasa pujangga, “Mari silahkan masuk.” Kembali Ucok berkata.
“Makasih, Mas Ferdi mana Bang Ucok.” Suara Perempuan yang menimpali, ternyata Mona yang menimpali Ucok, yang lain hanya senyum-senyum saja saling melirik satu sama lain, akhirnya ada yang nyeletuk, “Ehem.. ehem… dari tadi perasaan itu terus yang ditanyain Mona.” Wawang berkata sedikit menyindir.
“Ada didalam, mungkin dia sedang menyelesaikan dulu kerjaannya, kau taulah itu orang emang aneh sedikit, kalau sudah bekerja tak mau ditunda dulu, pengennya langsung selesai.” Jawab Ucok.
“Yah, Bang Ucok, Payah ahh.. itu tandanya dia tanggung jawab akan pekerjaan, nah yang kaya Bang Ucok ini pemalas, kerjaan suka ditunda-tunda.” Sita menimpali ucapan Ucok, Ucok hanya nyengir malu-malu, akhirnya mereka semua larut dalam tawa.
“Ehem.. ada apa nih ribut-ribut?” Ferdi datang dan langsung memberi senyum pada kawan-kawannya dan tos tangan mengepal, “Maaf, tadi lagi nanggung, ayok didalam aje, tapi maaf disini kaga ada snack.” Ferdi meneruskan kata-katanya.
“Tidak apa-apa, soal sanck Jeng Mona ini sudah siapkan dodol yang paling enak buat Mas Ferdi.” Anton nyeletuk.
Yang disebut cuma tertunduk, sambil tersenyum, Ferdi pun hanya tersenyum, dan kamar kos an yang biasanya terasa luas sekarang penuh sesak, lagu Ebiet G. Ade mengalun menemani obrolan kumpulan anak muda ini, “ Di, ko lagunya mellow banget yang agak nge-ngrunge ada enggak?” Anton membuka suara.
“Mana ada penulis yang suka lagu gitu, yang ada tulisannya, acak-acakan.” Ika kini yang membuka suara, Ferdi cuma nyengir dan mengangkat jempolnya, Hp Ferdi berbunyi satu pesan masuk ‘Vita’, Ferdi pun membuka dan membaca pesan masuknya ‘Siang Mas Ferdi, lagi apa?’, jari lincah pun mulai mengetik balasan ‘Siang juga manis, lagi kumpul bareng temen, disitu lagi apa :-)?’ pesan dikirim tak lupa senyuman turut serta.
Anton melirik pada Wawang dan Wawang mencubit tangan Rizki, Anton pun berdiri “Duh Gerah Banget disini, Di, gue diluar yah cari angin” Anton melangkahkan kaki, berturut-turut Wawang dan Rizki pun mengikuti,
“Eh.. eh lo pade mau kemana?” Ferdi bertanya saat melihat teman-temannya memperlihatkan gelagat aneh, “Pengen kencing.” Jawab Wawang kabur meninggalkan kamar,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar