Perempuan berkerudung hitam itu, tak pernah aku melihat sehelai rambut nampak darinya, tak pernah sekalipun aku melihat kerah bajunya terbuka, celana panjang nya yang selalu menghindarkannya dari tampak indah lekuk tubuhnya, lesung pipit diantara kedua pipinya, indah bola matanya dan senyum yang ramah selalu nampak padanya.
Setiap sore hari nampak ia pergi ke surau membawa kitab suci, membaca, mendalami dan menghayati setiap kata, setiap nada dan setiap makna yang terkandung didalamnya. Kerudung hitam itu tak pernah lepas dari dirinya.
Ia sudah tidak berbapak, hidup berdua dengan seorang ibu yang sudah renta, sungguh pilu melihat kehidupannya. Namun tak sekalipun ku dengar keluh kesahnya, tak sekalipun kulihat seraut kesusahan dalam hidupnya. Ia selalu tersenyum dan seakan hidup selalu bahagia.
Tak pernah kulihat ia bermain sebagaimana wanita-wanita sebayanya, tak pernah kulihat ia berbicara segenit dan semanja wanita seusianya, yang mana para sebayanya sedang terbuai dan terlena oleh kata cinta, yang sedang berbunga-bunga bila dipuji dan dimanja. Namun ia tidak, halus tuturnya, baik tingkahnya selalu senyum bila ada yang menyapa, dan selalu ringan tangan pada sesama.
Perempuan berkerudung hitam itu, harta yang sungguh sangat berharga dibanding dengan intan, berlian, emas dan permata. Dapat memilikinya adalah suatu anugerah dari yang maha kuasa yang tak ternilai harganya.
Satu minggu sudah ku tak melihatnya, ku tak mendengar lagi langkah kakinya setiap akan pergi ke surau, seminggu sudah ku tak melihat senyum dan indah bola matanya, kemana engkau pergi perempuan berkerudung hitam itu....
Rasa penasaran yang ada didada, mengetuk hatiku untuk menemuinya. Walau ku tak tahu dimana ia asalnya, tanya dan terus bertanya. Akhirnya aku dapat menemui rumahnya, subhanallah maha besar allah, sesampainya disana kukira aku salah tujuan. Karena yang ada dihadapanku bukanlah sebuah rumah. Namun lebih tepat sebuah gubuk bambu beratapkan tembikar dan berlantaikan tanah. Dalam hati yang galau ku ketuk daun pintu rumah itu. Ku ucap salam dan masih aku menunggu, akhirnya ku dengar ada yang menjawab salam ku, sungguh merdu sekali suaranya. Pintu pun terbuka...
Perempuan muda dengan rambut panjang sepinggang menyambut kedatanganku dengan senyum lesung nya. Subhanallah Maha Besar Allah di dalam rumah yang tak seberapa megah terdapat harta yang tak ternilai harganya. Aku takjub, mulut ini terasa terkunci badanpun bergetar maha dahsyat, terlihat dari dekat wajah nya bagaikan bercahaya yang dapat membuat ku hanya bisa terpaku.
”Bang... bang.... abang baik-baik saja...” terdengar suara halus menelusuk telinga, sampai satu tepukan menghantam bahuku. Astagfirullah.. ku ucap istigfar, ada apa ini. Setelah keadaan agak tenang akupun mulai dapat menguasai suasana, ia pun mempersilahkan ku masuk kedalam rumahnya.
Subhannallah.. hanya kebesaran Allah yang dapat membuatnya dapat bertahan di tempat yang menurutku sangat tidak layak untuk ditempati. Betapa gelap dan pengapnya ruangan ini, tak ku jumpai lampu didalam ruangan ini. Yang ada hanyalah cempor, yang membuat dinding dan atap menjadi hitam. Hanya cahaya matahari yang dapat menerangi rumah itu melalui celah-celah atap rumbia.
Disuguhinya aku segelas air putih lantas dirinya mengambil kursi dan duduk antara jarak dua meter dariku, tak lantas kuambil minuman itu. Aku hanya bisa memandangi keadaan ruangan rumah itu, ku mulai pembicaraan.
”Perkenalkan nama ku Imron, aku datang dari kampung sebelah.” ku berbicara pada perempuan itu. Sambil kepala tertunduk ia menjawab pertanyaanku. ”nama saya Aisyah”. Belum sempat aku menjawab ia sudah membuka kembali pembicaraan, ”sekiranya ada perlu apa abang sudi berkunjung ke gubuk Aisyah.” Kutarik napas dalam-dalam, ku tak ingin salah dalam menjawab ku tak ingin lidah ini tergelincir dan membuatnya tersinggung.
”Begini Aisyah, sebenarnya maksud kedatangan saya kemari hanya untuk mempererat tali silaturahmi serta menjalin ukhuwah islamiyah supaya tidak terputus, dan juga saya perhatikan sudah bebrapa hari ini Aisyah tak pernah lagi pergi ke surau ?” sengaja aku menjawab sedikit panjang agar aku bisa lebih lama melihat kecantikan sebuah nyawa.
Aisyah perempuan berkerudung hitam itu tak lantas menjawab pertanyaanku, ia hanya tersenyum. Senyumnya begitu hampa, ”Apa abang pun tahu aku mengaji di kampung sebelah?”
”ya, saya sering melihat mu membawa kitab suci pada sore hari” hanya itu jawabanku padanya. Aisyah lantas berdiri lalu hendak berlalu, aku bingung apakah aku salah menjawab pertanyaannya. Aisyah menuju sebuah kamar lantas membuka pintu kamar itu lebar-lebar, ”Inilah bang yang membuat saya selama ini tidak pergi ke surau, ibu sakit dan tak ada yang menemani.” aku pun beranjak dari tempat duduk ku dan mendekat ke pintu kamar. ”Aku turut berduka cita, atas apa yang telah menimpa ibumu Aisyah, tetaplah tabah. Apa ibumu sudah diobati ?”
”Terima kasih bang, ada atas perhatian yang abang berikan. Sampai saat ini ibu belum sekalipun diobati.
Bersambung......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar