.......
JAngan Pernah Melupakanku
~.~
My Blog
Ramalan Jodoh
http://akusajalah.wordpress.com
Minggu, 20 Maret 2011
Jumat, 18 Maret 2011

di Jatinangor Bareng kawan2 SMA doeloe...

Numpang Mejeng ni...

Photo Bareng KM, Ceu Ety Markety hhehehe...
Do'a Seorang Tukang Gorengan
Suatu hari dibumi allah , tuhan semesta alam ada seorang hamba Allah meninggal dunia.. berjalanlah iring – iringan penggotong jenazah sambil menyerukan lafal “Laillahaillah”, ditengah perjalanan para iringan penggotong jenazah berpapasan dengan seorang tukang gorengan, tukang gorengan itu berhenti sesaat dan menurunkan gorengannya. Iringan pengantar jenazah pun berlalu ..
Setelah selang beberapa hari setelah pemakaman tersebut, peristiwa aneh itu muncul, suatu malam ahli waris dari almarhum bermimpi bertemu dengan alharhum, terlihat oleh si ahli waris wajah almarhum begitu bersih, berseri-seri dan memancarkan sinar yang menyilaukan ..
Bertanyalah si ahli waris kepada almarhum, “Ayahku, sungguh kulihat engkau begitu berseri, apa yang membuat ayah sebahagia ini?” dalam mimpi itu almarhum tersenyum lalu berkata “Allah telah mengampuni semua dosaku dan aku ditempatkan ditempat yang sangat nyaman dan indah, semua ini berkat do’a yang ikhlas dari seorang tukang gorengan, sampaikan ucapan terima kasihku padanya.” Setelah berkata itu, terjagalah si ahli waris dari tidurnya ..
Keesokan harinya si ahli waris mencari-cari siapa tukang gorengan itu yang sampai-sampai do’anya bisa menghapus dosa seseorang, do’a seperti apa yang ia panjatkan kepada Allah pikir si ahli waris…
Akhirnya pada suatu kesempatan bertemulah si ahli waris dengan tukang gorengan tersebut, si ahli warispun langsung menceritakan semua kejadian yang dialami dalam mimpinya. Tukang gorengan itu hanya berkata, “ tidak ada yang beda do’a saya dengan do’a-do’a yang lain, apalagi saya bukan orang berilmu yang pandai dalam berdo’a, saya hanya memohon kepada Allah ketika saya berpapasan dengan jenazah itu.. ya Allah hari ini ia hambamu akan menjadi tamu dan akan datang memenuhi panggilanmu, ya Allah berikanlah kepadanya tempat yang terbaik, suguhilah ya allah dengan jamuan terbaikmu, ya Allah jika saja ia bertamu padaku maka akan kusuguhi semua gorengan ini sebagai jamuan agar senang, setelah melakukan perjalan yang panjang .”
Si ahli warispun pulang dengan haru, betapa Allah tidak pernah memandang jabatan, kekerabatan dan pangkat seseorang untuk ia kabulkan do’anya.
Setelah selang beberapa hari setelah pemakaman tersebut, peristiwa aneh itu muncul, suatu malam ahli waris dari almarhum bermimpi bertemu dengan alharhum, terlihat oleh si ahli waris wajah almarhum begitu bersih, berseri-seri dan memancarkan sinar yang menyilaukan ..
Bertanyalah si ahli waris kepada almarhum, “Ayahku, sungguh kulihat engkau begitu berseri, apa yang membuat ayah sebahagia ini?” dalam mimpi itu almarhum tersenyum lalu berkata “Allah telah mengampuni semua dosaku dan aku ditempatkan ditempat yang sangat nyaman dan indah, semua ini berkat do’a yang ikhlas dari seorang tukang gorengan, sampaikan ucapan terima kasihku padanya.” Setelah berkata itu, terjagalah si ahli waris dari tidurnya ..
Keesokan harinya si ahli waris mencari-cari siapa tukang gorengan itu yang sampai-sampai do’anya bisa menghapus dosa seseorang, do’a seperti apa yang ia panjatkan kepada Allah pikir si ahli waris…
Akhirnya pada suatu kesempatan bertemulah si ahli waris dengan tukang gorengan tersebut, si ahli warispun langsung menceritakan semua kejadian yang dialami dalam mimpinya. Tukang gorengan itu hanya berkata, “ tidak ada yang beda do’a saya dengan do’a-do’a yang lain, apalagi saya bukan orang berilmu yang pandai dalam berdo’a, saya hanya memohon kepada Allah ketika saya berpapasan dengan jenazah itu.. ya Allah hari ini ia hambamu akan menjadi tamu dan akan datang memenuhi panggilanmu, ya Allah berikanlah kepadanya tempat yang terbaik, suguhilah ya allah dengan jamuan terbaikmu, ya Allah jika saja ia bertamu padaku maka akan kusuguhi semua gorengan ini sebagai jamuan agar senang, setelah melakukan perjalan yang panjang .”
Si ahli warispun pulang dengan haru, betapa Allah tidak pernah memandang jabatan, kekerabatan dan pangkat seseorang untuk ia kabulkan do’anya.
My Love My Djoub Miss u Djoub.... :)
Rabu, 02 Maret 2011
NEGERI VAN ORANJE
Prolog
Di Rotterdam
“TITUIT!” bunyi SMS masuk. Banjar meliriknya. Duh, kenapa SMS ini mesti lo kirim sekarang, siiiiiih ? tanpa pikir panjang, Banjar langsung mematikan rokok kretek yang baru dihisapnya empat kali, perbuatan yang biasanya diharamkan ditengah kelangkaan stok kretek. Iapun loncat meninggalkan meja kafe yang di atasnya masih terdapat secangkir koffe verkeerd yang mengepul, menggoda, memikat, minta diseruput! Digamitnya lengan pelayan terdekat, sambil mengeluarkan selembar uang berhiaskan angka lima dari dompet.
“Mijn, excuse, dame! This is for table three. Keep the change!”
Banjar menyodorkan lembaran itu dengan terburu-buru sambil berjalan cepat menuju pintu.
“Maar, Meneer!Sir! Come back! What is this??”
Tapi BAnjar sudah tak lagi dapat mendengar. Pelayan itu memandang dengan bingung pemuda yang berlari tunggang langgang meninggalkan kafe. Dengan umpatan halus, sang waiter mengantongi selembar lima puluh ribu rupiah dalam genggamannya.
Di Utrecht
Minuman keras, MIRAS! Apa pun namam….uuuu… tak akan kusentuh lagi dan tak akan …
“Oops, sorry!” bergegas Daus mengangkat Hp polifonik sumbang miliknya berusaha menghentikan lolongan keras Rhoma Irama yang memecah keheningan romantis dalam kafe.
Saking terburu-burunya, Daus sampai menumpahkan segelas chardonnay ke atas meja. Note to self : cepat ganti nada dering dangdut ini !
“Halo?” Daus menerima telepon sembari terheran-heran.
“Gue udah o-te-we! Lo dah sampe mana?” terdengar suara Banjar terengah-engah, bersaing keras dengan backing vocal lolongan angin yang menderu. Pasti sambil naik sepesa.
“Dijalan mau kemana ?”
“Oncol-oncol bego! Udah baca SMS belum, lo?”
“SMS apaan? Buru-buru mau ke mana, sih ?”
“Cek hape lo, Col! Kita nunggu disana. Buruan!”
Dan sambungan itu terputus.
Daus mengumpat pelan. Sudah telepon merusak kencan, pakai acara marah-marah pula!
“What’s that all about, Daus ? Something wrong?” Tanya Selisha, gadis manis asal Amerika sambil me-reffil kembali gelas anggur yang td tumpah.
“No, nothing’s wrong,” balas Daus sambil membuka inbox SMS. “Everything fi-…”
“…”
Masya Allaaah! Pigimane, nih?
Daus berdiri tergesa.
Damn. Wine tumpah kembali.
Emang nasib gue ga boleh minum alkohooooool!
“Selisha, I have to go.”
“What? What’s wrong?’
“I can’t explain it now. I’m really sorry, I gotta run!”
Daus cepat-cepat berlari menuju parkiran sepeda. Bahkan sampai lupa cupika-cupiki tiga kali seperti yang biasa ia lakukan dengan teman-teman wanitanya di Belanda.
Di Wageningen
Wicak tersentak. Agak bingung kalau menerima SMS dalam situasi ini.
Saat itu nia berada diperpustakaan. Sedang beramah-tamah dengan seorang professor yang berpapasan dengannya saat ia mengurus administrasi pengembalian buku. Mau dibaca ribet, bisa dianggap tidak sopan; engga dibaca, penasaran!
Akhirnya curiosity killed the cat, meski membunuh kucing diharamkan oleh agama. Wicak membuka inbox, saat sang professor menoleh menyapa rekannya yang lewat dan…
“KUNYIT!! Kunaon si eneng the?”
“Wat zeg je, Wicak? Koo nyee?” sahut sang professor.
“Er, ehm… kunyit is errr… turmeric sir. Ehmm … a rare specimen from Indonesia! You know, for biodiversity research. I …uh … received a package of ehm … kunyit. I have to pick it up now at the … uh …. Post office.”professor berambut gondrong sebahu itu mengangguk dengan penuh empati.
“Oh yes, yes, anything for science! Go ahead!”
Tanpa basa-basi lagi, Wicak langsung balik kanan ngeloyor keluar gedung. Anything for science and si Eneng! Pikir Wicak seraya bergegas membuka gembok sepeda.
Perjalanan masih panjang ke stasiun kereta. Untungnya dimusim panas seperti ini, angina sudah tak lagi bertiup kencang menghambat perjalanan. Dimusim gugur, seringkali sepeda fongers ten speed super-ringan milik Wicak berubah jadi seberat becak berpenumpangn beruang kutub.
Namun hari ini, ditengah siang bolong hari yang cerah di Wageningen, Wicak menggenjot sepedanya sekuat tenaga, berburu dengan waktu.
Di Den Haag.
Delivered. Delivered. Delivered.
SMS S.O.S telah dilayangkan kepada tiga orang yang paling ia percaya ditanah kompeni ini. Ia tak berani menelepon, takut membuang pulsa sia-sia, sementara yang terdengar di seberang sana hanyalah sesenggukan incoherent seorang perempuan patah hati.
Lintang menatap langit di atas garis Pantai Scheveningen yang bersemu merah, jingga, ungu. Sunset sempurna dengan suasana hati yang sangat tidak sempurna. Seumur hidupnya, Lintang bukan termasuk golongan yang religius. Tetapi dalam gundah, kali ini Lintang mengiba dengan tulus”Ya Tuhan,” Bisiknya pada langit.
“Tuhan Yang Maha Pedmurah, Tuhan Yang Maha Mengerti.”
“Lintang tah, akhir-akhir ini Lintang masih nakal. Shalat bolong-bolong. Jarang berbagi rejeki. Cuma traktir teman-teman sekali waktu dapat gaji pertama, itu juga habisnya buat beli Witte Wickse. ( Oh ya, dan masih bandel coba-coba minum! Catat Lintang dalam hati ). Lintang juga anak durhaka, udah beli pulsa telepon pake VOIP, NELEPON Mama-Papa di Indonesia Cuma kalo ada perlunya.”
“Tapi Tuhan, kalau Engkau memang Maha Pemaaf dan Maha Penyayang, tolong percepat langkah ketiga sahabat Lintang ke sini. I’ve never needed them more than I do now …
Lintang kembali tertunduk, dan pasrah membiarkan hujan air matanya mengalir.
Amersfort
“Dames en heren.” Sebuah pengumuman berbahasa Belanda membahana mengisi stasiun kereta.
“Akibat cuaca buruk, semua kereta ditunda keberangkatannya sampai pemberitahuan lebih lanjut. Harap menghubungi meja informasi untuk keterangan lebih lanjut. Onze excuse voor uw ongemak.”
Monyet, bekantan, orang utan, beruk! Gagal deh gue dapet kerjaan di Utrecht!
Ditengah badai seperti ini, Banjar kerap jadi melankolis dan nama kawan-kawannya tanpa sadar bermunculan.
Banjar menekuk mukanya dengan kesal. Baginya, falsafah “time is money” sudah mendarah daging. Jadi kehilangan kesempatan wawancara kerja hanya karena sebuah badai angina topan yang membuat badai Katrina setenang hembusan AC memang menyebalkan. Namun, yang membuat muka berteukuk lebih ruwet dari origami bukan karena hilang waktu. Tapi karena…
“Huaaaaah … kretek gue abiiiiiiiiiiis!”
Ia menatap kotak kretek itu penuh harap, seolah sinar mata dan tetesan air liur bisa memunculkan kembali sebatang rokok dengan ajaib bagaikan jin dalam botol. Banjar kembali mengutuk keputusannya telah mengambil rute Amersfort.
Coba tadi gue ganti kereta di Bandara Schiphol aaja, kan nggak bakal begini jadinya! Paling sial gue kejebak di Schiphol atau Amsterdam Centraal yang besar, nyaman, dan banyak tokonya! Gerutu Banjar dalam hati.
Laah di Amersfort Cuma ada satu stan penjual kopi yang antreannya mirip pembagian jatah qurban di Istiqlal. Mana gue curiga si penjaga stan itu pake kumis tempelan!
Hmm. Oke, mungkin itu sedikit hiperbol.
Kumisnya boleh jadi asli, tapi gue yakin belahan rambut itu gak wajar. Jangan-jangan dia pakai wig! Wig-nya pasti buatan Purbalingga!
“Gue butuh kretek nih, kalo nggak bisa gilaaaa! Teriak alam bawah sadar Banjar yang , kok ya, kompak dengan mulutnya.
Dari kerumunan orang yang berambut blonde, brunette, dan redhead, tiba-tiba muncul seorang pemuda berkulit gelap, berambut hitam kriwil, berperawakan tinggi cungkring, dan berwajah melayu.
“Teriak-teriak malu-maluin bangsa, Kang. Abdi aya tingwe kalo mau,” seru pemuda yang tiba-tiba muncul bagai malaikat, sembari menyodorkan bungkusan kecil berwarna biru berisi tembakau dan kertas lintingan.
“Wah, makasih! Dari Indonesia juga?” Tanya Banjar sambil memungut segepok besar tembakau, lalu mulai melinting seukuran cerutu.
“Enggak, gue mah orang Islandia yang kebetulan tinggal lama di Bogor.”
“???”
“Ya, iyalah orang Indonesia! Emangnya tampang gue kurang Indonesia, apah? Eh, jangan-jangan gue punya tampang kayak orang Viking, yah? Emnag sih, dari dulu udah ngerasa kalo hidung ini mancungnya emang beda. Kayak bule, gitu.”
“ …..”
“Oh ya, belum kenalan. Wicak. Ngomong-ngomong, enggak salah tuh, Kang? bikin lintingan gede pisan?” sembari mengulurkan tangannya dengan ramah.
“Banjar,” sambil menarik jari keluar dari hidung, tak kalah ramah.
Kedua insan itu bersiap menikmati rokok linting mereka, hingga tersadarkan akan sebuah detail esensial.
“Pinjam lighter, dong.”
“ …..”
“ … .”
“Waduh, map … nggak punya, euy!”
“Yah, sama, dong …”
Kedua mulai clingak-clinguk mencari cewek pemilik lighter yang kira-kira nggak rugi buat sekalian diajak kenalan. Bagi mereka, nggak punya korek justru handicap positif untuk berkenalan dengan perempuan!
Out of the blue, muncul sebuah tenor.atu mungkin Alto. Yang jelas, cempreng.
“Alhamdulillaaaaaaah … ada juga orang Indonesia yang pas lagi blangsak begini! Lidah gue dah pegel linu ngoceh bahasa Enggris sedari tadi!”
Kedua pemuda itu saling berpandangan dan nyengir bareng. Setelah berbasa – basi sebentar, serentak keduanya menerima lebar ucapan perkenalan dari si pemilik suara, yang dengan hebatnya memiliki dua korek api gas dalam tasnya, tanpa sedikitpun tembakau di situ. Tak lama ketiganya pun bersam-sama menyalakan rokok linting hasil gibah dari Wicak.
“Makasih ya, Mas…”
“Daus, kagak usah pake mas-masan segala. Kagak pantes.”
“Oke. Thanks, Daus.”
Mereka menikmati rokok dalam diam.
Ditengah kekhusyukan merokok, terdengar sebuah suara bas. Dari nadanya seperti orang bertengkar. Suaranya terdengar memohon dan sedikit tegang. At least, kedengarannya begitu, karena mereka bertiga belum mampu memahami Nederlands yang fasih meluncur dari mulutnya. Mereka mencuri pandang kea rah si cowok misterius, terpancing rasa penasaran.
Sambil mengamati, ketiganya kegantengan si cowok misterius. Nurunin pasaran cowok-cowok disini aja, pikir mereka dalam hati. Seolah setiap perempuan single yang terjebak di tengah badai di stasiun kereta secara otomatis akan mencari cowok p-aling ganteng untuk menyegarkan pemandangan (padahal emang). Kayaknya orang Belanda blasteran ya ? dari warna rambut dan matanya yang gelap tersirat imbas gen Asia. Terdengar cowok itu sedang memohon melalui telepon selulernya.
“schaatje, alsjeblief!... Wat zeg je? Nee, lie verd. Ik kan niet … Halo? Halo?”
Pembicaraan itu terputus, dan cowok itupun mengumpat. “Verdomme!”
Ia menutup HP, kemudian terlihat sibuk merogoh tas ransel miliknya. Tampaknya ia sedamng mencari sesuatu.
Cres.
Terdengar suara gemeretak diikuti aroma yang khas yang baunya acap dibenci mayoritas kaum bule. Bau yang berasal dari rempah harum bernama kruidnagel. Rempah yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi clove, dan dalam bahasa pergaulan sehari-harian taipan Putera Sampoerna menjdai cengkih.
“Hmmmmm ….”
“Waaah itu kan bau …”
“KRETEK!!”
Tanpa disangka, si cowok misterius menoleh kea rah sumber suara-suara mupeng, alias muka pengamat.
“Kretek, Mas? Sebenarnya saja nggak ngerokok, tapi berhubung badai begini … lumayanlah buat bikin badan anget.”
Cowok itu dengan ramah menyodorkan sekotak rokok kretek yang masih penuh.
“Silakan, lho.”
Banjar, Wicak dan Daus hamper berlutut bahagia, tapi dalam hati mereka mengutuki nasib.
Yah, orang Indonesia juga.
Sialan, ganteng amat, sih jadi orang Indonesia. Makin turun deh pasaran gue.
Tapi, kalau cowok perokok kretek diberi pilihan antara gengsi dan menelan gengsi demi kesempatan mendapat rokok kretek ditengah hujan badai, tentunya itu bukan pilihan sulit.
“Makasih yah … sorry.. siapa tadi namanya?”
“Geri. Ambil lagi aja juga gak papa. Ini baru aja dibawain teman dari Indonesia.
“Wah, Ger. Thanks banget!” seru Banjar sumri8ngah.
Rokok linting segera pension diganti dengan rokok kretek pemberian Geri.
“Sialan…”
“Sedep euy…”
“Subhanallah…”
Keempatnya pun tenggelam dalam kenikamtan duniawai tiba-tiba..
“Waaaaaaaaaaaaaaaa dari Indonesia yaaa?”
Keempat cowok itu terkejut dan menoleh mencari sumber suara feminin nan ceria yang tiba-tiba muncul.
Seorang perempuan tinggi semampai, wajah cantik, rambut dikuncir dan suara ceria tanpa tedeng aling-aling langsung datang menghampiri sambil menyodorkan tangannya.
”Halo! Aku Lintang, tinggal di Leiden. Seneng banget bisa ketemu orang Indonesia di tengah badai kayak begini! Mas semua dari mana?”
Banjar yang paling cepat tanggap kalau ada “Barang bagus’ jadi orang pertama yang menyambut tangan Lintang.
“Iskandar. Gue di Rotterdam.”
“….”
“Lah, katanya nama ente banjar?” celetuk Daus.
“Oh, hehe …iya. Panggilan sih banjar. Tapi nama asli gue Iskandar.”
Yee giliran kenalan sama cewek cakep aja namanya jadi bagus, pikir Daus dalam hati.
Lintang hanya mengulum senyum.
“Daus, dari Utrecht.” Daus gentian mengulurkan tangan.
“Geri. Den Haag.”
“Wicak. Wagengingen.”
“Abis pada jalan dari mana kok bisa terdampar di Amersfort?” Tanya Lintang sambil mematikan iPod-nya. Dalam situasi gawat darurat lagi pula garing seperti ini, seasyik-asyiknya mendengar musik, jauh lebih menyenangkan punya temen ngobrol.
“Hmm. Jangankan tahu kenapa ada disni, Gue aja masih heran kenapa gue bisa terdampar di Belanda,” sahut BAnjar kalem sambil terbatuk-batuk tersedak asap.
Lintang menyengir kuda.
“Looks like we’ge got time to kill.”
Dan terjadilah sudah. Sebuah pertemuan tak disengaja yang tanpa disadari akan membelokkan jalan hidup mereka. Berkat badai, kretek dan takdir.
next : Bagian 2 ( Sabar ya )
Di Rotterdam
“TITUIT!” bunyi SMS masuk. Banjar meliriknya. Duh, kenapa SMS ini mesti lo kirim sekarang, siiiiiih ? tanpa pikir panjang, Banjar langsung mematikan rokok kretek yang baru dihisapnya empat kali, perbuatan yang biasanya diharamkan ditengah kelangkaan stok kretek. Iapun loncat meninggalkan meja kafe yang di atasnya masih terdapat secangkir koffe verkeerd yang mengepul, menggoda, memikat, minta diseruput! Digamitnya lengan pelayan terdekat, sambil mengeluarkan selembar uang berhiaskan angka lima dari dompet.
“Mijn, excuse, dame! This is for table three. Keep the change!”
Banjar menyodorkan lembaran itu dengan terburu-buru sambil berjalan cepat menuju pintu.
“Maar, Meneer!Sir! Come back! What is this??”
Tapi BAnjar sudah tak lagi dapat mendengar. Pelayan itu memandang dengan bingung pemuda yang berlari tunggang langgang meninggalkan kafe. Dengan umpatan halus, sang waiter mengantongi selembar lima puluh ribu rupiah dalam genggamannya.
Di Utrecht
Minuman keras, MIRAS! Apa pun namam….uuuu… tak akan kusentuh lagi dan tak akan …
“Oops, sorry!” bergegas Daus mengangkat Hp polifonik sumbang miliknya berusaha menghentikan lolongan keras Rhoma Irama yang memecah keheningan romantis dalam kafe.
Saking terburu-burunya, Daus sampai menumpahkan segelas chardonnay ke atas meja. Note to self : cepat ganti nada dering dangdut ini !
“Halo?” Daus menerima telepon sembari terheran-heran.
“Gue udah o-te-we! Lo dah sampe mana?” terdengar suara Banjar terengah-engah, bersaing keras dengan backing vocal lolongan angin yang menderu. Pasti sambil naik sepesa.
“Dijalan mau kemana ?”
“Oncol-oncol bego! Udah baca SMS belum, lo?”
“SMS apaan? Buru-buru mau ke mana, sih ?”
“Cek hape lo, Col! Kita nunggu disana. Buruan!”
Dan sambungan itu terputus.
Daus mengumpat pelan. Sudah telepon merusak kencan, pakai acara marah-marah pula!
“What’s that all about, Daus ? Something wrong?” Tanya Selisha, gadis manis asal Amerika sambil me-reffil kembali gelas anggur yang td tumpah.
“No, nothing’s wrong,” balas Daus sambil membuka inbox SMS. “Everything fi-…”
“…”
Masya Allaaah! Pigimane, nih?
Daus berdiri tergesa.
Damn. Wine tumpah kembali.
Emang nasib gue ga boleh minum alkohooooool!
“Selisha, I have to go.”
“What? What’s wrong?’
“I can’t explain it now. I’m really sorry, I gotta run!”
Daus cepat-cepat berlari menuju parkiran sepeda. Bahkan sampai lupa cupika-cupiki tiga kali seperti yang biasa ia lakukan dengan teman-teman wanitanya di Belanda.
Di Wageningen
Wicak tersentak. Agak bingung kalau menerima SMS dalam situasi ini.
Saat itu nia berada diperpustakaan. Sedang beramah-tamah dengan seorang professor yang berpapasan dengannya saat ia mengurus administrasi pengembalian buku. Mau dibaca ribet, bisa dianggap tidak sopan; engga dibaca, penasaran!
Akhirnya curiosity killed the cat, meski membunuh kucing diharamkan oleh agama. Wicak membuka inbox, saat sang professor menoleh menyapa rekannya yang lewat dan…
“KUNYIT!! Kunaon si eneng the?”
“Wat zeg je, Wicak? Koo nyee?” sahut sang professor.
“Er, ehm… kunyit is errr… turmeric sir. Ehmm … a rare specimen from Indonesia! You know, for biodiversity research. I …uh … received a package of ehm … kunyit. I have to pick it up now at the … uh …. Post office.”professor berambut gondrong sebahu itu mengangguk dengan penuh empati.
“Oh yes, yes, anything for science! Go ahead!”
Tanpa basa-basi lagi, Wicak langsung balik kanan ngeloyor keluar gedung. Anything for science and si Eneng! Pikir Wicak seraya bergegas membuka gembok sepeda.
Perjalanan masih panjang ke stasiun kereta. Untungnya dimusim panas seperti ini, angina sudah tak lagi bertiup kencang menghambat perjalanan. Dimusim gugur, seringkali sepeda fongers ten speed super-ringan milik Wicak berubah jadi seberat becak berpenumpangn beruang kutub.
Namun hari ini, ditengah siang bolong hari yang cerah di Wageningen, Wicak menggenjot sepedanya sekuat tenaga, berburu dengan waktu.
Di Den Haag.
Delivered. Delivered. Delivered.
SMS S.O.S telah dilayangkan kepada tiga orang yang paling ia percaya ditanah kompeni ini. Ia tak berani menelepon, takut membuang pulsa sia-sia, sementara yang terdengar di seberang sana hanyalah sesenggukan incoherent seorang perempuan patah hati.
Lintang menatap langit di atas garis Pantai Scheveningen yang bersemu merah, jingga, ungu. Sunset sempurna dengan suasana hati yang sangat tidak sempurna. Seumur hidupnya, Lintang bukan termasuk golongan yang religius. Tetapi dalam gundah, kali ini Lintang mengiba dengan tulus”Ya Tuhan,” Bisiknya pada langit.
“Tuhan Yang Maha Pedmurah, Tuhan Yang Maha Mengerti.”
“Lintang tah, akhir-akhir ini Lintang masih nakal. Shalat bolong-bolong. Jarang berbagi rejeki. Cuma traktir teman-teman sekali waktu dapat gaji pertama, itu juga habisnya buat beli Witte Wickse. ( Oh ya, dan masih bandel coba-coba minum! Catat Lintang dalam hati ). Lintang juga anak durhaka, udah beli pulsa telepon pake VOIP, NELEPON Mama-Papa di Indonesia Cuma kalo ada perlunya.”
“Tapi Tuhan, kalau Engkau memang Maha Pemaaf dan Maha Penyayang, tolong percepat langkah ketiga sahabat Lintang ke sini. I’ve never needed them more than I do now …
Lintang kembali tertunduk, dan pasrah membiarkan hujan air matanya mengalir.
Amersfort
“Dames en heren.” Sebuah pengumuman berbahasa Belanda membahana mengisi stasiun kereta.
“Akibat cuaca buruk, semua kereta ditunda keberangkatannya sampai pemberitahuan lebih lanjut. Harap menghubungi meja informasi untuk keterangan lebih lanjut. Onze excuse voor uw ongemak.”
Monyet, bekantan, orang utan, beruk! Gagal deh gue dapet kerjaan di Utrecht!
Ditengah badai seperti ini, Banjar kerap jadi melankolis dan nama kawan-kawannya tanpa sadar bermunculan.
Banjar menekuk mukanya dengan kesal. Baginya, falsafah “time is money” sudah mendarah daging. Jadi kehilangan kesempatan wawancara kerja hanya karena sebuah badai angina topan yang membuat badai Katrina setenang hembusan AC memang menyebalkan. Namun, yang membuat muka berteukuk lebih ruwet dari origami bukan karena hilang waktu. Tapi karena…
“Huaaaaah … kretek gue abiiiiiiiiiiis!”
Ia menatap kotak kretek itu penuh harap, seolah sinar mata dan tetesan air liur bisa memunculkan kembali sebatang rokok dengan ajaib bagaikan jin dalam botol. Banjar kembali mengutuk keputusannya telah mengambil rute Amersfort.
Coba tadi gue ganti kereta di Bandara Schiphol aaja, kan nggak bakal begini jadinya! Paling sial gue kejebak di Schiphol atau Amsterdam Centraal yang besar, nyaman, dan banyak tokonya! Gerutu Banjar dalam hati.
Laah di Amersfort Cuma ada satu stan penjual kopi yang antreannya mirip pembagian jatah qurban di Istiqlal. Mana gue curiga si penjaga stan itu pake kumis tempelan!
Hmm. Oke, mungkin itu sedikit hiperbol.
Kumisnya boleh jadi asli, tapi gue yakin belahan rambut itu gak wajar. Jangan-jangan dia pakai wig! Wig-nya pasti buatan Purbalingga!
“Gue butuh kretek nih, kalo nggak bisa gilaaaa! Teriak alam bawah sadar Banjar yang , kok ya, kompak dengan mulutnya.
Dari kerumunan orang yang berambut blonde, brunette, dan redhead, tiba-tiba muncul seorang pemuda berkulit gelap, berambut hitam kriwil, berperawakan tinggi cungkring, dan berwajah melayu.
“Teriak-teriak malu-maluin bangsa, Kang. Abdi aya tingwe kalo mau,” seru pemuda yang tiba-tiba muncul bagai malaikat, sembari menyodorkan bungkusan kecil berwarna biru berisi tembakau dan kertas lintingan.
“Wah, makasih! Dari Indonesia juga?” Tanya Banjar sambil memungut segepok besar tembakau, lalu mulai melinting seukuran cerutu.
“Enggak, gue mah orang Islandia yang kebetulan tinggal lama di Bogor.”
“???”
“Ya, iyalah orang Indonesia! Emangnya tampang gue kurang Indonesia, apah? Eh, jangan-jangan gue punya tampang kayak orang Viking, yah? Emnag sih, dari dulu udah ngerasa kalo hidung ini mancungnya emang beda. Kayak bule, gitu.”
“ …..”
“Oh ya, belum kenalan. Wicak. Ngomong-ngomong, enggak salah tuh, Kang? bikin lintingan gede pisan?” sembari mengulurkan tangannya dengan ramah.
“Banjar,” sambil menarik jari keluar dari hidung, tak kalah ramah.
Kedua insan itu bersiap menikmati rokok linting mereka, hingga tersadarkan akan sebuah detail esensial.
“Pinjam lighter, dong.”
“ …..”
“ … .”
“Waduh, map … nggak punya, euy!”
“Yah, sama, dong …”
Kedua mulai clingak-clinguk mencari cewek pemilik lighter yang kira-kira nggak rugi buat sekalian diajak kenalan. Bagi mereka, nggak punya korek justru handicap positif untuk berkenalan dengan perempuan!
Out of the blue, muncul sebuah tenor.atu mungkin Alto. Yang jelas, cempreng.
“Alhamdulillaaaaaaah … ada juga orang Indonesia yang pas lagi blangsak begini! Lidah gue dah pegel linu ngoceh bahasa Enggris sedari tadi!”
Kedua pemuda itu saling berpandangan dan nyengir bareng. Setelah berbasa – basi sebentar, serentak keduanya menerima lebar ucapan perkenalan dari si pemilik suara, yang dengan hebatnya memiliki dua korek api gas dalam tasnya, tanpa sedikitpun tembakau di situ. Tak lama ketiganya pun bersam-sama menyalakan rokok linting hasil gibah dari Wicak.
“Makasih ya, Mas…”
“Daus, kagak usah pake mas-masan segala. Kagak pantes.”
“Oke. Thanks, Daus.”
Mereka menikmati rokok dalam diam.
Ditengah kekhusyukan merokok, terdengar sebuah suara bas. Dari nadanya seperti orang bertengkar. Suaranya terdengar memohon dan sedikit tegang. At least, kedengarannya begitu, karena mereka bertiga belum mampu memahami Nederlands yang fasih meluncur dari mulutnya. Mereka mencuri pandang kea rah si cowok misterius, terpancing rasa penasaran.
Sambil mengamati, ketiganya kegantengan si cowok misterius. Nurunin pasaran cowok-cowok disini aja, pikir mereka dalam hati. Seolah setiap perempuan single yang terjebak di tengah badai di stasiun kereta secara otomatis akan mencari cowok p-aling ganteng untuk menyegarkan pemandangan (padahal emang). Kayaknya orang Belanda blasteran ya ? dari warna rambut dan matanya yang gelap tersirat imbas gen Asia. Terdengar cowok itu sedang memohon melalui telepon selulernya.
“schaatje, alsjeblief!... Wat zeg je? Nee, lie verd. Ik kan niet … Halo? Halo?”
Pembicaraan itu terputus, dan cowok itupun mengumpat. “Verdomme!”
Ia menutup HP, kemudian terlihat sibuk merogoh tas ransel miliknya. Tampaknya ia sedamng mencari sesuatu.
Cres.
Terdengar suara gemeretak diikuti aroma yang khas yang baunya acap dibenci mayoritas kaum bule. Bau yang berasal dari rempah harum bernama kruidnagel. Rempah yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi clove, dan dalam bahasa pergaulan sehari-harian taipan Putera Sampoerna menjdai cengkih.
“Hmmmmm ….”
“Waaah itu kan bau …”
“KRETEK!!”
Tanpa disangka, si cowok misterius menoleh kea rah sumber suara-suara mupeng, alias muka pengamat.
“Kretek, Mas? Sebenarnya saja nggak ngerokok, tapi berhubung badai begini … lumayanlah buat bikin badan anget.”
Cowok itu dengan ramah menyodorkan sekotak rokok kretek yang masih penuh.
“Silakan, lho.”
Banjar, Wicak dan Daus hamper berlutut bahagia, tapi dalam hati mereka mengutuki nasib.
Yah, orang Indonesia juga.
Sialan, ganteng amat, sih jadi orang Indonesia. Makin turun deh pasaran gue.
Tapi, kalau cowok perokok kretek diberi pilihan antara gengsi dan menelan gengsi demi kesempatan mendapat rokok kretek ditengah hujan badai, tentunya itu bukan pilihan sulit.
“Makasih yah … sorry.. siapa tadi namanya?”
“Geri. Ambil lagi aja juga gak papa. Ini baru aja dibawain teman dari Indonesia.
“Wah, Ger. Thanks banget!” seru Banjar sumri8ngah.
Rokok linting segera pension diganti dengan rokok kretek pemberian Geri.
“Sialan…”
“Sedep euy…”
“Subhanallah…”
Keempatnya pun tenggelam dalam kenikamtan duniawai tiba-tiba..
“Waaaaaaaaaaaaaaaa dari Indonesia yaaa?”
Keempat cowok itu terkejut dan menoleh mencari sumber suara feminin nan ceria yang tiba-tiba muncul.
Seorang perempuan tinggi semampai, wajah cantik, rambut dikuncir dan suara ceria tanpa tedeng aling-aling langsung datang menghampiri sambil menyodorkan tangannya.
”Halo! Aku Lintang, tinggal di Leiden. Seneng banget bisa ketemu orang Indonesia di tengah badai kayak begini! Mas semua dari mana?”
Banjar yang paling cepat tanggap kalau ada “Barang bagus’ jadi orang pertama yang menyambut tangan Lintang.
“Iskandar. Gue di Rotterdam.”
“….”
“Lah, katanya nama ente banjar?” celetuk Daus.
“Oh, hehe …iya. Panggilan sih banjar. Tapi nama asli gue Iskandar.”
Yee giliran kenalan sama cewek cakep aja namanya jadi bagus, pikir Daus dalam hati.
Lintang hanya mengulum senyum.
“Daus, dari Utrecht.” Daus gentian mengulurkan tangan.
“Geri. Den Haag.”
“Wicak. Wagengingen.”
“Abis pada jalan dari mana kok bisa terdampar di Amersfort?” Tanya Lintang sambil mematikan iPod-nya. Dalam situasi gawat darurat lagi pula garing seperti ini, seasyik-asyiknya mendengar musik, jauh lebih menyenangkan punya temen ngobrol.
“Hmm. Jangankan tahu kenapa ada disni, Gue aja masih heran kenapa gue bisa terdampar di Belanda,” sahut BAnjar kalem sambil terbatuk-batuk tersedak asap.
Lintang menyengir kuda.
“Looks like we’ge got time to kill.”
Dan terjadilah sudah. Sebuah pertemuan tak disengaja yang tanpa disadari akan membelokkan jalan hidup mereka. Berkat badai, kretek dan takdir.
next : Bagian 2 ( Sabar ya )
Selasa, 15 Februari 2011
KUMPULAN PUISI MENELANJANGI DUSTA
DEBU DAN PELUH
Sosok hijau, kusam
Menapaki ruas jalan kota
Tua, renta
Bertengger tas dan dedompetan lepet
Satu demi satu, dibuka
Clik clik clik, tiruan bunyi logam
Menggelicik
Siapakah nama Dia?
Mereka tiada yang tahu!
Orang gila?
Gelandangan kah?
Atau,
Setiap hari hanya membanting tulang
Untuk menunggu umur? Sampai maut merenggut?
Apakah Dia sudah makan?
Oh…! Kejamnya alam telah memiringkan otaknya.
Panas bumi tiada henti seolah meramaikan kebisingan di telinga kanannya.
Wahai pemilik jasad renta,
Segeralah kau pulang.
Suami, anak, dan cucu cicitmu
Sudah kesal menunggu batang hidungmu kunjung.
Kesambi, 15 Oktober 2010
AKU DI MANA?
Aku belum sadar
kalau aku sekarang masih tidur.
Lalu aku saat ini berada dimana?
10 November 2010
AKU TAK TAU
Ibarat menyalakan bara
di tengah guyuran air langit
Padamkah? Atau bertahan?
Melawan kuyup yang tak terelakan
Bagaikan menampung air jernih diantara riakan kali Cisadane
Akankah tertampung? Atau tergusur arus yang tiada berkawan
Umpama padi yang tumbuh diantara tembok-tembok lapuk
Hidupkah atau tumbuh pun belum tentu?
Laksana menjaring impun dengan jari
Sejumut rizki pun tak terdapati
Aku tak tahu!
Aku
Tak
Tahu!
Masjid Gempol, 21 Oktober 2010
DOSA DAN SESAL
Aku akan dibakar hidup-hidup di neraka
15 Oktober 2010
SEDIH
Permisi
Aku harus pergi
Ada sesuatu di mataku
15 Oktober 2010
AKU TAK INGIN HIDUP ATAUPUN MATI
Hidup untuk mati
Mati untuk hidup
Namun hidup bukanlah mati
Tetapi mati bukanlah hidup
Manusia dan dunia
Dunia dan manusia
Manusia akan mati
Dunia pun ikut mati
Banyak manusia yang mati
Tetapi dunia tak pernah sepi
Banyak bayi-bayi yang lahir
Tetapi dunia akan sepi
Daun-daun yang berjatuhan di halaman rumah pun tiada habisnya
Mengapa pohon itu tidak mati?
Tetapi mati akan datang
Manusia tidak lagi hidup di dunia
Dan dunia tidak lagi hidup untuk manusia
Oh hidup mati hidup abadi
Sekarang banyak yang mati
Nanti banyak yang dihidupkan lagi
Siapakah giliran mati sekarang
Ayah kah ?
Ibu kah ?
Atau kah orang-orang dekat ?
Atau aku yang giliran mati!
Dunia tak lagi sepi!
Hidup,
Mati,
Dan hidup yang abadi
Surga atau Neraka?
Aku tak ingin hidup ataupun mati
23 Oktober 2010
MENELANJANGI DUSTA
Berujar bohong adalah dusta
Berbuat bohong adalah dusta
Berteman bohong adalah dusta
Bertuhan bohong adalah dusta
Berbohong-bohong itu dusta
Berdusta-dusta itu bohong
21 November 2010
TUMBILA DI BALIK K
Kibar berkibar bak genderang perang dipukul
Jol borojol bak air bah di timur satu
Ujar mengujar tidak sesuai kodrat
Mahkota terkunci namun hati manganga
Satu niat berubah haluan
Membawa amanat kini ditelan lenyap
Kepak sayapnya menguasai alam liar
Paruhnya mencabik anak Adam yang suci
Berlari menunggangi kuda
Menarik pelana apungkan kutu-kutu tak berharga
Geser menggeser adalah tekadnya
Bisik-membisik adalah kompasnya
Hingga kursi pun Ia gerogoti bak rayap busung lampir
Nespata, hati ini sesak
Seseorang dengan kejam telah mencabik harga dirinya sehingga hilang adat hilang moral
Ingin ku telanjangi roknya
Agar keburukannya terkuliti
Akan ku cabuti bulu-bulu di pahanya
Lantas ku biarkan burung-burung memangsa
Jujur, terbuka, adil dan tidak memihak
20 November 2010
SATE TENGAH SELANGKAKAN
Kupu-kupu malam
Malam kupu-kupu
Ini lakon kupu-kupu malam
Semula di belakang
Kini duduk bersempitkan paha-paha
Ia tidak cantik
Ia pula tidak anggun
Ia biasa saja layaknya manusia
Malam kupu-kupu
Kupu-kupu malam
Bau tubuhnya menusuk hidung
Kemanakah Dia melangkah?
Terbang sepoi melintasi selera remang.
Memang mental plastik
Apapun serba masuk.
Lantas buat apa Dia hidup?
Itu kewajibannya menikmati dosa2 tadi sore
Menjaja tubuh yang diobjekkan.
Yang penting nikmat
Yang penting sambung usia
Setes peluhnya adalah kehidupannya.
Cirebon kadipaten Geser Boss
Mari Kangen 19:32 23 November 2010
KAU BUKANLAH HAWA YANG ADAM CARI
DSSSSSSSSSS
24 10 2010
Mengubah karakter yang sudah ada itu mudah
tapi sulit dan sulit tapi mudah.
Mudah saja tetapi harus ulet, tekun, teliti dan sabar.
Sulit memang sulit.
Membuat itu lebih mudah dibandingkan dengan mengubah.
6 Oktober 2010
WAYANG WONG
Hidup segan mati tak mau
16 Oktober 2010
KUTU-KUTU IBU KOTA
di lampu merah
di tengah jalan
di trotoar
di dalam tenda
di dalam angkutan kota
di motor
di hiburan murahan
di bawah jembatan
di pagar rumah sakit
di gerbang kampus
di tepi masjid
di kuburan
di gubuk
di halaman rumah-rumah
di dalam CD
di bak mobil patroli
di pos kamling
di dalam ambulan
di sawah
di bak truk patrolidi tepi mall
di pasar tradisional
disetiap tepukannnya,
Ia bukan sampah
meski kau anggap sampah
Ia mahluk Allah
Tuan, berilah Ia rizki!
Jati Bening, 1 Desember 2010
MANUSIA SETENGAH BANGKAI
Matilah rasa
Matilah semua yang kau rasa
Kenikmatan tidur siang
Kenikmatan memancing ikan
Matamu telah kotok
Sampai mati pun tetap kotok
Telingamu lebih dari tuli
Mematikan aspirasi kutu-kutu jelata
Hidung yang bengek
Tak mampu mencium penderitaan tenda renta
Di dalam tenda itu tercium bau amis darah manusia-manusia yang tidak beruntung
Hatimu tidaklah peka
Tidak mampu merasakan betapa panas dan dinginnya tamparan alam
Tidak usah berfikir lama-lama
Apa lagi mempertimbangkan
Banting saja kursi dan penamu
Lalu usaplah iler di dagumu
Bersihkan matamu dari tidurmu
Kantin, 17 Agustus 2010
BILA ISTRI SUDAH MENGHASUT
Bisik kalbu lembut
Menyerupai angin tadi pagi
Aji sukma menuju indra
Mantra-mantra cinta yang digayem
Didesahkan lembut ke telinga kiri
Sshhh
Udara dari hidungnya begitu nyata
Deru ku sambut
Tangan kirinya mengikat setengah dada
Bibirnya mengecup irama sajak pelita
“Pah, aku ingin hidup kaya”!
Angkat kaki
Menguras peluh hingga tulang tak lagi dibanting
Tetapi ringsek
Itu
Demi ratu
Meski melangkahi mayat kedua orang tua
Meski rela memanggang saudara
Itu
Demi ratu
Ciung Wanara, 1 Desember 2010
ANGGREK MALAM
Sepoi lidah api mencakrawala di angkasa
Langitnya hitam pekat bertabur dosa
Cicak raksasa mengendus nyamuk-nyamuk got Ibu Pertiwi
Gelegar cambuk akherat dipacu
Menghias langit yang sudah bolong
Meski belum sempat aku melihat Ibu Kartini berkerudung
tetapi kebajikanmu
mampu mengalahkan nenek-nenek penyihir
di malam hari
Meski berkebaya
tetapi selimut tubuhmu
mengalahkan baju impor dari Itali
baju yang dipakai si nyai masa kini
Ibu Kartini
Ini hadir renkarnasi gerwani
Yang lebih terkutuk dari masa orde
Meski mereka tidak berkebaya
Mereka selalu memamerkan belahan dada
Yang menyerupai huruf Y
Di malam dan terang
Ibu, kembalilah
Sebelum Ki Amat meluluhkan bumi
Didiklah mereka agar patuh
Dan
Tidak dibakar hidup-hidup di neraka.
Malam tahun baru di Curug Maja 2005
Ditulis 1 Desember 2010
AKU INGIN MUNTAH
Aku ingin telanjang
Berjalan di pinggiran jalan
Lalu aku akan dikatakan orang gila
Oleh orang yang katanya waras
Padahal yang sesungguhnya gila adalah dia yang tak ingin tubuhnya terbuka
Yang selalu menyembunyikan LPJ-nya
Dibalik tudung-tudung besar
Aku ingin selalu tersenyum menangis di jalan
Berbicara ngalor ngidul di trotoar
Lalu aku akan dikatakan orang sinting
Oleh orang yang katanya sehat
Padahal yang sebenarnya sinting itu
Adalah orang yang katanya sehat
Yang selalu berbicara kemunafikan
Yang selalu menutupi dirinya dengan gerenyam-gerenyem mantra
Kapan mau terbuka?
Jangan menunggu solusi di atas toilet
Lekaslah buka jubahmu
Bersihkan dari kecoa-kecoa yang berkrliaran di kepalamu!
31 November 2010
HIBURAN SORE
Hiburan saat ini adalah wayang
Orang bilang wayang itu “hidup segan mati tak mau”
Laksana topeng monyet
Disetir oleh manusia yang berwatak menyerupai peliharaanya
Menghibur anak-anak ingusan
Demi sesuap berlian
Merasa senang karena dipuji
Merasa bangga tangan dan kakinya digerakkan olehnya
Aku merasa iba
Melihat peliharaan itu diikat oleh majikannyaDitarik-tarik untuk memainkan permainan yang tak seharusnya dimainkan
Aku merasa miris
Walaupun peliharaan itu loyo
Tetapi harus tetap menyuguhkan berlian kepada seniornya, katanya.
Aku merasa ngeri
Melihat ikatan dilehernyaTerkelupas akibat setir sang dalang
Monyet, kamu mahluk bernyawa bukan wayang
Lekas lari ke hutan
Jangan pernah lagi mau untuk menjadi babu
31 November 2010
Psssstt...
Pada tidurku aku bermimpi
Pada mimpiku ada sebuah bayangan
Sebuah bayangan itu bergerak
Entah kemana?
Rep-rep, 31 November 2010
Diam
Bukan aku tak mau datang
Tapi tetaplah jangan beranjak,
Agar kutak salah jalan
Kantin SMP, 20 September 2005
Sosok hijau, kusam
Menapaki ruas jalan kota
Tua, renta
Bertengger tas dan dedompetan lepet
Satu demi satu, dibuka
Clik clik clik, tiruan bunyi logam
Menggelicik
Siapakah nama Dia?
Mereka tiada yang tahu!
Orang gila?
Gelandangan kah?
Atau,
Setiap hari hanya membanting tulang
Untuk menunggu umur? Sampai maut merenggut?
Apakah Dia sudah makan?
Oh…! Kejamnya alam telah memiringkan otaknya.
Panas bumi tiada henti seolah meramaikan kebisingan di telinga kanannya.
Wahai pemilik jasad renta,
Segeralah kau pulang.
Suami, anak, dan cucu cicitmu
Sudah kesal menunggu batang hidungmu kunjung.
Kesambi, 15 Oktober 2010
AKU DI MANA?
Aku belum sadar
kalau aku sekarang masih tidur.
Lalu aku saat ini berada dimana?
10 November 2010
AKU TAK TAU
Ibarat menyalakan bara
di tengah guyuran air langit
Padamkah? Atau bertahan?
Melawan kuyup yang tak terelakan
Bagaikan menampung air jernih diantara riakan kali Cisadane
Akankah tertampung? Atau tergusur arus yang tiada berkawan
Umpama padi yang tumbuh diantara tembok-tembok lapuk
Hidupkah atau tumbuh pun belum tentu?
Laksana menjaring impun dengan jari
Sejumut rizki pun tak terdapati
Aku tak tahu!
Aku
Tak
Tahu!
Masjid Gempol, 21 Oktober 2010
DOSA DAN SESAL
Aku akan dibakar hidup-hidup di neraka
15 Oktober 2010
SEDIH
Permisi
Aku harus pergi
Ada sesuatu di mataku
15 Oktober 2010
AKU TAK INGIN HIDUP ATAUPUN MATI
Hidup untuk mati
Mati untuk hidup
Namun hidup bukanlah mati
Tetapi mati bukanlah hidup
Manusia dan dunia
Dunia dan manusia
Manusia akan mati
Dunia pun ikut mati
Banyak manusia yang mati
Tetapi dunia tak pernah sepi
Banyak bayi-bayi yang lahir
Tetapi dunia akan sepi
Daun-daun yang berjatuhan di halaman rumah pun tiada habisnya
Mengapa pohon itu tidak mati?
Tetapi mati akan datang
Manusia tidak lagi hidup di dunia
Dan dunia tidak lagi hidup untuk manusia
Oh hidup mati hidup abadi
Sekarang banyak yang mati
Nanti banyak yang dihidupkan lagi
Siapakah giliran mati sekarang
Ayah kah ?
Ibu kah ?
Atau kah orang-orang dekat ?
Atau aku yang giliran mati!
Dunia tak lagi sepi!
Hidup,
Mati,
Dan hidup yang abadi
Surga atau Neraka?
Aku tak ingin hidup ataupun mati
23 Oktober 2010
MENELANJANGI DUSTA
Berujar bohong adalah dusta
Berbuat bohong adalah dusta
Berteman bohong adalah dusta
Bertuhan bohong adalah dusta
Berbohong-bohong itu dusta
Berdusta-dusta itu bohong
21 November 2010
TUMBILA DI BALIK K
Kibar berkibar bak genderang perang dipukul
Jol borojol bak air bah di timur satu
Ujar mengujar tidak sesuai kodrat
Mahkota terkunci namun hati manganga
Satu niat berubah haluan
Membawa amanat kini ditelan lenyap
Kepak sayapnya menguasai alam liar
Paruhnya mencabik anak Adam yang suci
Berlari menunggangi kuda
Menarik pelana apungkan kutu-kutu tak berharga
Geser menggeser adalah tekadnya
Bisik-membisik adalah kompasnya
Hingga kursi pun Ia gerogoti bak rayap busung lampir
Nespata, hati ini sesak
Seseorang dengan kejam telah mencabik harga dirinya sehingga hilang adat hilang moral
Ingin ku telanjangi roknya
Agar keburukannya terkuliti
Akan ku cabuti bulu-bulu di pahanya
Lantas ku biarkan burung-burung memangsa
Jujur, terbuka, adil dan tidak memihak
20 November 2010
SATE TENGAH SELANGKAKAN
Kupu-kupu malam
Malam kupu-kupu
Ini lakon kupu-kupu malam
Semula di belakang
Kini duduk bersempitkan paha-paha
Ia tidak cantik
Ia pula tidak anggun
Ia biasa saja layaknya manusia
Malam kupu-kupu
Kupu-kupu malam
Bau tubuhnya menusuk hidung
Kemanakah Dia melangkah?
Terbang sepoi melintasi selera remang.
Memang mental plastik
Apapun serba masuk.
Lantas buat apa Dia hidup?
Itu kewajibannya menikmati dosa2 tadi sore
Menjaja tubuh yang diobjekkan.
Yang penting nikmat
Yang penting sambung usia
Setes peluhnya adalah kehidupannya.
Cirebon kadipaten Geser Boss
Mari Kangen 19:32 23 November 2010
KAU BUKANLAH HAWA YANG ADAM CARI
DSSSSSSSSSS
24 10 2010
Mengubah karakter yang sudah ada itu mudah
tapi sulit dan sulit tapi mudah.
Mudah saja tetapi harus ulet, tekun, teliti dan sabar.
Sulit memang sulit.
Membuat itu lebih mudah dibandingkan dengan mengubah.
6 Oktober 2010
WAYANG WONG
Hidup segan mati tak mau
16 Oktober 2010
KUTU-KUTU IBU KOTA
di lampu merah
di tengah jalan
di trotoar
di dalam tenda
di dalam angkutan kota
di motor
di hiburan murahan
di bawah jembatan
di pagar rumah sakit
di gerbang kampus
di tepi masjid
di kuburan
di gubuk
di halaman rumah-rumah
di dalam CD
di bak mobil patroli
di pos kamling
di dalam ambulan
di sawah
di bak truk patrolidi tepi mall
di pasar tradisional
disetiap tepukannnya,
Ia bukan sampah
meski kau anggap sampah
Ia mahluk Allah
Tuan, berilah Ia rizki!
Jati Bening, 1 Desember 2010
MANUSIA SETENGAH BANGKAI
Matilah rasa
Matilah semua yang kau rasa
Kenikmatan tidur siang
Kenikmatan memancing ikan
Matamu telah kotok
Sampai mati pun tetap kotok
Telingamu lebih dari tuli
Mematikan aspirasi kutu-kutu jelata
Hidung yang bengek
Tak mampu mencium penderitaan tenda renta
Di dalam tenda itu tercium bau amis darah manusia-manusia yang tidak beruntung
Hatimu tidaklah peka
Tidak mampu merasakan betapa panas dan dinginnya tamparan alam
Tidak usah berfikir lama-lama
Apa lagi mempertimbangkan
Banting saja kursi dan penamu
Lalu usaplah iler di dagumu
Bersihkan matamu dari tidurmu
Kantin, 17 Agustus 2010
BILA ISTRI SUDAH MENGHASUT
Bisik kalbu lembut
Menyerupai angin tadi pagi
Aji sukma menuju indra
Mantra-mantra cinta yang digayem
Didesahkan lembut ke telinga kiri
Sshhh
Udara dari hidungnya begitu nyata
Deru ku sambut
Tangan kirinya mengikat setengah dada
Bibirnya mengecup irama sajak pelita
“Pah, aku ingin hidup kaya”!
Angkat kaki
Menguras peluh hingga tulang tak lagi dibanting
Tetapi ringsek
Itu
Demi ratu
Meski melangkahi mayat kedua orang tua
Meski rela memanggang saudara
Itu
Demi ratu
Ciung Wanara, 1 Desember 2010
ANGGREK MALAM
Sepoi lidah api mencakrawala di angkasa
Langitnya hitam pekat bertabur dosa
Cicak raksasa mengendus nyamuk-nyamuk got Ibu Pertiwi
Gelegar cambuk akherat dipacu
Menghias langit yang sudah bolong
Meski belum sempat aku melihat Ibu Kartini berkerudung
tetapi kebajikanmu
mampu mengalahkan nenek-nenek penyihir
di malam hari
Meski berkebaya
tetapi selimut tubuhmu
mengalahkan baju impor dari Itali
baju yang dipakai si nyai masa kini
Ibu Kartini
Ini hadir renkarnasi gerwani
Yang lebih terkutuk dari masa orde
Meski mereka tidak berkebaya
Mereka selalu memamerkan belahan dada
Yang menyerupai huruf Y
Di malam dan terang
Ibu, kembalilah
Sebelum Ki Amat meluluhkan bumi
Didiklah mereka agar patuh
Dan
Tidak dibakar hidup-hidup di neraka.
Malam tahun baru di Curug Maja 2005
Ditulis 1 Desember 2010
AKU INGIN MUNTAH
Aku ingin telanjang
Berjalan di pinggiran jalan
Lalu aku akan dikatakan orang gila
Oleh orang yang katanya waras
Padahal yang sesungguhnya gila adalah dia yang tak ingin tubuhnya terbuka
Yang selalu menyembunyikan LPJ-nya
Dibalik tudung-tudung besar
Aku ingin selalu tersenyum menangis di jalan
Berbicara ngalor ngidul di trotoar
Lalu aku akan dikatakan orang sinting
Oleh orang yang katanya sehat
Padahal yang sebenarnya sinting itu
Adalah orang yang katanya sehat
Yang selalu berbicara kemunafikan
Yang selalu menutupi dirinya dengan gerenyam-gerenyem mantra
Kapan mau terbuka?
Jangan menunggu solusi di atas toilet
Lekaslah buka jubahmu
Bersihkan dari kecoa-kecoa yang berkrliaran di kepalamu!
31 November 2010
HIBURAN SORE
Hiburan saat ini adalah wayang
Orang bilang wayang itu “hidup segan mati tak mau”
Laksana topeng monyet
Disetir oleh manusia yang berwatak menyerupai peliharaanya
Menghibur anak-anak ingusan
Demi sesuap berlian
Merasa senang karena dipuji
Merasa bangga tangan dan kakinya digerakkan olehnya
Aku merasa iba
Melihat peliharaan itu diikat oleh majikannyaDitarik-tarik untuk memainkan permainan yang tak seharusnya dimainkan
Aku merasa miris
Walaupun peliharaan itu loyo
Tetapi harus tetap menyuguhkan berlian kepada seniornya, katanya.
Aku merasa ngeri
Melihat ikatan dilehernyaTerkelupas akibat setir sang dalang
Monyet, kamu mahluk bernyawa bukan wayang
Lekas lari ke hutan
Jangan pernah lagi mau untuk menjadi babu
31 November 2010
Psssstt...
Pada tidurku aku bermimpi
Pada mimpiku ada sebuah bayangan
Sebuah bayangan itu bergerak
Entah kemana?
Rep-rep, 31 November 2010
Diam
Bukan aku tak mau datang
Tapi tetaplah jangan beranjak,
Agar kutak salah jalan
Kantin SMP, 20 September 2005
Jumat, 28 Januari 2011
29/01/11
Kisah cinta dunia maya yang membuat ku hampir setengah gila...
jarak yang jauh bukan alasan untuk kita tidak bisa bertemu..
I Miss U Djoub...
jarak yang jauh bukan alasan untuk kita tidak bisa bertemu..
I Miss U Djoub...
Langganan:
Postingan (Atom)




