:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: Poem's, Lyric & Story

.......

JAngan Pernah Melupakanku

~.~

My Blog

Tempat Share orang2 yang suka nulis n membaca, Tapi maaf ga bisa di Copy...

Ramalan Jodoh

Jumat, 15 April 2011

"Astagfirullahal adziem, Ibu." aku tidak percaya ibu akan berkata seperti itu, dalam hati aku membatin, ibu berkata padaku suatu hari, "nak, jangan terburu-buru engkau menikah." untuk pernyataan yang ini aku bisa mengerti maksud ibu, tapi saat aku bertanya kenapa, betapa aku terkejut mendengar jawaban Ibu, Ibu berkata padaku, "Ibu belum siap sakit hati untuk yang kesekian kalinya nak."

aku terkejut saat ibu berkata 'Sakit Hati', dan aku saat itu tidak mencerna dengan baik yang ibu maksud, sehingga aku kurang mengerti apa hubungannya 'Sakit Hati' dengan peringatan agar aku tidak terburu-buru menikah.

setelah lama aku berfikir, akhirnya sampai juga aku pada suatu pertanyaan, aku bertanya pada Ibu.

"Apa ada hubungannya dengan Kakak ipar perempuan saya itu Bu?"

ibu malah menangis tidak menjawab tanyaku, tetapi cukup sudah isak tangis ibu itu menjadi jawaban untuk pertanyaanku, aku sadar ipar perempuanku itu memang kurang bisa menempatkan diri dan menjaga sikap ditengah keluarga kami, pendidikannya yang tinggi ternyata tidak menjaminnya memiliki perilaku yang baik, aku masih ingat dulu saat belum menjadi iparku sosoknya baik dan bahkan ibu pun memuji-mujinya, tetapi kini berubah 180 derajat, harapan ibu hilang sirna, dulu ibu berita-cita memiliki mantu perempuan yang bisa diajaknya buat tempat bercerita, sebagai tempat ibu berkeluh kesah, semuanya hanya impian belaka..

ibu berfikiran iparku akan menjadi seperti dirinya, yang juga seorang mantu tetapi bisa menempatkan diri dan mejaga sikap ditengah keluarga Bapak. tetapi tidak, iparku selalu mencari muka dihadapan abang ku, dan iparku itu pandai berkata, lain orang lain bicara, sejak itu aku benci pada perempuan pembohong, yang membuat ibu sakit hati adalah sikap iparku yang selalu membanding-bandingkan kelurganya dengan keluarga kami keluarga ibu, ibu merasa terhina, kami memang keluarga yang sederhana, abangku mustinya sadar akan itu, tetapi nyatanya tidak. mengalah pada isteri seperti itu hanya akan membawa tekanan batin dalam hidup, aku tidak ingin ibu memiliki trauma menantu perempuan


kisah sejati : Ibuku trauma mantu perempuan

"Astagfirullahal adziem, Ibu." aku tidak percaya ibu akan berkata seperti itu, dalam hati aku membatin, ibu berkata padaku suatu hari, "nak, jangan terburu-buru engkau menikah." untuk pernyataan yang ini aku bisa mengerti maksud ibu, tapi saat aku bertanya kenapa, betapa aku terkejut mendengar jawaban Ibu, Ibu berkata padaku, "Ibu belum siap sakit hati untuk yang kesekian kalinya nak."

aku terkejut saat ibu berkata 'Sakit Hati', dan aku saat itu tidak mencerna dengan baik yang ibu maksud, sehingga aku kurang mengerti apa hubungannya 'Sakit Hati' dengan peringatan agar aku tidak terburu-buru menikah.

setelah lama aku berfikir, akhirnya sampai juga aku pada suatu pertanyaan, aku bertanya pada Ibu.

"Apa ada hubungannya dengan Kakak ipar perempuan saya itu Bu?"

ibu malah menangis tidak menjawab tanyaku, tetapi cukup sudah isak tangis ibu itu menjadi jawaban untuk pertanyaanku, aku sadar ipar perempuanku itu memang kurang bisa menempatkan diri dan menjaga sikap ditengah keluarga kami, pendidikannya yang tinggi ternyata tidak menjaminnya memiliki perilaku yang baik, aku masih ingat dulu saat belum menjadi iparku sosoknya baik dan bahkan ibu pun memuji-mujinya, tetapi kini berubah 180 derajat, harapan ibu hilang sirna, dulu ibu berita-cita memiliki mantu perempuan yang bisa diajaknya buat tempat bercerita, sebagai tempat ibu berkeluh kesah, semuanya hanya impian belaka..

ibu berfikiran iparku akan menjadi seperti dirinya, yang juga seorang mantu tetapi bisa menempatkan diri dan mejaga sikap ditengah keluarga Bapak. tetapi tidak, iparku selalu mencari muka dihadapan abang ku, dan iparku itu pandai berkata, lain orang lain bicara, sifat bohongnya seiring waktu semakin ia tampakkan, sejak itu aku benci pada perempuan pembohong, yang membuat ibu sakit hati adalah sikap iparku yang selalu membanding-bandingkan kelurganya dengan keluarga kami keluarga ibu, ibu merasa terhina, kami memang keluarga yang sederhana, tetapi tidaklah bijaksana seorang ipar berlaku begitu, abangku mustinya sadar akan itu, tetapi nyatanya tidak, mengalah pada isteri seperti itu hanya akan membawa tekanan batin dalam hidup.

aku tidak ingin ibu memiliki rasa trauma terhadap menantu perempuan, karena tidak semuanya seperti itu, karena kelak akupun akan mendatangkan mantu untuk ibu, aku bersumpah untuk mencari seorang pendamping yang bisa mengerti Ibu, menyayangi ibu, sebagaimana dirinya menyayangiku.

semoga allah membuka mata hatimu, iparku.



ditulis oleh,

Kamis, 14 April 2011

Rabu, 13 April 2011

KEHILANGAN

Tersenyumlah saat kau mengingatku
karena saat itu aku sangat merindukan mu
dan menangislah saat kau merindukanku
karena saat itu aku tak berada di sampingmu

tetapi

pejamkanlah mata indah mu itu karena saat itu aku akan terasa ada didekat mu,
karena aku telah berada dihati mu untuk selamanya

Tak ada yang tersisa lagi untukku
selain kenangan-kenangan indah bersama mu
mata indah yang dengannya aku biasa melihat keindahan cinta
mata indah yang dahulu adalah miliku

kini semuanya terasa jauh meninggalkan aku
kehidupan terasa kosong tanpa keindahan mu
Hati, Cinta, dan rindu adalah milik mu
cinta mu tak kan pernah membebaskanku

bagaimana mungkin aku terbang mencari cinta yang lain saat sayap-sayapku
telah patah karena mu
cintamu akan tetap tinggal bersamaku
hingga akhir hayatku dan setelah kematian
hingga tangan tuhan akan menyatukan kita kembali

betapapun hati telah terpikat kepada sosok terang dalam kegelapan
yang telah menghidupkan sinar redupku
namun tak dapat menyinari dan menghangatkan perasaan ku yang sesungguhnya

aku tidak pernah bisa menemukan cinta yang lain selain cinta mu
karena mereka tidak tertandingi oleh sosok dirimu dalam jiwaku
kau tak kan pernah terganti bagi pecahan logam mengekalkan
kesunyian, kesendirian, dan kesedihan ku

kini aku telah kehilanganmu...

Jika Kau Tahu, Sesungguhnya...

Aku sayang kamu itu tulus, aku cinta kamu itu tulus,

awalnya aku tidak tahu mengapa aku bisa mempunyai rasa seperti itu, mungkin begini jalan hidup yang musti kulalui. jujur, aku ini adalah seorang laki-laki yang boleh dibilang dingin terhadap mahluk yang sering disebut wanita, sikap ku seperti itu semata-mata karena kekecewaanku terhadap wanita yang ku sayang yang akhirnya dimilik orang.

awal perkenalan, terasa biasa-biasa saja tetapi waktu demi waktu bincang demi bincang yang telah dilalui memaksa hati untuk mengambil kesimpulan bahwa hati ini tenang bila mendengarkan suaramu, hatiku yang dulu kaku kini menjadi lunak oleh syair lembut bibirmu, aku kagum dan aku nyaman dengan adanya dirimu, walaupun kau maya, tapi perasaanku merespon peka, aku seakan menemukan kembali cahaya cinta yang dulu pernah padam semenjak hadirnya dirimu, aku yang pernah terjatuh mencoba untuk bangkit, dan berharap kaulah pelabuhan hati yang selama ini terombang-ambing derita,

menyayangi itu bukankah perbuatan mulia, bukanlah itu sebuah dosa, sehingga aku tida bosan menungucapkan dan berulangkali aku katakan, dan dirimu pun seakan tidak mengabaikan itu, hari-hariku semakin ceria sebelum suatu ketika dirimu berkata, "Maafkan aku, sebenarnya aku sudah punya pacar." seketika itu duniaku seperti gulita, aku tak sanggup mendengarnya, hati hancur,namun selalu aku tutupi perasaanku ini demi menjaga perasaanmu.

sejak awal, dirimu memang hanya ingin menyenangkan hatiku saja, tidak ada niatan sedikitpun serius darimu, kejujuranku selama ini kau balas dengan kebohongan, kalau ku tau ini dari awal, pastinya tidak akan aku menaruh harapan padamu sayang, hatiku sudah terlanjur menyayangimu.

hidup harus tetap kulalui,
dirimu tetap yang terbaik untukku..

Aku masih seperti yang dulu
menunggumu sampai akhir hidupku
kesetianku tak akan luntur
hatiku telah berkorban demi keutuhan kau dan aku

biarkanlah aku memiliki
semua cinta dihatiku
apapun kan aku berikan
cinta dan kerinduan
untukmu dambaan hatiku

malam ini tak ingin aku sendiri
kucari damai bersama bayanganmu
hangat pelukan yang masih kurasa
kau kasih kau sayang

Selasa, 12 April 2011

Puisi Untuk Bibi

Bibi
kami tahu hari itu
adalah hari yang paling berat bagimu

saat orang yang selalu mendampingi,
menemani dan melindungi
harus pulang
kembali kepada yang telah menciptakan

Bibi
tidak usah bersedih
tabahkan hati serahkan diri
karena semua pasti akan kembali

Bibi
bukankah bibi sangat sayang pada paman?

maka ihlaskan lah,

tugas paman telah selesai
telah selesai tugasnya sebagai khalifah didunia ini
mudahkanlah jalan paman menuju illahi Rabb
dengan keihlasan hati dan do'a yang tulus

paman tentunya akan tersenyum tenang
melihat orang yang yang tersayang
bisa mengihlaskannya

Bibi

paman adalah orang baik
figur yang baik
beliau bukan hanya sosok paman dimata kami
tetapi juga, kawan dan ayah
yang bisa mengerti kami

kami pasti akan selalu merindukan
saat-saat itu lagi
saat canda dan tawa
bersama paman

Bibi
kenanglah semua yang telah paman titahkan

"Kebaikan seseorang akan selalu harum terkenang, walau jasadnya telah terbujur menjadi bangkai"

kami selalu ada Bibi
Ponakanmu :)

Jumat, 08 April 2011

BARIDIN CINTA YANG NELANGSA (NOMINASI LEGENDA DAERAH - PARADE DONGENG ANAK NUSANTARA 2011)

Prolog :

Cerita rakyat Cirebon, tentang cinta tulus seorang pemuda terhadap gadis idaman hatinya, namun terhalang oleh orang tua si pujaan hati hanya karena ia tidak memiliki harta dan orang yang tidak berpunya, namun besarnya cinta mereka telah mengalahkan semuanya, rasa cinta yang begitu besar telah membutakan hati dan pikiran, dan akhirnya kematianlah yang menyatukan cinta suci mereka.


***
Alkisah, Jagapura nama sebuah kampung pesisir pantai di Cirebon, tinggallah seorang pemuda bernama Baridin, ia tidak tampan tidak juga buruk rupa, penampilannya biasa-biasa saja, ia bukan pengangguran tetapi tidak memiliki pekerjaan kesehariannya hanya dihabisnya melamun, bermain-main dipesisir menghabiskan waktu. namun dia memiliki kharisma yang membuat setiap gadis dikampungnya menyukai dirinya, karena Baridin pemuda yang pandai dalam memainkan alat musik suling dan kitar.

Seperti biasa setiap sore hari Baridin selalu memainkan alat musiknya di pesisir pantai utara, dia memiliki seorang kawan karib bernama Gemblung, bersama Gemblunglah Baridin menghabiskan hari-harinya, sifatnya yang ramah yang membuat Baridin disegani pemuda-pemuda lain dan disukai gadis-gadis kampungnya, tetapi sayangnya Baridin dibenci oleh para orang tua, para orang tua gadis-gadis itu takut bahkan selalu memperingatkan anak gadisnya untuk tidak terlalu akrab dengan Baridin.

Baridin sendiri telah mengetahui bahwa dirinya tidak disukai para orang tua gadis dikampungnya, tetapi sikapnya yang masa bodo dan selalu ramah terhadap sesama semakin membuatnya jadi idola, sebenarnya diam-diam Baridin telah menyimpan rasa pada seorang gadis di kampungnya, gadis itu bernama Ratminah, Ratminah putri tunggal seorang tulak yang sawahnya berbahu-bahu, Juragan Dam dan Nyai Wangsih itu adalah panggilan orang-orang kampung kepada orang tua Ratminah, Juragan Dam dan Nyai Wangsih memanglah orang yang disegani orang-orang, tetapi bukan karena sifatnya yang baik, mereka disegani karena perangainya yang sombong, berbeda sekali dengan Ratminah putrinya yang ramah dan sangat merakyat.

Juragan Dam bukan sekali dua kali menasehati Baridin untuk tidak mendekati putrinya, namun Baridin tidak bergeming pada pendiriannya, Baridin bukannya tidak punya telinga dan tidak punya otak, hanya saja pendirian Baridin yang tetap ngotot, ia tidak peduli orang tua Ratminah bicara apapun tentangnya, yang dipikirannya hanya Ratminah, dan Ratminah pun ternyata membalas rasa cinta Baridin.

Singkat kisah, Baridin dan Ratminah pun saling memadu kasih, walau tanpa sepengetahuan kedua orang tua Ratminah, Juragan Dam dan Nyai Wangsih. Orang-orang kampung sudah mengetahui hubungan mereka yang sudah kian dekat, orang-orang kampung merestui hubungan keduanya bahkan mereka menutup-nutupi hubungan mereka dari pantauan Juragan Dam dan Nyai Wangsih.

Namun naas kabar kedekatan Baridin dan Ratminah akhirnya sampai juga ketelinga Juragan Dam dan Nyai Wangsih, malang tak dapat disanggah untung tak dapat diraih, saat Baridin dan Ratminah sedang duduk-duduk berdua di pinggiran tambak, Juragan Dam beserta Istrinya Nyai Wangsih tiba-tiba datang dan menghardik, Ratminah bergetar seluruh tubuhnya ia sendiri ditarik paksa oleh Nyai Wangsih, tidak cukup sampai disitu Baridin pun harus menerima kenyatan dihujat habis-habisan oleh Juragan Dam,

“Hei Baridin, kamu itu dungu apa tuli, apa otakmu sudah tidak bisa berpikir lagi, sudah berulangkali aku peringatkan, jangan pernah dekati Ratminah.”

“Kenapa tidak boleh, kami saling menyayangi?” Baridin memotong ucapan Juragan Dam.

“Apa Baridin, coba kamu ulangi sekali lagi ucapanmu, berani benar kamu berbicara begitu, tidak sadarkah kamu sedang berhadapan dengan siapa? Baridin, sekali lagi kuperingatkan, jangan pernah lagi kamu dekati putriku, dasar pengangguran, hidup luntang lantung kayak pengemis, dan kamu ngomong soal sayang padaku tadi, o..o tidak Baridin, kamu hanya akan menyengsarakan anakku saja, dan ingat Baridin !! Ratminah bulan depan akan ku kawinkan dengan Putera Juragan Tulak dari Seberang. Kami orang terpandang di kampung ini, tidak sembarang orang bisa masuk dalam kehidupan kami. Awas sekali lagi kamu nekat mendekati Rahminah, Hekk.” Sambil menggariskan telunjuknya dileher.

Baridin hanya bisa tertunduk lesu, hatinya berkecamuk, disatu sisi ia ingin melawan tetapi disisi lain Baridin merasa memang dirinya tidak pantas untuk bisa bersanding dengan Ratminah, hari-hari Baridin kini dihabiskan dengan melamun sepanjang hari, orang-orang hanya bisa mengasihani melihat keadaan Baridin, mereka memaklumi mengapa Baridin menjadi seperti itu tetapi apa daya, orang-orang kampung pun selama ini menggantung hidupnya dari Juragan Dam, mereka menjadi buruh di sawah dan tambak milik Juragan Dam.

“Din, rasa sayangmu pada Ratminah, rupanya sudah mentok sampai ke ubun-ubun, awas Din jangan sampai lepas dari ubun-ubun, kalau lepas bisa-bisa kamu gila.” Gemblung mencoba menghibur Baridin.

“Din, sebagai sahabatmu aku turut prihatin, tapi Din, kamu tidak bisa selamanya seperti ini, Din kalau kamu memang benar-benar cinta dan sayang pada Ratminah, pergilah ke seberang sana, disana ada seorang pertapa yang kesaktiannya tidak diragukan lagi, semoga beliau bisa menolongmu.”

Baridin bangun dari tempat duduknya, “Mblung, malam ini juga aku akan temui pertapa itu, Juragan yang sombong ingat ini aku Baridin, jangan pernah salahkan aku karena anakmulah yang tergila-gila padaku.” Tatapan yang nanar penuh kesumat, lalu Baridin pun pergi.

“Din, tunggu.” Gemblung coba mencegah, namun sia-sia.

Baridin sudah membulatkan tekad dalam hati bahwa dirinya harus bisa mendapatkan Ratminah bagaimanapun caranya, bila dirinya tidak bisa mendapatkan Ratminah, maka orang lain pun tak akan pernah bisa memilikinya.

Setelah berjalan sehari semalam menembus alas yang luas, disiang yang terik dan dimalam yang dingin, akhirnya Baridin sampai disebuah Guha, Baridin belum tahu berapa lama lagi dirinya harus berjalan untuk bertemu Pertapa sakti itu, karena hari sudah mulai malam maka Baridin memutuskan beristirahat di dalam Guha tersebut, ia mengambil air dari mata air yang mengalir di sekitar Guha, disaat Baridin sedang menikmati air untuk melepas dahaga dirinya merasa ada seseorang yang menguntitinya, Baridin pun sontak berkata.

“Siapa gerangan sebenarnya yang menguntit ku, jika kau bangsa manusia keluarlah, jika kau bangsa jin, maka sampaikan maksud kedatanganku kepada pertapa sakti bahwa aku sedang membutuhkan pertolongannya.”

Tiba-tiba Guha bergetar,

“Hei Baridin, berani sekali kamu datang ketempatku, akulah orang yang kamu cari, aku telah tahu apa maksud kedatanganmu, aku bisa membantumu asal kau bisa menjalankan syarat-syaratnya.” Suara itu lalu menghilang. Baridin lalu menundukan badannya, “baik eyang saya akan menuruti segala perintah eyang, asalkan hajat saya dapat terkabul.” Jawab Baridin.

“Dengarkan baik-baik, kamu harus tapa geni di Guha ini selama 40 hari 40 malam, sambil merapalkan mantera pengasihan ini Baridin.” Terdengar kembali suara tanpa sosok di dalam Guha.

Baridin menghening, lalu terdengar …


“Niat ingsun ngemat ceg si ajiku semar mesem grajag grejeg klyue ki semar ireng, aji pengasian kang ora ono tombone ora ono wong bagus jobo aku, ora bisa turu yen durung ketemu aku, yen ketemu turu tange’no yen ketemu tange’ adegno, yen ketemu ngadeg lako’no, urung mlungkung kurun edan lan gendeng yen durung ketemu aku, sido atot katut manuk perkutut si jabang bayine, kun fayakuun saking kersaning gusti allah.”


Baridin mendengar dengan sangat seksama, dan dirinya merasa telah bisa untuk mengamalkannya, “Baik eyang, saya akan penuhi syarat dari eyang.”

“Bagus Baridin, dihari ke empat puluh mu nanti, orang yang kamu tuju akan sangat tergila-gila padamu, jika tidak percaya coba buktikan, di 3 hari pertama kamu amalkan mantera ini, orang yang kamu tuju akan selalu gelisah, dan jika disertai dengan dendam kesumat dalam mengamalkan ajian ini, maka kurang dari 7 hari kamu amalkan mantera ini, orang yang dituju bisa bisa lupa ingatan dan hanya akan menyebut-nyebut namamu.” Suara itu lalu menghilang.

Baridin pun lalu mengambil posisi untuk memulai merapal mantera, sementara itu dikampung orang-orang sibuk hilir mudik mempersiapkan segala macam kebutuhan hajatan, karena seminggu lagi Juragan Dam akan menikahkan Ratminah putrinya.

Orang-orang kampung akhirnya mulai menyadari bahwa Baridin telah tiada diantara mereka, dalam benak mereka saling bertanya satu sama lain, kemanakah Baridin, mereka hanya berpikir mungkin Baridin sedang menenangkan pikiran, dan mencoba untuk mulai membiasakan diri menjauh dari Ratminah, dan sangat tidak mungkin Baridin ada disini untuk bisa melihat kenyataan Ratminah bersanding dengan pemuda lain.

Hari kedua sudah Baridin jalani dan dirinya masih khusyuk merapal mantera dalam tapa geninya, matanya terpejam mulutnya tertutup rapat, hanya hati dan pikirannyalah yang hidup, tertuju pada satu tujuan.

Ratminah,

Dan malam ini orang-orang kampung sedang bersenang-senang, karena Juragan Dam menyewa Sintren 3 hari 3 malam berturut-turut sebelum perayaan perkawinan Ratminah, tetapi Ratminah sendiri menangis tersedu-sedu didalam kamarnya, tangisnya terdengar oleh Nyai Wangsih, Nyai Wangsih pun kebingungan melihat tingkah Ratminah yang menjadi tertutup dan lebih senang berdiam diri, sesekali menangis sendiri, lalu tersenyum-senyum. Keadaan ini membuat Juragan Dam dan Nyai Wangsih resah, dan malam ini adalah malam terakhir Ratminah dalam asuhan Juragan Dam dan esok ia sudah harus dikawinkan berarti Ratminah akan dibawa ke seberang bersama suaminya, akan tetapi keadaan Ratminah semakin kacau, ia masih sesegukan, pelan, sangat pelan suara tangisnya.

Didalam Guha, Baridin semakin Khusyuk merapal mantera, ini adalah malam ke 7 nya, tidak bergeming sedikitpun dari posisi semula, fikiran tetap tertuju pada Ratminah, dan Baridin mulai merasa bahwa Ratminah mulai merasakan efek manteranya, ingin ia sudahi, tetapi kini timbul sifat serakah dihatinya Baridin tidak hanya puas telah membuat Ratminah menggilainya, tetapi juga dendamnya semakin membara dihatinya ia membayangkan Juragan Dam yang menghinanya dan dirinya menginginkan agar Juragan Dam bisa bersembah memohon ampun padanya.

Sudah beberapa orang pintar yang didatangkan oleh Juragan Dam dan Nyai Wangsih demi mengembalikan keadaan Ratminah Putrinya, tetapi setiap orang pintar yang dipanggil hanya bisa menggelengkan kepala, dan memberi jawaban yang sama, hanya orang yang telah mengerjainya yang bisa menyembuhkannya, rencana perkawinan pun gagal.

Juragan Dam dan Nyai Wangsih mulai berpikir tentang Baridin, dirinya sadar Baridinlah yang telah membuat putrinya menderita, Juragan Dam lalu memerintahkan orang-orangnya untuk mencari dimana Baridin, tetapi 2 minggu sudah mereka mencari namun pulang dengan tangan hampa.

Selama ini Juragan Dam menutup-nutupi keadaan Ratminah yang menderita kelainan jiwa, namun akhirnya orang-orang kampung mengetahui keadaan tersebut, dan gemparlah seluruh kampung mengetahui kabar bahwa Ratminah gila. Juragan Dam tidak dapat menutupi rasa malunya, namun dirinya tidak pernah merendahkan diri dan tetap meyombongkan diri, lama kelamaan seluruh harta Juragan Dam habis untuk membiayai pengobatan Ratminah, dan akhirnya Ratminah dibiarkan liar, kondisi mengharukan, disela bibirnya, terucap “ Kang Baridin.. Kang Baridin.” Orang-orang kampung tidak ada lagi yang mau berhubungan dengan Juragan Dam.

Juragan Dam kini tidak ubahnya sampah dimata orang-orang kampung Juragan Tulak yang sawah berbahu-bahu dan tambak berhektar-hektar kini telah melarat, Nyai Wangsih akhirnya meninggal setelah tidak mampu menerima kenyataan hidup yang pahit, Juragan Dam kini tertunduk ingin rasa dirinya meminta maaf pada Baridin, namun Baridin dirinya tidak tahu dimana.

38 hari sudah Baridin melaksanakan lelakunya, dirinya sudah mulai goyah, 38 hari tanpa makan dan air, hari ke-39 kondisi Baridin semakin lemah, tetapi dirinya masih merapalkan manteranya, dan bertepatan dengan tanggal 15 saat bulan sedang terang Baridin menyelesaikan rapalannya, dirinya tersenyum dan berkata “Ratminah, kematianlah yang akan menyatukan kita.” Karena kondisi fisik yang begitu lemah akhirnya Baridin menghembuskan nafas terakhir sesaat setelah amalan yang ia kerjakan selesai.

Selang beberapa hari setelah itu orang-orang kampung menemukan Ratminah pun meninggal.


Note : Makam Ratminah dan Baridin berada di Desa. Jagapura Kab. Cirebon

Makam Baridin sering dijadikan untuk ngalab berkah.

Pelajaran yang bisa diambil :

* Jangan pernah menilai seseorang dari segi materi, materi kadang bisa membuat orang lupa, lupa akan pribadi yang baik yang seseorang miliki.
* Kodratnya cinta itu tidak bisa dipaksakan.
* Jangan pernah tinggi hati

Seseorang yang berniat baik pun akhirnya bisa berbuat nekat, karena pada dasarnya kesabaran manusia itu ada batasnya, dan hanya orang-orang yang selalu berpikiran jernih yang bisa memanfaatkan keterbatasan kesabaran yang dimilikinya.



07/04/11
penulis by Cokky_Baelah